
Malam hari yang sangat tenang kala itu, Alzam menikmati malam hari yang begitu tenang, hembusan Angin yang begitu sejuk menghempaskan ke wajah Alzam.
Alzam menatap lima buku komik yang berada di sampingnya. Pria itu mengingat kembali' saat kejadian di toko buku tadi.
Flash back on
" Apa ini tidak terlalu banyak, aku hanya merekomendasikan buku untuk mu cukup satu buku aku udah bersyukur!," Ujar Azkia.
" Ambilah, aku sudah berbaik hati, jika kau tak mau yah sudah!," Sahut Alzam.
" Enggak, aku mau kok!, Lagian kalo udah di kasi gak boleh di ambil lagi!," Ujar Azkia gercep mengambil buku yang Alzam kasi kepadanya.
" Ingat jangan memberitahukan siapapun!, Aku tak ingin menjadi pusat perhatian!," Ucap Alzam langsung pergi meninggalkan Azkia.
"Ha dasar pria aneh, tadi sikapnya begitu manis seketika berubah menjadi seperti pria dingin!," Batin Azkia.
Alzam berjalan Keluar toko yang di ikuti oleh Azkia dari belakang. Azkia tak banyak bicara wanita itu hanya menatap punggung Alzam yang begitu kekar.
"Alzam!," Panggil Azkia. Jarak mereka tak begitu jauh sekitar satu meter Azkia berada di belakang Alzam.
" Hmm!" Sahut Alzam.
" Terimakasih untuk bukunya!" Ucap Azkia.
"Iya!" Balas Alzam.
" Alzam!" Panggil Azkia kembali.
" Iya!" Balas Alzam.
" Hmmm, kamu enggak keberatan kalau aku ajak untuk berteman!," Ujar Azkia, entah keberanian dari mana wanita itu dapat, tapi emang sejak awal Azkia ingin mengajak Alzam untuk berteman hanya saja Alzam yang begitu dingin dan ingin menyindiri membuat Azkia tak berani. Hanya saat ini sepertinya waktu yang pas untuk mengajak Alzam berteman.
Langkah Alzam terhenti saat mendengar perkataan Azkia. Apa yang ia dengar tidka salah. Azkia mengajak dirinya untuk berteman.
" Kenapa kau ingin berteman dengan ku?, Apa karena aku membelikan kamu buku dan setelah berteman kamu akan memanfaatkan ku!," Ujar Alzam begitu sinis.
Mendegar hal itu Azkia naik pitam, apa harga sebuah pertemanan di ukur seperti itu, sungguh pemikiran Alzam begitu picik.
" Wah pikiran begitu picik!," Ujar Azkia.
Dengan langkah cepat Azkia sekarang sudah berada di hadapan Alzam, wanita itu menatap mata Alzam dengan begitu tajam menahan air mata.
__ADS_1
Alzam sekarang begitu jelas melihat wajah Azkia, apalagi saat ini wajah Azkia sedikit mengeras karena ucapannya.
" Dengarkan aku baik-baik tuan Alzam, sepertinya anda di kelilingi orang-orang seperti itu!, Aku tak tau bagaimana kamu menjalani hidup seperti apa, tapi ingat satu hal semua orang di dunia tidak semua sama! Aku ingin berteman dengan mu karena aku sangat suka berteman dan jika kamu tak ingin yah sudah! Dan ini buku mu tuan muda silahkan ambil aku tak suka menerima buku dari seorang pria yang memiliki pemikiran sangat picik padaku!," Jelas Azkia dengan wajah menahan amarah.
Azkia menarik tangan Alzam memberikan buku-buku itu lalu pergi meninggalkan Alzam. Sementara pria itu hanya terdiam mematung mendengar perkataan Azkia. Memandang punggung Azkia yang sudah berlalu pergi hingga hilang dari pandangannya.
" Dia berbeda!," Gumam Alzam.
Alzam berlari kecil keluar dari toko buku. Namun, ia tak menemukan Azkia . Wanita itu begitu cepat menghilang dari.
" Kau mencari siapa ?," Tanya Kenzo yang baru turun dari mobil.
" Kenzo!" Ujar Alzam seidkit kaget.
" Iya aku, kenapa kamu! Seperti sedang mencari seseorang!," Ujar Kenzo.
" Enggak! Ayo pulang!" Ajak Alzam berjalan menuju mobil tanpa mengatakan hal apapun lagi kepada Kenzo.
" Anak itu kenapa sih!" Batin Kenzo.
Sepanjang perjalanan pulang Alzam selalu terngiang dengan perkataan Azkia. Selama ia hidup 20 tahun Alzam baru mendapat perkataan seperti itu dari seseorang. Selama ini ia hanya mengurung dirinya dan di kelilingi oleh keluarganya yang begitu egois untung Kenzo tidak seperti itu membuat Alzam sangat nyaman dan percaya kepadanya.
Flash back off.
