
Malam hari Arka merasa panas pada tubuhnya. Kepalanya pusing dan hidungnya tersumbat. Ia turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga dan pergi ke dapur. Ia menuang air putih pada gelas yang ada di meja makan dan duduk di meja makan sambil minum air putih.
Tidak berapa lama kebetulan Bu Widya juga pergi ke dapur hendak mengambilkan suaminya minum. Ia melihat Arka sedang duduk di meja makan dengan wajah pucat. Ia pun menghampiri Arka dan menyentuh keningnya.
“Kamu sakit Arka?” tanya Bu Widya setelah merasakan panas pada kening Arka.
“Tidak Ma … ” jawab Arka. Ia tidak mau mamanya tau kalau ia sakit
“Tidak bagaimana? Badan kamu panas begitu. Mama panggilkan dokter ya?” Bu Widya menawarkan.
“Tidak usah Ma, ini hanya demam biasa, nanti juga sembuh sendiri,” balas Arka menolak. Setelah itu ia bangkit dari duduknya dan hendak kembali ke kamarnya, tapi sebelum ia naik tangga tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan akhirnya piingsan.
Bu Widya yang melihat anaknya pingsan segera menjerit memanggil nama Arka dan suaminya. Tidak berapa lama Pak Hendro keluar dari dalam kamarnya begitu juga dengan pembantunya yang kamarnya bersebelahan dengan dapur.
“Ada apa Ma?” tanya Pak Hendro pada istrinya.
“Arka pingsan Pa … “ jawab Bu Widya dengan panik.
Pak Hendro pun segera mengangkat tubuh Arka ke kamar kosong yang ada di lantai bawah. Bu Widya memerintahkan pembantunya untuk menyiapkan air hangat dan mengompres Arka. Sementara itu Bu Widya mengambil telepon yang ada di ruang tengah untuk menelepon dokter pribadi keluarganya.
Empat puluh lima menit kemudian dokter pun datang. Dokter itu memeriksa dan memasang selang infus pada tangan kiri Arka. Setelah memberikan obat, dokter itu pun pamit pulang.
Pak Hendro dan Bu Widya menjaga Arka di dalam kamar itu. Bu Widya mengompres kening Arka dengan air hangat. Pak Hendro duduk di sebuah sofa sambil memperhatikan.
“Kenapa Arka bisa sampai sakit begini? Bukankah tadi pagi ia baik-baik saja?” tanya Pak Hendro pada istrinya.
__ADS_1
“Tadi sore Arka kehujanan Pa, dia pulang dalam keadaan basah kuyup,” jawab Bu Widya.
“Apa dia tidak punya jas hujan di dalam jok motornya?” tanya Pak hendro lagi.
“Namanya anak muda Pa, sudahlah yang penting Arka tidak apa-apa. Hanya kecapekan dan gejala flu saja,” balas Bu Widya menenangkan suaminya.
Tidak berapa lama Arka pun sadar. Kepalanya terasa pening dan mulutnya terasa pahit. Ia pun meminta minum pada mamanya. Bu Widya memberikan air minum pada Arka dan membantunya dengan posisi setengah duduk.
Arka merasa nyeri pada tangan kirinya, ia pun menoleh pada tangannya dan melihat ada jarum infus di sana.
“Kenapa Arka diinfus segala Ma?” tanya Arka sambil mengeryitkan dahinya.
“Kamu tadi demam dan pingsan Arka. Besok pagi tidak usah masuk sekolah,” balas mamanya.
“Tapi Ma … Arka mau sekolah saja,” ucap Arka. Ia ingin bertemu Tia setiap hari. Kalau ia tidak masuk sekolah, ia tidak bisa bertemu dengan kekasihnya itu.
Arka mendengus kesal. Ia mau memberitahu Tia, tapi ponselnya ada di kamarnya yang berada di lantai atas.
***
Keesokan harinya, saat jam pertama pelajaran dimulai, Tia memandangi bangku Arka yang kosong. Ia menjadi gelisah dan tidak tenang. Tidak biasanya Arka tidak masuk sekolah tanpa memberi kabar padanya.
“Sa … Arka kenapa ya? Tumben banget enggak ada kabarnya,” tanya Tia pada Salsa sahabatnya.
“Enggak tahu juga Tia, coba kamu kirim pesan atau telepon ponselnya,” jawab Salsa menyarankan.
__ADS_1
“Iya Sa … “ balas Tia menyetujui saran dari Salsa.
Selama pelajaran berlangsung, Tia tidak bisa fokus. Ia terbayang-bayang Arka yang tidak masuk sekolah hari ini. Setelah bel tanda istirahat berbunyi, Tia segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon Arka. Sayangnya, hingga Tia menelepon lima kali pun, tidak ada yang menjawab panggilan teleponnya. Tia semakin khawatir dengan keadaan Arka.
“Sa … Arka kenapa ya? Panggilan teleponku juga tidak dijawab dari tadi … “ ujar Tia semakin khawatir.
“Sabar Tia, mendingan kita makan dulu ke kantin sambil minum es, bia adem pikiran. Hehe … “ ajak Salsa. Tia pun menyetujuinya.
Sementara itu Arka di rumahnya sedang menjerit-jerit minta keluar dari kamar itu. tadi pagi ia ngotot ingin masuk sekolah, tapi tidak diizinkan, bahkan Bu Widya sampai mengunci kamarnya. Sedangkan ponsel Arka di kamarnya yang berada di lantai atas. Sebelum tidur tadi malam, Arka mengubah mode senyap pada ponselnya, sehingga saat Tia menelepon dan mengirim pesan ponsel itu tidak mengeluarkan bunyi sama sekali.
“Ma! Keluarkan Arka dari sini Ma!” jerit Arka dari balik pintu.
“Kamu ini kenapa Arka? Sudah tahu sakit masih ngotot mau berangkat ke sekolah. Mama melakukan ini demi kesehatan dan kebaikan kamu juga. Mama juga sudah menelepon sekolah kamu untuk meminta izin,” balas mamanya dari ruang tengah yang sedang menonton televisi.
Tidak lama kemudian asisten rumah tangga Bu Widya menghampirinya dan mengatakan bahwa bubur untuk Arka sudah siap. Bu Widya pun berdiri untuk mengambil bubur itu dan mengantarnya ke kamar Arka.
Bu Widya membuka pintu kamar itu dan mendapati Arka sedang berdiri di dekat jendela sambil menikmati pemandangan taman rumahnya. Arka merasa sangat bosan seharian berada di dalam kamar, ditambah lagi tanpa ponsel yang menemaninya. Paling tidak apabila ada ponsel di tangannya, Arka bisa memandangi wajah Tia dari setiap foto yang ada di dalam galeri ponselnya.
“Arka … ayo makan siang dulu mumpung buburnya masih hangat,” ucap Bu Widya sambil menaruh bubur itu di meja dekat tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. Arka menoleh sebentar pada mamanya lalu kembali memandang ke arah taman.
“Arka tidak lapar Ma,” jawab Arka jutek.
“Kamu harus makan yang banyak supaya cepat sembuh,” balas mamanya sambil mendekati Arka dan membelai bahunya.
Arka pun berpikir sejenak lalu menyetujuinya. Ia mau makan karena ingin cepat sembuh supaya bisa segera masuk sekolah dan bertemu Tia. Arka duduk di tepi tempat tidur dan Bu Widya menyuapinya.
__ADS_1
Setelah selesai makan dan minum obat, Arka kembali ke kamarnya di lantai atas untuk beristirahat dan mengecek ponselnya. Saat ia mengambil ponselnya, ternyata baterainya habis. Arka pun mengisi baterai ponselnya terlebih dahulu dalam keadaan mati.
Sementara itu, Tia yang tengah khawatir dengan keadaan Arka, menghubunginya berkali-kali, tapi tidak dapat tersambung.