
Rizkia yang sejak tadi tidak begitu tenang saat menunggu Azkia tak kunjung datang di dalam kelas. Sudah hampir sejam lebih Azkia tidka memunculkan barang hidung nya.
" Anak ini di mana sih?," Gumam Rizkia.
Alzam melihat dari belakang, ia sejak tadi bingung mengapa Azkia tak ada di kursinya. Sejak Azkia dia panggil oleh dosen Azkia tak lagi kembali sampai saat ini.
" Apa dia baik-baik saja?," Seru Alzam dalam hati.
Setelah jam kampus selesai, alz mendekat ke arah Rizkia sejak tadi wanita itu terlihat gelisah mengotak-atik handphone miliknya.
" Azkia di mana?," Tanya Alzam membuat Rizkia seidkit terkejut saya mendegar pertanyaan Alzam, yang tiba-tiba sudah berada di samping nya.
" Aku enggak tau! Azkia tak membawa handphone miliknya! Ha anak itu membuat Ki kahwt!," Ujar Rizkia. Wanita itu sejak tadi menyuruh pengawalnya untuk mencari Azkia di sekitar kampus tapi tetap saja Azkia tak di temukan.
Mendegar penjelasan rizkia, Alzam menjadi khawatir, ia segera berlari meninggalkan Alzam menuju ke kelas Kenzo lebih dulu.
Sesampainya di kelas Kenzo yang baru saja keluar dari ruangannya, Alzam mengatur nafasnya.
" Aku minta bantuan mu! Azkia sejak tadi tidak berada di kelas! Aku takut terjadi apa-apa padanya, apalagi kemarin Azkia bertengkar dengan salah satu senior di kampus ini!," Jelas Alzam.
Kenzo menatap Alzam seidkit bingung, kenapa Alzam begitu kahwatir dengan Azkia, apa Azkia begitu berharga untuknya. Tapi melihat ke kahwatiran Alzam begitu besar membuat Kenzo menyimpulkan sendiri bahwa Azkia sudah sangat berarti bagi Alzam.
" Baiklah!," Sahut Kenzo.
🍂🍂🍂🍂🍂
Azkia membuka kedua kelopak matanya, pandangannya begitu gelap hanya secercah cahaya yang masuk ke dalam celah jendela sedikit menerangi ruangan kala itu. Azkia memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing, obat bius yang membuat Azkia pingsan masih ia rasakan sampai saat ini.
Entah sudah berapa lama ia pingsan, tapi Azkia masih melihat cahaya di balik jendela kecil itu masuk ke dalam.
" Ah sial! Aku di mana ini?," Gumam Azkia.
" Aku harus keluar!," Ujar Azkia berusaha untuk berdiri. tanpa ada rasa takut Azkia berusaha mencari jalan keluar agar bisa keluar dari pintu itu.
" Ada orang di luar!" Teriak Azkia tapi beberapa detik kemudian tak ada satupun orang yang menyahut. Azkia berusaha mencari pintu tapi semua itu sia-sia pintu yang menjulang tinggi dengan bahan besi Azkia tak bisa membukanya.
" Sepertinya ini terkunci dari luar!," Guamam Azkia.
__ADS_1
Azkia berusaha mencari jalan lain mencari cela agar badannya yang super mungil itu bisa keluar dari ruangan itu. Akhirnya Azkia menemukan sebua jendela yang tertutup oleh beberapa kayu menyilang.
" Aku harus hancurkan!," Ujar Azkia.
Azkia sedikit menjauh memperbaiki kuda-kudanya dengan mantap, satu kali tendangan Azkia layangkan mendendangkan kayu itu dengan kuat.
" Ini belum cukup!," Seru Azkia.
Azkia berusaha keras menendang kayu itu hingga pergelangan kakinya terluka. Keringat bercucuran keluar membahasi keningnya. Udara yang begitu sedikit masuk membuat Azkia sesak unyo bernafas.
" Aku enggak boleh nyerah! Aku harus keluar!," Ujar Azkia. Mencoba melayangkan tendangannya ke arah jendela, akhirnya kayu itu hancur saat tendangan kuat Azkia layangkan. Wanita itu benar-benar tak mempedulikan kakinya saat ini.
Darah yang mengalir dari pergelangan kaki Azkia membuat Azkia lemas, wajahnya sudah begitu sangat pucat saat ini. Namun, wanita itu masih terlihat begitu kuat.
Azkia mengambil kayu yang sudah ia hancurkan tadi lalu memukul ke arah kaca jendela begitu keras hingga hancur.
" Aku bisa keluar!" Ujar Azkia lemas berjalan mendekat ke arah jendela. Saat ia mengeluarkan kepalanya ternyata gedung ia berada di gedung yang cukup tinggi Azkia melihat ke arah bawah.
" Ah sial! Aku tidak bisa keluar!," Uajr Azkia terduduk lemas sambil melihat pergelangan kakinya yang masih mengeluarkan darah hingga membahasi celana yang ia pakai.
Azkia begitu lemas menyandarkan dirinya di tembok, saat itu terdengar suara sangat samar, seperti memanggil namanya, Azkia pandangannya sudah sangat buyar tidak bisa melihat apapun saat ini ia sudah sudah tak sadarkan diri.
" Apa ini waktuku untuk pergi!," Batin Azkia.
🏥🏥🏥
titt...tittt...tittt..
Azkia perlahan membuka matanya, melihat sekeliling ruangan. Azkia dapat merasakan bau obat yang sebegitu menyengat, ia tau saat ini dirinya berada di rumah sakit. Pandangan Azkia berjalan hingga menuju ke arah samping melihat sahabatnya Rizkia berbaring di sampingnya dengan posisi duduk.
Rizkia yang menyadari gerakan Azkia, terbangun.
"Azkia, Alhamdulillah Lo sudah sadar! Aduh gua khawatir banget!," Ujar Rizkia begitu bahagia memeluk sahabatnya.
" Awww..!," Seru Azkia saat Rizkia memeluknya seperti itu. Rizkia dengan cekat melepaskan pelukannya, saking bahagianya ia melupakan rasa sakit Azkia.
" Kamu bisa menemukan ku!" Seru Azkia.
__ADS_1
" Kamu lupa siapa gua dan Lo harus berterimakasih kepada Kenzo, dia membantu dalam proses pencarian Lo!" Jelas Rizkia.
" Kak Kenzo? Kenapa ?" Seru Azkia dalam hati.
" Lo tau saat gua tiba di rumah sakit saat mendengar dari pengawal gua bahwa Lo udah di temukan! Gua bahagia banget, tapi ada hal romantis loh yang terjadi antara Lo dan Kenzo!," Goda Rizkia.
" Hal romantis maksud kamu apa?," Tanya Azkia.
" Kak Kenzo duduk di hadapan lo sambil memegangi tangan Lo Azkia! Aku tau dari baju yang ia gunakan saat di kampus tadi pagi! Wah sepertinya cinta akan bersemi di antara kalian! Gua gak mau ganggu jadi gua menunggu aja sampai kak Kenzo pergi dan menitip Lo di gua!," Jelas Rizkia.
Mendegar penjelasan Rizkia, Azkia terdiam. Apa yang di katakan Rizkia itu nyata?, Seorang Kenzo yang begitu dingin kenapa melakukan hal ini padanya?, Apalagi mereka tak begitu dekat?.
" Mungkin dia ingin berbalas Budi karena aku menjaga sepupunya Alzam! Saat aku sembuh aku harus mengucapkan terimakasih padanya dengan benar!," Seru Azkia dalam hati.
Rizkia menceritakan semuanya kepada Azkia tentang rencana penculikannya yang di lakukan oleh senior bernama Eggy itu. Seorang mahasiswa yang pernah Azkia tolak dan bermasalah saat di kantin.
Sekarang Eggy berserta beberapa orang yang bekerja sama dengannya sudah berada di dalam jeruji besi, hukuman yang mereka lakukan mungkin akan setimpal dengan perbuatan mereka.
" mulai sekarang Lo mau kemanapun harus bareng sama gua! Tidak ada penolakan apapun!," Ujar Rizkia.
" Baiklah, aku tak ingin menolak! Omelan mi bisa membuat telingaku sakit!," Sahut Azkia tertawa kecil. Rizkia ikut tertawa bersama Azkia. Mereka berdua akhirnya bercerita banyak hal, tanpa sadar sepasang dua mata sedang menatap mereka dari jarak jauh.
" Syukurlah dia baik-baik saja"...
Bersambung...
Jangan lupa untuk:
👍 Like
💬 Komentar
❤️ Favorit
🎟️ Vote
☕🥀 Berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini
__ADS_1