Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 16


__ADS_3

Tia membuka pintu itu dengan pelan-pelan setelah laki-laki di dalam ruangan itu menyuruhnya masuk. Laki-laki muda berusia 25 tahun itu menatap ke arah pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintunya. Ia pun mengerutkan dahinya saat melihat Tia masuk ke dalam ruangannya.


“Siapa kamu? Ada yang bisa saya bantu?” tanya laki-laki itu yang ternyata bernama Farel.


“Maaf Pak, nama saya Tia. Saya datang ke sini untuk melamar pekerjaan. Dua hari yang lalu saya melihat ada lowongan pekerjaan di sini,” tutur Tia dengan sopan.


“Duduklah!” ujar Farel. Tia pun mengangguk dan duduk di kursi yang ada di depan meja Farel.


“Mana CV kamu?” tanya Farel seraya menyodorkan tangannya.


“Maaf Pak, saya tidak membawanya. Saya baru saja lulus sekolah dan ijazah saya belum keluar … “ jawab Tia jujur.


Farel pun melihat Tia dengan seksama. Ia melihat wajah Tia cantik, tapi tubuhnya bisa dibilang kurus atau di bawah berat badan normal. Ia pun merasa kasihan pada Tia.


“Kamu bisa mencuci piring?” tanya Farel seraya tersenyum pada Tia.


“Bisa Pak,” jawab Tia seraya tersenyum juga.


“Ya sudah, kamu bisa mulai bekerja besok. Buatlah surat lamaran kerja yang berisi biodatamu. Serahkan padaku besok,” ujar Farel pada Tia.


“Saya diterima kerja Pak?” tanya Tia tidak percaya dengan raut wajah bahagia.


“Iya,” jawab Farel singkat.


“Terima kasih Pak, terima kasih,” ucap Tia seraya menjabat tangan Farel dengan semangat.


Setelah itu Farel menerangkan jam kerja, peraturan, dan gaji yang berlaku di cafenya. Tia pun mengerti lalu pamit undur diri.


Tia keluar dari café itu dengan senyum mengembang di bibirnya. Ia merasa sangat bahagia. Ini pertama kalinya ia mendapatkan pekerjaan. Meskipun hanya sebagai tukang cuci piring, tapi ia bersyukur.


Sesampainya ia di tempat kos, ia melihat Arka sudah berdiri menunggunya sedari tadi di depan pintu kamarnya.


“Dari mana kamu?” tanya Arka sedikit kesal. Ia sudah menunggu Tia hampir dua jam, tapi Tia tidak muncul juga. Di telepon pun tidak ada jawaban karena Tia meninggalkan ponselnya di dalam kamar.


“Aku keluar sebentar Arka,” jawab Tia lembut sambil membuka kunci pintu kamarnya.


“Ke mana?” tanya Arka seraya masuk ke dalam kamar Tia setelah pintunya terbuka.

__ADS_1


“Aku … aku mencari kerja,” jawab Tia singkat.


“Kenapa kamu mencari kerja? Aku bisa memberimu uang,” ucap Arka sedikit marah.


“Tidak Arka, aku tidak mau merepotkanmu lagi,” sahut Tia tertunduk. Ia cukup sadar diri untuk tidak merepotkan orang lain lagi.


“Sudah dapat?” tanya Arka sambil menatap Tia. Tia menganggukkan kepalanya.


“Di mana?” tanya Arka lagi.


“Di café tempat kita makan dua hari yang lalu,” jawab Tia lirih. Ia takut kalau Arka marah, tapi ia juga butuh pekerjaan untuk menyambung hidupnya. Tidak mungkin ia meminta uang Arka terus-terusan.


“Ya sudah, ayo makan. Aku tadi membeli makanan sebelum datang ke sini,” ujar Arka seraya memberikan kantong kresek pada Tia. Tia pun menerimanya lalu memindahkan makanan itu ke piring.


***


Keesokan harinya


Tia POV


Pagi ini aku bangun tidur dengan semangat. Ini hari pertamaku bekerja, aku tidak mau datang terlambat dan memberikan kesan yang buruk di hari pertamaku bekerja. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku sarapan roti yang kubeli kemarin di swalayan dengan sisa uang yang diberikan Arka.


Sesampainya aku di sana, sudah banyak karyawan yang datang dan bersih-bersih seperti menyapu, mengepel, mengelap meja, dan kaca.


Pak Farel pun juga sudah datang dan melambaikan tangannya padaku ketika melihatku datang. Ia mengajakku masuk ke dalam ruangannya. Aku memberikan surat lamaranku padanya dan ia membacanya.


“Ini seragammu. Gantilah pakaianmu sebelum bekerja,” ucap Pak Farel seraya menyerahkan sekantong kresek seragam untukku bekerja.


“Karena belum ada piring kotor, kamu bisa membantu karyawan yang lain bersih-bersih dan menyiapkan bahan makanan di dapur,”tutur Pak Farel. Aku pun mengangguk dan pamit padanya.


Setelah aku mengganti pakaianku dengan seragam, aku membantu menyiapkan bahan makanan di dapur. Aku bekerja tanpa bersuara karena aku pegawai baru di sana dan tidak ada seorang pun yang kukenal.


“Hai … “ sapa seseorang dengan tiba-tiba. Aku pun menoleh padanya dan tersenyum.


“Kamu anak baru?” tanya gadis yang tadi menyapaku.


“Iya, namaku Tia,” jawabku.

__ADS_1


“Aku Febri. Semoga kamu betah bekerja di sini,”  balasnya seraya tersenyum aku pun membalas senyumnya.


Siang hari pengunjung café semakin ramai. Piring dan gelas kotor pun semakin menumpuk di depanku. Aku mencucinya dengan sabar karena memang hanya ini pekerjaan yang bisa aku lakukan sekarang.


“Tia … “ panggil Pak Farel yang tiba-tiba berada di sampingku. Aku terkejut karena terlalu fokus mencuci piring sehingga tidak mengetahui kalau Pak Farel berada di sampingku.


“Iya Pak,” sahutku sopan.


“Kamu sudah makan?” tanyanya padaku.


“Belum Pak,” jawabku.


“Makanlah dulu. Bekerja di sini harus memprioritaskan kesehatan juga,” saran Pak Farel. Aku pun menurut padanya karena memang perutku sudah lapar. Tadi pagi aku hanya sarapan dengan roti.


“Febri, sini kamu!” panggil Pak Farel pada Febri yang tidak jauh dari kami.


“Iya Pak,” ucap Febri, gadis yang berkenalan denganku tadi pagi.


“Gantikan Tia mencuci piring, dia belum makan,” perintah Pak Farel. Febri pun mengiyakan perintah Pak Farel.


Pak Farel menarik tanganku dan mengajakku masuk ke dalam ruangannya. Di sana sudah ada dua porsi makanan di atas meja.


“Duduk dan makan,” ujar Pak Farel padaku.


“Saya makan di luar saja Pak,” ucapku pada Pak Farel. Aku tidak enak dengan karyawan lain.


“Aku mau bicara denganmu setelah makan. Jadi cepat makan,” perintahnya. Aku pun menurut


dan makan bersama Pak Farel.


“Kamu tidak punya orang tua?” tanya Pak Farel setelah kami menghabiskan makan siang kami. Aku mengangguk pelan.


“Kamu tinggal di mana?” tanyanya lagi.


“Di kos-kosan dekat sini Pak. Dulu saya tinggal di panti asuhan. Karena sebentar lagi saya akan kuliah di kampus ABC, jadi saya memilih tinggal di kosan yang dekat dengan kampus,” jawabku sopan. Pak Farel mendengarkan ceritaku dengan seksama.


“Ya sudah, kamu bisa kembali bekerja sekarang,” ujarnya. Aku pun menundukkan kepalaku dan pamit padanya.

__ADS_1


Ketika aku keluar dari ruangan Pak Farel, beberapa karyawan lain memandangku dengan tatapan aneh. Entah apa yang membuat mereka seperti itu. Aku pun melangkahkan kakiku ke dapur untuk mengerjakan pekerjaaanku yang dikerjakan Febri tanpa memperdulikan apa yang ada dipikiran mereka.


__ADS_2