
Dua Minggu telah berlalu, keakraban Azkia dan Rizkia semakin dekat. Di kampus mereka begitu lengket tidak bisa terpisahkan bagai lem dan prangko. Seperti saat ini, di perpustakaan kampus, Azkia mencari buku untuk mengerjakan tugas yang di berikan dosen kepada mereka.
Rizkia ikut bersamanya, bukan untuk mencari buku melainkan bermain game sambil memakai handset di telinganya. Azkia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. Saat sedang asik mencari buku bertapa terkejut Azkia melihat seorang lelaki tertidur dengan nyenyak sambil memakai airphone di telinganya.
“Alzam! Sedang apa dia di sini?,” Tanya Azkia dalam hati.
Wanita itu menatap wajah Alzam yang tertutup oleh masker. Entah mengapa ia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat dirinya tak sengaja terpeleset dari tangga untung saja Alzam dengan sigap menahan tubuhnya.
Flash back on
Azkia bari datang membawa sekantong cilok yang baru dia beli di pinggir jalan. Rasanya begitu nikmat apalagi bumbunya dan cuaca saat ini begitu pas untuk menyantap camilan satu itu. Sambil menunggu Rizkia di wanita itu menyantap habis sampai tak tersisa, tinggal plastik dan beberapa belas sambal Azkia segera membuangnya lalu meminum air dengan nikmat.
“Sedap! Rasanya segala beban di dunia hilang begitu saja!,” Ujar Azkia lalu membuang kembali beka air mineral yang ia minum ke dalam tong sampah yang tak jauh dari tempat ia duduk.
Tidak lama kemudian, Rizkia baru tiba. Dari kejauhan Azkia sudah melambaikan tangannya kepada sahabatnya itu tentu dengan semangat Rizkia membalasnya.
“Tumben hari ini kau telat?,” Tanya Azkia saat sahabatnya itu sudah berada di hadapannya.
“Sorry, tadi gua agak terlambat bangun!, Lo lama tunggu ya?,” Tanya Rizkia kembali.
“Enggak juga sih, aku sambil makan cilok tunggu kamu datang!,” Terang Azkia.
“What cilok! Lo kenapa enggak simpankan buat gua,!” Ujar Rizkia memukul bahu Azkia dengan pelan.
“Lo suka cilok?, Gua pikir makanan Lo enggak kaya gitu!,” Ucap Azkia pelan.
“Suka banget tau! Lo pikir gua anak miliarder gak pernah makan kaya gituan! Plis deh gua bukan kaya artis yang sedang viral sekarang yang gak tau makanan kaya gituan, telur orak-arik aja gua tau !,” Jela Rizkia.
Mendengar ocehan sahabatnya, Azkia tersenyum. Rizkia benar-benar sangat jauh berbeda dengan orang kaya pada umumnya.
“Entar pulang kampus aku traktir beli cilok! Sebagai permintaan maaf gua!,” Ujar Azkia.
“okey! Itu gua setuju,” sahut Rizkia dengan semangat.
Mereka berdua pun segera menuju ke dalam kelas sambil membahas tentang tugas yang membuat otak Rizkia sakit jika membahas hal itu. Saat menaiki tangga menuju kelas, Tak sengaja Azkia berpapasan dengan Alzam yang baru datang bersama Kenzo. Mereka berdua pas berada di belakang mereka.
Rizkia sangat senang karena sebenarnya anak itu sangat penasaran dengan wajah Alzam. Sejak hari di mana Alzam bermasalah dengan salah satu seorang senior, lelaki itu menjadi bahan perbincangan di kampus. Apalagi wajahnya yang selalu tertutup oleh masker membuat para kaum hawa penasaran sehingga Alzam memiliki julukan sebagai cowok of the masker. Tak banyak mahasiswi senior bertanya juga kepada Kenzo tentang siapa Alzam?.
“Lo lihat kan! Di belakang kita ada cowok of the masker! Sumpah gua penasaran dengan wajah nya!,” Bisik Rizkia pelan.
Azkia memutar matanya jika Rizkia sudah membahas tentang Alzam. Lagian lelaki itu memiliki namun kenapa harus memanggil nya dengan sebutan aneh seperti itu. Azkia tak membalas ucapan Rizkia sampai pada saat tangga terakhir mereka naiki tak sengaja kaki Azkia tergoyah sedikit, Azkia tak bisa menjaga keseimbangannya hingga jatuh ke belakang.
