
Di sudut koridor lorong kampus, sejak tadi seorang wanita menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya. Hampir sejam lebih ia menunggu seseorang yang tak kunjung datang bahkan hawa keberadaannya pun tak terasa hadir sampai saat ini.
"Apa dia melupakannya! Ha dasar Alzam lain kali aku tidak akan merima panggilan seperti ini darinya! Aku balik aja ke kelas !," Gumam Azkia. Wanita itu segera beranjak dari duduknya lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Baru saja Azkia berjalan beberapa langkah seseorang dari arah belakang memanggil namanya. Azkia yang sudah sangat mengenal suara itu tidak ingin menggubrisnya Karen rasa kesalnya sejak tadi. Hampir sejam lebih wanita itu menunggu.
Azkia yang tak memedulikan panggilan Alzam terus berjalan, hingga tangan Azkia yang tiba-tiba saja di tahana oleh Alzam. Mau tak mau Azkia berbalik dengan wajah kusutnya sejak tadi.
" Maafkan aku!" Ujar Alzam.
" Tidak apa aku menunggu mu tidak lama hanya sekitar satu jam lebih!," Sahut Azkia begitu jutek. Namun Alzam malah tersenyum mendengar jawaban Azkia seperti itu.
" Maafkan aku! Aku tadi mengurus sesuatu yang tak begitu penting! Jadi masih bisa aku di berikan waktu untuk berbicara padamu?," Tanya Alzam dengan wajahnya yang memohon tentu saja Azkia merasa tidak tega. Wanita itu memang berhati lembut, jika di rayu sedikit seperti ini hatinya mudah untuk luluh.
" Baiklah! Jadi apa yang ingin kau katakan?," Tanya Azkia menatap wajah Alzam yang kini sudah berada di hadapannya.
Wajah Alzam yang tidak memakai masker sudah beberapa kali Azkia melihat itu namun tetap saja jantungnya tak pernah sekali untuk tidak berdetak kencang saat menatap wajah bak pangeran di negeri dongeng itu.
" Jantungku! Semoga dia tidak mendengarnya! Aku harus kontrol!," Ucap Azkia dalam hati.
" Sebelum aku mengatakan hal yang ingin aku kataka! Aku ingin mendengarkan ucapan dari mu!," Ujar Alzam sedikit menaikan sudut bibirnya membentuk senyuman tipis, tapi ampun membuat jantung Azkia yang sejak tadi tidak terkontrol semakin menggila.
"Ak-...! Hmm...! Aku ucapakan Selamat untuk mu! Maaf aku tidak bisa memberikan mu sebuah hadiah!," Ucap Azkia begitu cepat, wanita itu lalu memalingkan wajahnya. Jika tidak seperti itu entah mungkin jantungnya bisa copot dari tempatnya saat ini.
Sementara Alzam mendengar penuturan Azkia merasa bahagia. Beribu ucapan yang Alzam dapatkan, namun hanya ucapan Azkia yang begitu simple akan tetapi ampuh membuat Alzam bahagia.
" Sebagai gantinya karena tidak hadiah untukku! Bagaimana kalau malam ini temani aku di wahana bermain! Aku melihatnya di internet dan sepertinya itu menyenangkan jadi sebagai gantinya kau harus menemaniku!," Ujar Alzam sambil mengusap kepala Azkia yang tertutup dengan hijab.
" Jangan mentang-mentang aku pendek! Jauhkan tanganmu dariku! " Pinta Azkia, bukannya Azkia menolak untuk diperlakukan seperti itu hanya saja saat ini jantung Azkia benar-benar akan segera copot dari tempatnya.
" Baiklah! Jadi bagaimana dengan tawaran ku?," Tanya Alzam.
" Yah, baiklah aku akan menemanimu! Tapi apa tidak masalah seorang anak tunggal terkaya di negeri ini, jalan bersama seorang wanita biasa yang-" belum Azkia menyelesaikan bicaranya, wanita itu melihat wajah sendu Alzam.
Azkia mengerti sepertinya Alzam yahh tidak suka membahas status sosial akhirnya wanita itu lebih memilih tidak melanjutkan ucapannya tadi.
"Baiklah! Aku akan menunggu mu! Jam 7 kita berangkat!" Ujar Azkia tentunya saja wajah Alzam yang tadinya sedih berubah seketika menjadi berseri kembali.
__ADS_1
" Tunggu aku tuan putri aku akan menjemputmu!," Ujar Alzam begitu semangat. Melihat itu tentu Azkia ikut bahagia entahlah rasa apa yang sedang Azkia rasakan saat ini, wanita itu hanya ingin menikmatinya tanpa melewati batas kata sebuah pertemanan.
" Lalu apa yang kau ingin bicarakan padaku?," Tanya Azkia.
" Entahlah aku lupa!" Jawab Alzam singkat.
" Ah dasar laki-laki aneh," gumam Azkia.
Mereka berdua yang asik bercerita tanpa mereka sadari sejak tadi empat pasang mata menatap mereka dari kejauhan sambil menjaga agar tak satupun mahasiswa berjalan kearah koridor itu.
"Akhh! Kenapa mereka berdua romantis begitu! Gua jadi baper banget! Ya tuhan gua adi kangen dengan my beb!," Seru Rizkiya sejak tadi begitu histeris melihat berbincangn kedua orang yang sedang di mabuk cinta walau mereka belum sadari sih.
" Lo bisa tenang enggak! Kalau begini terus bisa-bisa mahasiswa akan ke sini!," Geram Kenzo dengan wajah dingin dan datarnya.
" Ya ampun! Lo jadi cowok kaku banget! Pantas jomblo, sayang ganteng tapi sikapnya dingin kaya kulkas di rumah gua!," Gumam Rizkiya namun Kenzo dapat mendegar gak itu.
" Gua dengar!," Ujar Kenzo.
" Yah bagus loh dengar! Jadi tau diri kan!," Balas Rizkiya lalu.
Kenzo yang tak ingin berdebat dengan seorang wanita lebih memilih diam sambil menahan telinganya mendegar Rizkiya yang sejak dari tadi tidak berhenti untuk histeris walau suaranya kecil namun bagi Kenzo itu sangat menganggu untuknya.
"Jangan melihat gua terus! Nanti naksir gua gak tanggung jawab yah!," Ujar Rizkiya lalu tertawa kecil saat menggoda Kenzo.
"Ogah gua!," Jawab Kenzo dingin.
🍂🍂🍂🍂🍂
Seperti perjanjian sebelumnya, jam menunjukkan pukul tujuh malam, Azkia sudah bersiap dengan pakaian rapinya menatap dirinya di pantulan cermin berukuran mini, walau seperti itu tapi masih terlihat wajah mungil Azkia.
" Apa aku sudah cantik seperti ini! Ha padahal ini hanya untuk menemani Alzam ke taman bermain tapi kenapa aku bisa gerogi seperti ini!," Azkia memutar badannya beberapa kali hingga menurutnya sudah begitu puas, Azkia meraih ponselnya untuk melihat pesan dari Alzam.
Yah sebelum pulang dari pertemuan mereka di koridor kampus, Alzam meminta nomor Azkia, namun sebelum itu Alzam meminta persetujuan Azkia seikhlasnya.
Mengingat sikap Alzam saya di kampus tentu Azkia tersenyum lebar, sungguh lelaki yang tak pernah Azkia temui di dunia ini sebelumnya.
" Dia memang lelaki yang aneh dan misterius!," Gumam Azkia.
__ADS_1
Sementara di tempat lain kediaman Abraham yang begitu megah bak istana di negeri dongeng, seorang pria sejak tadi bercermin tiada henti menatap dirinya di sana.
Berbagai pakaian mahal sudah coba ia gunakan namun Menurutnya tak ada satupun yang pas untuknya malam ini.
Kenzo yang menatap sepupunya di ambang pintu terlihat tertawa mengejek di sana. Apakah seperti ini rasanya menjadi penonton saat seseorang sefanga berada dalam kasmaran cinta. Pikir Kenzo.
" Berhentilah menertawai ku! Lebih baik kau membantuku mencari pakaian yang cocok!," Seru Alzam.
" Apa pakaian di lemari sebesar ruangan itu tidak ada satupun yang cocok dengan tuan muda saat ini?" Tanya Kenzo dengan mengejek tentu itu membuat Alzam semakin kesal.
" Pergilah! Aku tidak membutuhkan mu!," Ucap Alzam.
" Jangan marah seperti itu nanti Azkia bisa-bisa tidak akan mau jalan dengan mu! Lagian pakaian yang kau pakai saat ini sangat cocok! Hanya ada yang kurang!," Ucap Kenzo. Pria itu berjalan mengambil sesuatu di sebuah Kaci yang sudah berjejer beberapa jam tangan mewah dan mahal. Kenzo melihat hingga mengambil satu yang menurutnya sangat cocok untuk Alzam saat ini.
" Pakailah!," Ujar Kenzo.
Alzam mengambilnya lalu memakai di pergelangan tangannya saat ini. Sungguh kata sempurna yang sangat coco untuk Alzam.
" Sempurna! Ayo berangkat, saat ini Tian putri mi pasti sedang menunggu mu sejak tadi!," Ujar Kenzo.
" Baiklah! Ayo berangkat!,"
Akhirnya mereka berdua segera berangkat menuju ke arah rumah Azkia, namun sebelum itu tak lupa kwniz menjemput Rizkiya.
Sebenarnya pria itu malas namun tidak mungkin dia harus menjadi obat nyamuk di antara Alzam dan Azkia bukan.
Bersambung...
Jangan lupa untuk:
👍 Like
💬 Komentar
❤️ Favorit
🎟️ Vote
__ADS_1
🥀☕ Berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini