Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 18


__ADS_3

Dua hari kemudian


Vanessa sedang melihat bayangannya di depan cermin. Dia tersenyum puas dengan penata rias yang merias wajahnya. Hari ini akan dilaksanakan wisuda di sekolahnya, jadi ia ingin menjadi yang tercantik dari yang cantik di sekolahnya.


“Sudah siap sayang?” tanya mamanya Vanessa ketika memasuki kamar Vanessa.


“Sudah Ma. Apa aku sudah cantik?” tanya Vanessa seraya tersenyum pada mamanya.


“Pasti dong. Anak mama memang yang paling cantik,” jawab Bu Monica sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Ayo segera berangkat, nanti kita terlambat. Tahu sendiri jalanan selalu macet,” ajak Bu Monica seraya keluar dari dalam kamar Vanessa. Vanessa pun mengikuti di belakang Bu Monica.


Sementara itu Tia dan Salsa sedang berada di sebuah salon. Mereka juga sudah selesai dirias dan akan segera berangkat ke sekolah. Tadi malam Tia menginap di rumah Salsa supaya bisa berangkat bersama.


“Kamu cantik banget Tia … “ ucap Salsa memuji Tia. Tia tersenyum malu-malu mendapat pujian dari sahabatnya.


“Terima kasih Sa. Kamu juga cantik,” puji Tia seraya tersenyum.


“Sudah siap sekarang?” tanya ayahnya Salsa.


“Iya,” balas Salsa lalu mengikuti ayahnya keluar dari salon begitu juga dengan Tia masuk ke dalam mobil.


Sesampainya mereka di sekolah, suasana sudah sangat ramai. Tia dan Salsa memasuki ruang aula bersama kedua orang tua Salsa. Tidak lama kemudian ponsel Tia berbunyi. Ia pun menerima panggilan telepon itu yang ternyata dari Farel.


“Hallo Pak … “ sapa Tia setelah menerima panggilan teleponnya.


“Tia, kamu di mana?” tanya Farel yang baru saja turun dari mobilnya.


“Di aula Pak, dekat pintu masuk,” jawab Tia.

__ADS_1


“Okey. Saya akan ke sana. Tunggu ya,” ucap Farel sebelum memutuskan sambungan teleponnya.


Farel melangkahkan kakinya sambil menggandeng tangan seorang wanita di sampingnya. Wanita itu tersenyum lembut pada Farel dan mengikuti langkah kaki Farel. Sesampainya di pintu aula, mereka pun menemukan Tia yang dengan sengaja menunggunya.


“Tia perkenalkan ini Putri, tunangan saya,” ucap Farel saat sudah berada di dekat Tia.


“Hallo saya Tia, pegawai di café Pak Farel,” sapa Tia seraya menjabat tangan Putri dan tersenyum.


“Iya, saya sudah tahu. Mas Farel sudah memberitahuku,” balas Putri dengan tersenyum.


Tidak berapa lama kemudian Vanessa dan keluarganya datang. Ia melihat Tia yang tengah berdiri dan berbincang bincag dengan Farel dan tunangannya. Ia pun menyeringai meledek. Ia tidak menyangka Tia akan mengikuti acara wisuda.


“Eh enggak nyangka kamu bisa ikut wisuda,” ucap Vanessa menyindir saat lewat di depan Tia. Tia hanya memandang Vanessa tanpa membalasnya.


Tidak lama kemudian acara wisuda akan segera dimulai, jadi semua tamu diharapakan masuk ke dalam aula.


Tiga jam berlalu


Cantik sekali. Kata Arka dalam hati.


Setelah mereka turun dari panggung, acara wisuda pun ditutup kepala sekolah dengan doa bersama. Kemudian para tamu mulai membubarkan diri dan keluar dari aula bergantian. Begitu juga dengan Farel dan Putri, mereka keluar tanpa menunggu Tia karena harus segera ke café.


“Tia … “ panggil Arka saat melihat Tia akan keluar dari aula. Tia pun menoleh ke belakang.


“Iya … “ sahut Tia dengan wajah takut karena dibelakang Arka ada Pak Hendro dan Bu Widya.


“Kamu sangat cantik hari ini,” ucap Arka saat sudah di depan Tia. Tia hanya tersenyum tidak berkata apa-apa. Bu Widya yang mendengarkan ucapan Arka memutar bola matanya dengan malas. Pak Hendro membelai bahu Bu Widya supaya sabar, agar Arka tidak mengurungkan niatnya untuk kuliah ke Amerika.


“Tia ayo … “ panggil Salsa yang sudah di luar ruang aula.

__ADS_1


“Arka, aku pergi dulu ya. Aku akan ke rumah Salsa,” pamit Tia.


“Baiklah, hati-hati sayang … “ balas Arka seraya membelai puncak kepala Tia. Bu Widya semakin ingin muntah mendengar kata-kata anaknya yang sok mesrah dengan Tia.


***


Rumah Arka


Arka dan kedua orang tuanya sudah sampai di rumah. Bu Widya menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tengah merasa lelah karena acara wisuda yang terasa sangat lama. Baginya acara wisuda tadi sangat membosankan, tidak seperti saat dia sedang arisan dengan teman-temannya.


“Arka, kamu lihat Vanessa tadi enggak?” tanya Bu Widya pada Arka yang duduk tidak jauh dari tempatnya berbaring.


“Kenapa, Ma?” tanya Arka balik seraya melepas sepatunya.


“Dia sangat cantik kan?” tanya Bu Widya.


“Biasa aja tuh,” jawab Arka lalu mengangkat sepatunya dan pergi meninggalkan Bu Widya. Ia tahu mamanya akan membahas Vanessa terus sehingga ia memilih pergi dan masuk ke dalam kamarnya setelah menaruh sepatunya di rak sepatu.


Sementara itu Tia di rumah Salsa sedang tiduran di atas tempat tidur bersama Salsa. Tia menatap langit-langit atap kamar Salsa yang berwarna putih bersih. Ia kembali mengingat-ingat kejadian waktu bertemu dengan Arka di aula sebelum pulang tadi. Ia merasa heran, kenapa orang tua Arka diam saja, tidak menghina dirinya seperti waktu itu.


“Tia, kamu kenapa?” tanya Salsa yang melihat Tia sedang melamun.


“Aku sedang berpikir, kenapa sikap orang tua Arka berubah. Padahal mereka tidak menyukaiku. Bahkan pernah menghinaku,” jawab Tia seraya mengubah posisi berbaringnya menjadi miring menghadap Salsa.


“Mungkin mereka berubah pikiran dan mau menerima kamu. Hanya kamu yang dicintai Arka. Aku yakin Arka laki laki yang setia. Sebentar lagi pasti kalian akan satu kampus juga. Arka kan tidak mau jauh-jauh dari kamu,” balas Salsa seraya memandang Tia.


“Iya Sa, aku harap juga begitu. Biar kita bisa bersama terus,” ucap Tia seraya tersenyum senang dengan memeluk guling Salsa.


Malam hari, Arka tidak bisa tidur. Tepatnya seminggu ini. Hari keberangkatannya ke Amerika semakin dekat. Ia tidak tega mengatakannya pada Tia. Arka yakin Tia akan sangat sedih saat mengetahuinya nanti. Di dunia ini hanya Arka yang Tia miliki. Betapa sedihnya hati Tia sudah bisa Arka bayangkan apabila ia pergi nanti.

__ADS_1


“Aarrrrggghhh!” Arka kesal seraya menjambak rambutnya sendiri. Ia kesal pada dirinya sendiri yang tidak berdaya melawan orang tuanya. Ia memandangi koper yang berada di pojok kamarnya. Semua barang yang akan ia bawa ke Amerika sudah siap. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Penndaftaran kuliah pun sudah ia lakukan secara online. Saat ini ia memikirkan bagaimana cara memberitahu Tia sebelum ia berangkat ke Amerika.


__ADS_2