Rizkia dengan cepat ingin menegang tangan Azkia namun terlambat. Azkia sudah menutup matanya pasrah. Tetapi sesaat kemudian, wanita itu tak merasakan sakit apapun. Saat membuka matanya betapa terkejutnya Azkia saat melihat Alzam begitu dekat dengan wajahnya.
Bulu matanya begitu indah, bola matanya yang mampu membius Azkia hingga sesaat Azkia terbuai dalam suasana itu.
“Khm... Azkia!,” Panggil Rizkia.
Azkia segera tersadar saat namanya di panggil. Alzam mendorong tubuh Azkia untuk jauh dari dirinya. Azkia ingin mengucapkan terimakasih tetapi sesaat kemudian, Alzam mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya. Sebuah semprotan pewangi.
Alzam menyemprotkan ke seluruh badan Azkia yang tadi ia sentuh setalah itu pergi tanpa mengucapkan apapun. Sementara Kenzo hanya tertawa sedikit lalu mengekor di belakang sepupunya.
“Apa dia pikir aku kuman di Semprot seperti itu ! Lagian virusnya udah punah woy!,” Teriak Azkia tak terima dengan sikap Alzam yang seperti itu padanya.
“Hahahaha! Asli gua ngakak parah, tapi Lo harus berterima kasih! Kalau gak ada cowok of the masker yang menahan badan Lo, mungkin saat ini Lo sudah ada di rumah sakit!,” Ujar Rizkia.
Azkia yang tadinya ingin kesal tidak jadi. Untung saja saat itu terjadi tak ada mahasiswa yang lewat, kalau tidak mungkin Azkia akan menjadi bahan tertawaan semua orang di sana.
“ Masuk yuk,!” Ajak Azkia lalu berjalan duluan meninggalkan Rizkia yang masih menirukan gaya Alzam menyemprotkan parfum ke arah Azkia tadi.
“Ah Alzam Kampret! Apa dia pikir aku kuman berbahaya,! Tapi parfumnya cukup wangi sih !,” Gerutu Azkia dalam hati.
Flash back off
Mengingat kejadian itu Azkia menjadi kesal sendiri sambil mengumpat Alzam dalam hati. Tak ingin berlama melihat Alzam, Azkia lebih memilih meninggalkan pria itu tertidur.
Buku yang Azkia cari sudah ia dapatkan, Azkia mulai mencari sambil memotret beberapa hal yang menurutnya penting. Hampir setengah jam akhirnya selesai, jam pengunjung perpus juga sudah hampir selesai. Azkia akan melanjutkan kerjanya di rumah menggunakan laptop kesayangannya.
__ADS_1
“Yuk pulang!,” Ajak Azkia membuka salah satu handset Rizkia.
“Udah selesai?,” Tanya Rizkia.
“Iya udah nanti file nya gua kirim ke kamu !,” Ujar Azkia yang sangat hafal dengan tingkah sahabatnya.
“Ouhhh! Aku terharu sahabatku paling pengertian!,” Ujar Rizkia memeluk pinggang Azkia.
“Jangan sok drama di sini! Ayo keluar perpustakaan sudah mau tutup!,” Azkia pun mengumpulkan beberapa bukunya lalu mengembalikan ke dalam tas.
Saat bari keluar dari perpustakaan, Azkia mengingat Alzam. “Apa lelaki itu masih di dalam?” batin Azkia.
“ Kamu tunggu aku di tempat biasa! Ada yang aku lupa di dalam perpustakaan okey!,” Ujar Azkia langsung pergi meninggalkan Rizkia.
Sesampainya di perpustakaan untung saja penjaga perpustakaan masih Azkia dapat. Azkia beralasan melupakan sesuatu di dalam sana. Penjaga perpustakaan itu memberikan Azkia kunci dan akan di segera dikembalikan ke ruangannya setelah sudah mendapatkan barang Azkia yang ia lupa di dalam sana.
Azkia dengan cepat membuka pintu perpustakaan, berjalan menuju tempat Alzam tadi tertidur. Benar saja lelaki itu masih saja tertidur pulas tanpa dosa. Apa dia pikir perpustakaan itu miliknya sampai tertidur pulas seperti ini.
Azkia mendekat ke arah pria itu. Pelan Azkia menggoyang tubuh Alzam tetapi lelaki itu tidak merespon sama sekali.
“Alzam ...hei! Pria aneh” panggil Azkia.
"bukan aku! aku bukan pembunuh! aku tidak bau! menjaulah!," Alzam meracau tak jelas membuat Azkia bingung menatap alzam.
" Apa yang dia bicarakan!," gumam Azkia.
Azkia melihat airphone di telinga Alzam, ia hampir melupakan benda itu sejak tadi melekat di telinga Alzam. Perlahan Azkia melepaskan airphone itu lalu menggoyang tubuh Alzam sekali lagi.
“Hei. Bangun! Ini bukan rumah mu!,” Ujar Azkia.
Alzam merasa tidurnya terganggu membuka matanya. Betapa terkejutnya pria itu saat melihat wajah Azkia begitu dekat dengannya. Reflek Alzam mendorong tubuh Azkia hingga wanita itu terdorong sedikit jauh dari dirinya.
“ Kau...! Apa yang kau lakukan padaku!,” Ujar Alzam histeris.
Azkia tak merespon apa yang Alzam katakan. Wanita itu lebih memerhatikan pantatnya sakit akibat dorongan Alzam tadi. Untung saja bokongnya tidak kenapa-kenapa.
“Sttt! Jangan bersuara besar seperti itu, orang-orang akan salah paham kepada kita! Lagian aku gak memperkosa mu! Aku hanya mencoba membangunkan mu karena perpustakaan ini sudah tutup!,” Jelas Azkia santai lalu segera berdiri.
Alzam berpikir sejenak mencerna perkataan Azkia. Pria itu meraih ponsel yang berada di sampingnya melihat panggilan Kenzo yang sudah ia lewatkan hampir 15 panggilan.
“Gawat!,” Ucap Alzam.
Alzam segera beranjak mengambil tas dan airphone nya pergi begitu saja meninggalkan Azkia. Melihat itu Azkia menjadi kesal sendiri apa manusia Adam itu tidak mengucapkan terimakasih terlebih dahulu begitu main pergi begitu saja.
Baru saja Azkia melangkahkan kakinya, Alzam datang kembali. Lelaki itu berdiri di hadapan Azkia tetapi jarak mereka lumayan sedikit jauh sekitar dua meter.
“Aku minta tolong padamu!,” pinta Alzam.
Azkia tak percaya dengan lelaki yang berada di hadapannya saat ini. Apa dirinya yang asli seperti itu, berubah sikap kapan pun dia mau.
“Sabar Azkia! Karena aku baik hati dan enggak sombong aku masih memaklumi sifat manusia satu ini!,” batin Azkia.
“Minta tolong apa?,” Tanya Azkia.
“ Temani aku sebentar di sini sampai Kenzo datang menjemput ku!,” Pinta Alzam.
“ Ogah! Aku masih banyak urusan! Tunggu aja sendiri!,” Sahut Azkia tajam. Sejak tadi rasanya wanita itu geram sekali dengan sikap Alzam.
“ Hanya sebentar!,” Ujar Alzam.
Azkia sangat tidak tega saat mendengar suara Alzam yang sedikit sendu. Wanita itu tidak akan tega jika seseorang sudah bermohon seperti itu.
“Cepatlah! Aku akan menemanimu!,” Sahut Azkia.
Lima menit berlalu Azkia melirik ke arah Alzam yang duduk sekitar 3 meter dari dirinya. Mengingat perkataan pria itu membuat Azkia kesal dan menyesal telah membantu lelaki yang sangat aneh baginya.
Beberapa menit yang lalu saat Azkia ingin berbicara kepada Alzam agar suasana tak begitu canggung lelaki itu malah menyuruh Azkia diam dan menjauh dari dirinya. Bukankah itu hal yang sangat menyebalkan, sudah di tolong tapi tidak tau cara berterima kasih ataupun bersikap yang baik kepada orang.
__ADS_1
Azkia yang tak di hiraukan oleh Alzam sibuk memainkan ponselnya sambil menunggu Kenzo datang. Beberapa menit kemudian, Kenzo tiba melihat ke arah Alzam dengan nafas yang sudah ngos-ngosan.
“Alzam! Apa kau tidak apa-apa?,” Tanya Kenzo mendekat ke arah sepupunya itu.
“Aku tidak apa-apa! Maaf membuat mu khawatir!,” Ujar Alzam.
“Tidak apa! Aku pikir kau sudah menghilang! Aku sudah mencari mu sejak tadi! Ayo pulang!,” Ajak Kenzo.
Sebelum pergi Alzam memanggil Azkia yang hanya terdiam melihat ke arah dia bersaudara itu.
“Terimakasih!,” Ucap Alzam lalu pergi duluan meninggalkan Azkia dan Kenzo.
“Anak itu memang begitu! Terimakasih sudah menemani Alzam!,” Sambung Kenzo lalu pergi mengikuti Alzam.
Azkia masih terdiam saat mendapatkan ucapan terimakasih dari Alzam. Sikap lelaki itu sungguh aneh, apa dia bunglon bisa berubah kapan saja mood nya mau.
“Pria aneh! Ah sungguh dia pria aneh yang pernah aku temui!,” Gumam Azkia.
Setelah mengembalikan kunci perpustakaan, Azkia segera pulang ke kos nya. Rizkia sudah mengirimkan kan pesan bahwa dirinya duluan pulang. Sebelum sampai di kos wanita itu berbelanja sebentar di supermarket terdekat, membeli beberapa keperluan untuk diri dan perut nya.
Selesai berbelanja Azkia segera pergi menuju kos nya. Ia merebahkan badannya sebentar sebelum menunaikan kewajibannya sebagai seorang umat muslim.
Azkia yang sudah selesai membersihkan tubuh dan menunaikan ritualnya. Wanita itu segera memasak untuk keperluan perutnya yang sudah merauk meminta jatah makan siangnya.
Setelah memasak, Azkia menyantap dengan nikmat. Tiada henti wanita itu memuji masakannya sendiri. Sambil di temani film dari negeri ginseng yang menampilkan pria ganteng idola dari semua kaum hawa.
“ Ya Allah! Opa kenapa kau begitu tampan! Sisakan satu di dunia ini yang seiman denganku !,” Seru Azkia sambil senyum tak jelas membayangkan seorang pangeran akan datang dalam kehidupannya.
Usai makan Azkia merapikannya perabot dapur yang kotor lalu membersihkannya. Setelah itu ia beristirahat sebentar lalu mengambil bukunya serta laptop miliknya untuk mengerjakan beberapa tugas.
Hampir dua jam wanita itu menghabiskan waktunya, akhirnya tugasnya sudah selesai. Tak lupa Azkia mengirimkannya ke alamat email Rizkia.
Setalah selesai mengerjakan tugas Azkia menunaikan ritualnya kembali lalu segera merehatkan tubuhnya di atas sprimbet. Hanya sesaat wanita itu memainkan ponselnya, ia langsung terlelap terbuai dalam mimpi indahnya.
✨✨✨✨
Di tempat lain Alzam terdiam menatap luar kaca jendela mobil. Sejak tadi bayangan Azkia tertanam dala memorinya. Beberapa kali Alzam mengacak rambutnya sendiri. Kenzo yang duduk di samping sambil menyetir bingung melihat tingkah Alzam begitu aneh.
"Kamu kenapa ?," Tanya Kenzo.
"Enggak! Enggak kenapa-kenapa!," Sahut Alzam singkat lalu memakai airphone nya kembali.
Saat bari memejamkan matanya kembali, bayangan Azkia muncul begitu jelas. Alzam membuka matanya, ingin rasanya berteriak, namun lelaki itu tahan tak ingin ia terlihat aneh di depan Kenzo.
" Kamu kenapa bisa berada di perpus?," Tanya Kenzo.
" Mencari ketenangan! Di sana tempat yang pas tidak terlalu ramai!," Jawab Alzam.
" Setidaknya kabari aku! Apa kau tau aku sudah mencari mu kemana pun dan telfon mi tak kunjung kau jawab!," Ujar Kenzo.
"Iya maaf! Aku ingin tidur,! Kalau sudah sampai di rumah bangunkan aku!," Pinta Alzam lalu menutup matanya sambil menghitung rumus agar bayangan Azkia hilang.
" Ada apa dengannya hari ini?, Apa moodnya tidak bagus?," Gumam Kenzo.
Bersambung....
Jangan lupa untuk:
👍 like
💬 komentar
❤️ favorit
🎟️ vote
🥀☕ berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini
__ADS_1