Alamat mengacak rambutnya frustasi, kenapa ia mengatakan hal itu kepada Azkia. Padahal tadi momen yang sangat pas untuk berteman. Sebenarnya Alzam juga ingin berteman dengan Azkia, apalagi saat melihat Azkia begitu kuat saya di Katai oleh banyak wanita yang iri kepadanya di kampus.
Ketertarikan yang membuat Alzam ingin lebih dekat kepada Azkia, hanya saja rasa introvet yang ia alami membuat nya tak berani.
" Maafkan dengan perkataan Ku, aku membuat mu terluka yah?," Tanya Alzam menatap ke lima buku komik yang ia belikan untuk Azkia.
Alzam segera masuk ke dan saat suasana sudah semakin dingin. Setelah itu Alzam segera turun untuk makan malam bersama Abraham dan Kenzo. Saat di meja makan Abraham banyak bercerita tentang perusahaan hanya saja Alzam tak begitu mendegar ia lebih fokus menghabiskan makanannya.
" Alzam, ketidak datangan mu saat itu membuat Ayah sedikit kesusahan!, Kau tau keluarga papa begitu berambisi untuk merebut perusahaan yang sudah kakek bangun!," Jelas Abraham.
" Berikanlah kepada mereka! Alzam tak bisa mengurus itu, aku tak memiliki keberanian!," Ucap Alzam santai, setalah menghabiskan makanannya pria itu segera beranjak.
" Alzam, sampai kapan kamu akan seperti itu!, Kamu itu seorang penerus perusahaan jaya group!, Kamu tau saat Kakek wafat semua perusahaan itu jatuh atas nama kamu!," Pekik Abraham memandang ke arah Alzam.
" Ayah bisa mengurusnya bukan!" Sahut Alzam.
" Tapi suatu saat kamu akan mengambil ahli posisi Ayah! Apa kamu tidak sepeduli itu dengan perusahaan kakek!," Ujar Abraham.
__ADS_1
" Aku tidak ingin berdebat Ayah!, Aku masuk ke kamar duluan!," Sahut Alzam segera berjalan pergi menuju kamarnya.
Melihat suasana yang begitu memanas, Kenzo menenangkan Abraham.
" Paman jangan terlalu memaksa Alzam seperti itu, pelan-pelan untuk memberitahukan dia paman!," Uajr Kenzo.
" Sampai Kapan Kenzo!, Apa kau tau beberapa kali saudara kandung yang paman miliki ingin melukai kakanya sendiri agar bisa mengambil posisi CEO!, Jika suatu saat paman gagal melindungi diri sendiri bagaimana dengan perusahaan Kakek apalagi denga keadaan Alzam seperti itu!," Jelas Abraham dengan raut wajah begitu sedih.
Mendegar itu Kenzo tak banyak berkomentar, apa yang Abraham katakan semua itu benar. Jika Alzam tak cepat mengambil ahli entah kegilaan apalagi yang harus Abraham hadapi.
Sementara Alzam yang masih mendegar apa yang Abraham katakan membuat dirinya begitu sedih. Alzam berjalan masuk ke dalam kamar lalu masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu menatap dirinya di pantulan kaca.
" Brengs**! Kau sangat lemah, sampai kapan kau akan seperti ini! Dasar sampah!," Pekik Alzam melemparkan sesuatu ke kaca hingga hancur berserakan di lantai.
Alzam menginjak beberapa pecahan hingga kakinya terluka mengeluarkan darah. Lelaki itu bergegas menyalahkan shower menguyur semua tubuhnya.
" Aku ingin seperti orang normal Ayah! Aku sudah berusaha tapi tetap saja aku tidak bisa! Aku ingin menjadi orang hebat seperti apa yang aku katakan kepada Kakek! Maaf kan aku, aku pecundang, aku tidak berguna!," Gumam Alzam. Alzam meringis menahan sesak di dadanya, ingin rasanya ia menghalang dari duni ini.
🍂🍂🍂🍂
Keesokan harinya, Azkia yang baru masuk ke halam kampus tiba-tiba saja seseorang menariknya lalu memberikan sebuah buku komik kepada Azkia.
" Ambilah,! Aku tak ingin memiliki hutang Budi!, Maaf kan ucapan ku soal kemarin!," Ujar Alzam lalu bergegas pergi meninggalkan Azkia. Kenzo melihat hal itu sedikit kebingungan. Kenzo yang tak ingin banyak bicara karena sejak pagi tadi Alzam begitu tak mood untuk di ajak bicara hanya bisa mengekor di belakang Alzam.
Azkia menatap ke-lima buku yang sudah berada dala. Genggamannya saat ini. Saat melihat Alzam yang sudah pergi , Azkia sedikit kahwatir saat melihat Alzam berjalan.
" Apa dia baik-baik saja!," Gumam Azkia.
Bersambung....
Jangan lupa untuk:
👍 like
💬 komentar
❤️ favorit
🎟️ vote
☕🥀 berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini
__ADS_1