
Sepanjang wahana permainan tiada henti Rizkiya selalu ribut dengan Kenzo, yah mereka saat ini seperti kucing dan tikus.
Saat setibanya di taman bermain, Rizkiya segera menarik tangan Kenzo, niatnya Rizkiya tak ingin menganggu waktu antara Alzam dan Azkia namun tentu saja harus mengorbankan Kenzo untuk mengikuti rencana wanita itu.
Sejak mereka terpisah dengan kedua insan yang sedang berada dalam asmara, Rizkiya mengajak Kenzo untuk terus bermain hal yang aneh. Beberapa kali Kenzo menolaknya namun Rizkiya merengek seperti anak kecil jika Kenzo tidak menuruti keinginannya.
" Lo bisa enggak tenang sebentar! Gua pengen Istirahat! Kalau bukan karena gua menjaga Alzam di sini gua enggak akan di tempat ini!," Ujar Kenzo menatap Rizkiya yang berada di hadapannya.
Seperti yang kalian tau Rizkiya bukan wanita yang seperti wanita pada umunya, Rizkiya malah tersenyum lalu tertawa mendengar ucapan Kenzo.
Rizkiyah tanpa rasa takut meniru gaya Kenzo yang marah seperti kulkas dingin dua pintu.
Melihat itu Kenzo merasa sangat kesal, ingin rasanya pria itu melempar Rizkiya sejauh mungkin dari dirinya saat ini.
Belum lama Rizkiya mengejek Kenzo, dering ponsel Rizkiya berdering. Wanita itu segera mengangkat panggilan telfonya.
Kenzo yang mendengar Rizkiya mengangkat telfon, pria itu sedikit melirik kearah Rizkiya.
" Pacar gua!" Seru Rizkiya tentu saja membuat Kenzo memalingkan wajahnya memandang ke arah lain.
Hampir 5 menit akhirnya Rizkiya mematikan sambungan telfonya.
" Hei pria dingin! Gua balik duluan yah, ada urusan dengan pacar gua! Gua titip Azkia, awas sepupu Lo apa-apain teman gua ! Gua sikat kalian berdua!," Ancan Rizkiya menatap tajam ke arah Kenzo saat ini.
" Baguslah! Hidup gua bisa lebih tenang!," Jawab Kenzo.
" Dasar cowok dingin gua sumpahi Lo jadi perjaka tua! Wleee..! Ujar Rizki sambil menjulurkan lidahnya lalu kabur meninggalkan Kenzo yang kesal saat wanita itu mengejeknya.
" Dasar wanita aneh!" Gumam Kenzo. Pria itu menatap punggung Rizkiya yang sudah berlalu pergi dengan beberapa pengawal pribadinya.
Yah, Rizkiya selalu pergi membawa beberapa pengawalnya mengingat dia adalah seorang anak tunggal dari konglomerat.
__ADS_1
🍂🍂🍂🍂
Sementara di tempat lain, bagaikan bunga yang bermekaran sejak tadi itulah yang di alami oleh Alzam dana Azkia. Berbagai wahana sudah mereka mainkan.
Alzam juga saat ini lebih menggunakan masker karena ia tak ingin identitasnya membuat suasana permainan menjadi canggung apalagi dirinya saat ini berada di luar rumah walau berbagai pengawal sudah berada di sekitar Alzam dalam bentuk penyamaran agar Azkia merasa tak canggung dengannya.
Sampai saat mereka main sebuah wahana bianglala yang begitu besar d bersinar paling terang.
Mereka berdua segera menaikinya. Sepanjang permainan di mulai, Azkia merasa begitu takjub apalagi melihat pemandangan kota pada malam hari begitu indah dengan hiasan berbagai macam lampu yang menyinari kota saat ini.
" Apa kau menyukainya?," Tanya Alzam.
" Aku sangat menyukainya! Sungguh indahn terimakasih sudah mengajakku ke sini!," Ujar Azkia yang duduk di hadapan Alzam saat ini.
", Syukurlah kamu menyukai nya!" Ujar Alzam. Lalu keheningan terjadi di antara keduanya.
Azkia yang benar-benar menikmati keindahan tidak nebyadarybahwa dirinya saat ini di tatap oleh Alzam sejak tadi tanka mengedipkan matanya.
" Azkia!," Panggil Alzam.
Azkia menolehkan kepalanya menatap Alzam saat namanya di panggil oleh pria itu.
" Iya!," Sahut Azkia.
" Aku ingin membicarakan sesuatu! Hmm!," Ucap Alzam seidkit gugup. Pria itu membuka maskernya lalu menatap mata Azkia begitu dalam.
Tangan Alzam bereaksi tanpa aba-aba langsung meraih tangan milik Azkia begitu lembut.
Azkia yang ikut kaget hanya bisa terdiam saat tangannya di sentuh Alzam. Jantung Azkia yang sebenarnya berdetak begitu cepat kini sudah tidak terkontrol. Padahal sejak tadi Azkia berusaha untuk mengontrolnya.
" Azkia!" Panggil Alzam kembali. Tatapan kedua mata itu saling bertemu. Tak ada ucapan Kalimay apapun tapi sepertinya mata mereka saat ini skng berbicara.
__ADS_1
" Azkia,maaf jika ini terlalu cepat buat mu! Khm..! Azkia -!," Belum sempat Alzam menyelesaikan kalimatnya, Azkia melepaskan tangannya dari genggaman Alzam saat ini.
Wanita itu tersenyum, namun alzam dapat melihat beningan air mata sudah menumpuk di pelupuk mata Azkia saat ini.
" Jangan mengatakannya! Aku ingin hubungan kita seperti ini! Aku merasa nyaman dengan mu seperti ini Alzam!," Ujar Azkia. Wanita itu menolehkan kepalanya kearah samping seakan berusaha menahan sesuatu yang menyesakkan dadanya.
" Kenapa aku tidak bisa mengatakannya?," Tanya Alzam.
Azkia terdiam saat Alzam menanyakan hal itu padanya. Azkia tak ingin mengatakan hal apapun, wanita itu tak sekalipun menatap mata Alzam saat ini.
" Aku tau Azkia! Semua latar belakang mu, maaf aku mencari tau tentang mu secara diam-diam!" Ujar Alzam tentu membuat Azkia begitu terkejut.
Wanita itu berbalik kembali menatap Alzam. Air mata yang sejak tadi Azkia tahan menetes begitu saja membahasi pipinya.
" Kenapa! Kenapa kau meakuyl itu di belakangku?," Tanya Azkia dengan rasa kecewa. Selama ini Azkia berusaha untuk menutupi semuanya, berdamai dengan dirinya.
Namun, Alzam dengan begitu saja mencari latar belakang Azkia tanpa sepengetahuan wanita itu.
" Maaf....!"
Bersambung...
Jangan lupa untuk:
👍 Like
💬 Komentar
❤️ Favorit
🎟️ Vote
__ADS_1
🥀☕ Berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini