
Alzam sudah bersiap rapi menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tak pernah berhenti untuk tersenyum. Lelaki itu merapikan rambutnya lalu memakai masker untuk menutupi wajahnya. Setalah itu ia mengambil tasnya lalu segera keluar menuju meja makan.
Kenzo dan Abraham saling menatap saat melihat Alzam sangat berbeda. Alzam yang dulu menyantap sarapannya dengan wajah dingin kini sudah berubah. Apakah sinar matahari sudah sampai di kutub hingga mencairkan pegunungan es yang selama sepuluh tahun ini membeku.
" Apa dia baik-baik saja?," Tanya Abraham.
" Sepertinya aman Paman, tapi baguslah bukan kha ini suatu peningkatan bagi Alzam!," Sahut Kenzo pelan lali menyantap kembali sarapannya.
" Alzam bagaimana dengan kaki mu! Semalam kata para pelayan kaki mu di perban!," Ujar Abraham.
" Kaki Alzam! Udah enggak apa-apa! " Jawab Alzam santai.
Abraham tersenyum mendengar jawaban Alzam. Dalam hati lelaki itu sangat bahagia melihat perubahan Alzam yahh sudah mulai tersenyum walau entah itu akan bertahan berapa lama.
Kanzo dan Alzam lalu berpamitan setelah menyantap sarapan pagi mereka. Sepanjang perjalanan alzam melirik ke arah Kenzo yang sedang menyetir. Lelaki itu ingin menanyakan sesuatu tapi sedikit ragu.
" Ada apa Alzam? Sejak tadi kau selalu melirik ke arah ku! Apa ada yang ingin kau bicarakan?," Tanya Kenzo.
" Enggak ada! Aku hanya melihat cara bagaimana kau menyetir!," Ujar Alzam berbohong.
" Apa sekarang kau mulai tertarik untuk belajar mengemudi!?," Tanya Kenzo kembali melirik sekilas ke arah sepupunya itu.
" Tidak terima kasih!" Balas alzam singkat lalu menarik ponselnya untuk mengecek sesuatu. Kenzo yang mendengar jawaban sepupunya sudah seperti biasa lelaki itu kembali fokus membawa mobil menyusuri jalanan ibu kota pagi itu.
Alzam membuka salah satu aplikasi mba dari semua Mbah dukun mengetahui segala hal. Alzam mengetik sesuatu di sana hingga muncul beberapa artikel yang menunjukan tentang ' Bagaimana Tips menjadi teman yang baik'.
Alzam begitu serius membaca semua artikel yang ia lihat, ia ingin menjadi teman yang baik untuk Azkia. Sejak semalam pria itu berpikir bagaimana saat bertemu Azkia terlihat normal seperti orang pada umumnya. Jika mengingat dirinya yang hampir sepuluh tahun tidak bersosialisasi, ia bingung bagaimana cara untuk memulainya.
" Tulus dan jujur menjadi diri sendiri! Aku akan mencoba salah satu tips ini saat bertemu Azkia!," Seru Alzam dalam hati begitu bersemangat.
Sesampainya di kampus, Kenzo dan Alzam segera turun, saat mereka berjalan menuju kelas alzam melihat Azkia duduk sendiri sambil memainkan sepatunya di tanah. Alzam begitu senang melihat hal itu.
Alzam menyuruh Kenzo untuk duluan, pria itu beralasan untuk ke toilet sebentar. Saat melihat Kenzo sudah pergi, Alzam berjalan mendekat ke arag Azkia. Jarak yang Alzam buat seperti biasa dua meter dan itu tidak kurang maupun lebih.
" Hy, teman!," Ujar Alzam canggung, terdengar begitu lucu, Azkia menoleh ke arah Alzam. Mendegar panggilan lelaki itu sedikit membuat perut Azkia menggelitik.
__ADS_1
" Hy juga tema,!" Ucap Azkia lalu tertawa pelan .
" Aneh ya!," Ujar Alzam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Enggak, kamu enggak masuk kelas sama kak Kenzo?," Tanya Azkia.
" Enggak!," Balas Alzam.
Keheningan terjadi di antar keduanya, rasa canggung begitu saja terjadi. Entah mengapa Azkia juga bingung ingin membahas apa bersama Alzam rasanya begitu kikuk.
" Oh iya! Gimana penampilan ku hari ini! Bagus gak!," Ujar Azkia berdiri menunjukan outfitnya kepada Alzam.
Alzam menatap Azkia dari atas ke bawah, pria itu sedikit aneh dengan penampilan aneh Azkia, sebenarnya penampilannya gak aneh hanya saja perubahan jilbab Azkia tidak seperti biasanya. Saat seperti itu Alzam mengingat cara tips berteman di mba semua mba di muka bumi ini.
" Aku harus tulus dan jujur!," Gumam Alzam.
" Jilbab mu hari ini begitu aneh, gak cocok dengan dirimu!," Ujar Alzam begitu enteng tanpa beban apapun. Apalagi lelaki itu memasang wajah tanpa dosa di balik maskernya itu. Untung saja Azkia tak melihat jika tidak mungkin wajah Alzam akan menjadi ring tinju Azkia.
Mendegar itu Azkia begitu tercengang, bari sehari mereka berteman Alzam sudah seperti itu. Kalau emang gak cocok apa dia bisa menggunakan bahasa sedikit lembut.
" Dasar lelaki aneh! Sejak awal aku sudah sangat pas mencapnya sebagai lelaki aneh," gerutu Azkia meninggal Alzam seorang diri di taman.
Sementara Alzam terpaku diam, ia tau saya melihat raut wajah kusam Azkia kepadanya. Wanita itu kesal mendengar jawaban Alzam.
" Bukan kha aku sudah jujur! " Gumam Alzam menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Alzam segera beranjak dari duduknya lalu pergi menuju kelasnya, namun sebelum itu Alzam menghubungi Kenzo. Sepertinya ia harus berkonsultasi kepada ahlinya.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Azkia yang sudah berada di kels bersama Rizkia bercerita banyak hal , Rizkia juga tak melupakan untuk mengucapkan happy birthday kepada Azkia setelah mendengar cerita sahabatnya itu.
" Saat pulang kampus Lo bareng gua! Gua ingin membelikan Lo kado! Gak lucu gua sahabat Lo tapi enggak ngasih apa-apa di hari spesial Lo seperti ini!," Ujar Rizkia.
" Gak usa, kau sudah mau berteman dengan ku sudah cukup menjadi kado terindah untukku!," Sahut Azkia jujur.
__ADS_1
Mendegar itu Rizkia menjadi terharu kalau memeluk sahabatnya dengan begitu erat. " Gak ada penolakan, sebentar Lo harus jalan sama gua!," Tega Rizkia. Azkia yang tak bisa menolak hanya bisa pasrah.
Saat sedang asik bercerita, Alzam masuk ke dalam kelas, Azkia tau kehadiran Alzam akan tetapi wanita itu pura-pura tak tau. Ia sebenarnya masih kesal karena tadi saat Alzam terlalu berkata jujur seperti itu.
Sepanjang perjalanan jam mata kuliah, Alzam tak berhenti menatap punggung Azkia, apalagi saat wanita itu mempersentasikan tugas nya begitu keren si mata Alzam. Hanya saja Alzam maish seidkit bingung dengan sikap Azkia yang tadi tiba-tiba saja meninggalkan dirinya.
Alzam ingin bertanya kepada Kenzo, namun Kenzo sedang ada urusan hingga Alzam mengundurkan niatnya dan akan bertanya saat jam pulang kampus.
Setalah hampir sejam lebih, akhirnya jam pertama sudah selesai, semua mahasiswa berhamburan untuk mencari makan di kantin sambil menunggu dosen kedua.
Bari saja Azkia ingin ke kantin bermasa Rizkia, wanita itu mendapatkan panggilan dari salah satu dosen.
" Kamu deluan! Nanti aku nyusul!," Ujar Azkia.
" Oke , gua tunggu di kantin!," Balas Rizkia.
Azkia mengikuti mahasiswa yang mengatakan dosen yang mengajar di kelasnya memanggil ke keruangan nya. Namun, Azkia merasa tidak enak saat jalanan koridor kampus yang mereka lewati begitu sepi tidak ada siapapun. Apalagi sepertinya tempat menuju ruangan dosen tidka harus melewati jalanan ini.
" Hei, kamu ingin membawa ku kemana!," Ujar Azkia memberhentikan langkahnya. Sementara mahasiswi wanita itu tertawa lalu berbalik menatap Azkia.
Azkia begitu terkejut saat dari arah belakang tiba-tiba membiusnya, Azkia dengan sekuat tenaga ingin melepaskan namun tetap saja tenaga yang berada di belakangnya begitu kuat. Pandangan Azkia mulai memudar hingga ia tak sadarkan diri.
" Bawa dia ke gudang itu! " .....
Bersambung...
Jangan lupa untuk :
👍 Like
💬 Komentar
❤️ Favorit
🎟️ Vote
__ADS_1
☕🥀 Berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini