
Keesokan harinya saat jam istirahat, seperti biasa Arka menghampiri bangku Tia untuk ke kantin bersama. Ketika Arka dan Tia akan keluar dari kelas, tiba-tiba Vanessa memanggil Arka.
“Iya?” balas Arka sambil berbalik.
“Kemarin aku ke rumahmu, tapi kamu tidak ada di rumah. Katanya kamu sekarang tinggal di apartemen ya?” tanya Vanessa pada Arka.
“Lalu apa urusanmu?” tanya Arka balik.
“Ya aku kan teman kamu. Masa enggak boleh tahu apartemen kamu di mana?” jawab Vanessa seraya tersenyum.
“Enggak. Enggak penting juga,” balas Arka jutek lalu pergi sambil memeluk bahu Tia.
“Sial! Aku dicuekin,” gumam Vanessa kesal.
“Arka, jangan begitu sama Vanessa … “ ucap Tia pada Arka dengan pelan sambil berjalan ke arah kantin.
“Biarin saja. Aku enggak butuh dia. yang aku butuhin hanya kamu … “ balas Arka sambil tersenyum pada Tia. Tia merasa bahagia mendengar kata-kata Arka. Ia pun mencubit hidung Arka dengan manja.
***
Pulang sekolah kali ini Tia tidak bisa ikut ke apartemen Arka karena harus kerja kelompok dengan teman-temannya yang lain. Kebetulan sekali, kali ini Tia satu kelompok dengan Vanessa. Sehingga Tia harus kerja kelompok di rumah Vanessa. Untungnya Tia masih satu kelompok juga dengan Salsa.
“Wah rumah kamu besar ya Vanessa … “ ujar Tia takjub ketika sudah sampai di rumah Vanessa.
“Yaiyalah, aku kan kaya,” balas Vanessa jutek lalu masuk ke dalam rumah. Seketika Tia merasa sedih, semua teman-temannya kaya raya, sedangkan ia orangtua saja tidak punya, apalagi rumah.
“Kamu kenapa Tia?” tanya Salsa yang melihat perubahan pada wajah Tia.
“Ah tidak apa-apa … “ balas Tia seraya tersenyum paksa.
Kini mereka bertiga mengerjakan tugas yang diberikan guru pada mereka. Vanessa sibuk memainkan ponsel, sedangkan yang mengerjakan tugasnya Tia dan Salsa.
“Eh Tia, sampai kapan kamu akan pacara sama Arka? Percuma juga diterusin, nanti juga bakalan pisah,” celetuk Vanessa tiba-tiba.
“Maksud kamu apa Vanessa?” tanya Tia tidak mengerti sambil mengeryitkan dahinya.
__ADS_1
“Kamu tahu sendiri kan Arka anak orang kaya, orangtuanya pasti enggak akan merestui hubungan kalian. Jadi mending putus dari sekarang, dari pada nanti ujung-ujungnya putus juga,” balas Vanessa sambil nyengir.
“Vanessa kamu jangan gitu. Kenapa kamu syirik banget sih sama Tia?” ujar Salsa tidak suka Vanessa berkata kasar pada Tia.
“Emang kenyataannya gitu kan? Harusnya Tia tahu diri, siapa dia siapa Arka!” jawab Vanessa.
“Udah kita pulang aja Tia. Tugasnya juga sudah selesai,” ucap Salsa pada Tia seraya berdiri dan membereskan barang-barangnya. Tia pun menurut dan tidak berkata apa-apa. Dia mencerna cercaan Vanessa dan membenarkan semuanya.
***
Malam hari seperti biasa Arka menelepon Tia sebelum tidur, tapi kali ini Tia tidak menerimanya. Ia hanya memandangi ponselnya yang bergetar dan berkedip berkali-kali karena ada panggilan dari Arka.
“Maaf Arka … “ gumam Tia lalu membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Tia teringat kembali kata-kata Vanessa tadi siang. Ia pun sadar, seharusnya dari awal ia tidak menjalin hubungan dengan Arka. Bagaimanapun status sosial mereka memang berbeda. Tia pun menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar untuk menenangkan pikirannya.
***
Keesokan harinya, ketika sampai di sekolah, Arka segera masuk ke dalam kelasnya untuk mencari Tia. Tidak biasanya Tia tidak menjawab teleponnya. Arka pun menjadi khawatir. Semalaman ia menjadi gelisah.
“Tidak apa-apa Arka … “ balas Tia seraya tersenyum.
“Kenapa tadi malam tidak menjawab teleponku?” tanya Arka lagi.
“Maaf, tadi malam aku sudah tidur, jadi tidak tahu kalau kamu telepon … “ jawab Tia beralasan.
“Ya sudah kalau begitu … “ balas Arka tersenyum sambil membelai rambut Tia. Setelah itu Arka kembali ke bangkunya karena bel tanda masuk sudah berbunyi.
***
Akhir-akhir ini Tia mulai menghindari Arka. Ia sudah tidak mau diajak ke apartemen Arka lagi dengan berbagai macam alasan. Telepon dari Arka pun jarang ia terima. Arka merasa ada yang aneh pada Tia. Ketika hari Minggu, biasanya mereka selalu jalan bersama, tapi kali ini Tia menolaknya dengan alasan tidak enak badan. Arka pun mendatanginya ke panti asuhan di mana Tia tinggal.
Ketika Arka datang, Tia merasa terkejut. Ia tidak menyangka Arka akan datang untuk menjenguknya. Arka datang dengan membawa banyak makanan dan buah-buahan. Tia pun menemuinya dan duduk di kursi yang ada di teras panti.
“Kamu kenapa?” tanya Arka pada Tia. Ia mulai merasa curiga dengan perubahan sikap Tia yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Arka, aku hanya tidak enak badan saja … “ balas Tia seraya tersenyum lembut pada Arka.
“Kenapa akhir-akhir ini kamu menghindariku?” tanya Arka tiba-tiba.
Deg!
Jantung Tia rasanya berhenti berdetak. Ia tidak menyangka Arka akan menyadari sikapnya yang mulai menghindarinya.
“Tidak Arka. Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Tia mengelak.
“Jangan bohong padaku, aku mengenalmu sudah lama … “ balas Arka sambil memegang kedua bahu Tia.
Tia pun tidak kuasa menahan tangisnya. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya bergetar, dan tiba-tiba air mata lolos dari pelupuk matanya.
“Maafkan aku Arka … “ ucap Tia sambil memejamkan matanya.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Arka tidak mengerti.
“Aku ingin kita putus saja … “ jawab Tia tanpa memandang Arka.
“Kenapa? Apa salahku?” tanya Arka sambil memegang bahu Tia lebih kuat. Ia tidak menyangka Tia akan meminta putus darinya.
“Tidak apa-apa Arka, pergilah! Aku mau istirahat … “ balas Tia lalu menepis tangan Arka di bahunya dan masuk ke dalam sekaligus menutup pintunya meninggalkan Arka yang masih bingung dengan sikapnya.
“Tia! Tia!” teriak Arka sambil menggedor-gedor pintu.
Tia menangis di balik pintu. Ia tidak tega berlaku kasar terhadap Arka, tapi ia harus melakukan ini. Ini semua ia lakukan demi kebaikan Arka. Banyak wanita di luar sana yang lebih pantas untuk bersanding dengan Arka. Jadi ia memilih untuk mundur, ia sadar siapa dirinya. Ia tidak pantas untuk Arka.
Arka menunggu Tia keluar sambil duduk di depan pintu. Tidak lama kemudian hujan pun mulai turun. Tia mengintip Arka dari jendela. Ia merasa kasihan pada Arka. Saat Tia mengintip, bahunya ditepuk Bu Fatimah dari belakang. Tia terkejut dan menaruh jari telunjuk pada bibirnya memberikan kode supaya Bu Fatimah tidak berisik.
“Ada apa Tia?” tanya Bu Fatimah sambil berbisik.
“Arka, Bu … “ jawab Tia lalu menangis dan memeluk Bu Fatimah.
“Iya, ibu mengerti Nak … “ balas Bu Fatimah lalu memeluk Tia dan membelai kepalanya. Tia menangis di dada Bu Fatimah. Bu Fatimah tahu bagaimana perasaan Tia. Tia sudah menceritakan semuanya sebelumnya pada Bu Fatimah.
__ADS_1