Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 19


__ADS_3

Tiga hari lagi Arka akan berangkat ke Amerika. Hari ini Arka menjemput Tia di tempat kerjanya ketika jam pulang bekerja. Ia ingin menghabiskan sisa waktunya hanya bersama Tia. Ketika Tia keluar dari tempatnya bekerja, ia melihat Arka di depan café. Ia merasa terkejut dengan kejutan yang diberikan Arka.


“Arka!” seru Tia seraya menghambur ke arah Arka dan memeluknya. Arka tersenyum manis pada Tia.


“Kenapa kamu ke sini?” tanya Tia.


“Aku rindu padamu,” jawab Arka tetap dengan memamerkan senyum manisnya.


“Aku juga … “ balas Tia sambil bergelayut manja pada lengan Arka dan berjalan menuju motor Arka.


Arka pun memasang helm pada kepala Tia. Tia tersenyum senang sambil memandang Arka. Setelah itu Arka melajukan motornya ke apartemennya.


“Kenapa kita ke sini?” tanya Tia saat sudah sampai di apartemen Arka.


“Aku ingin merasakan masakanmu sayang,” jawab Arka.


Untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pergi ke Amerika. Imbuh Arka dalam hati.


“Okey, aku akan memasak yang sangat spesial untukmu,” jawab Tia dengan semangat.


Setelah masuk ke dalam apartemen Arka, Tia merasa terkejut saat melihat dua kantong kresek besar belanjaan yang tergeletak di atas meja makan. Ia memandang Arka seakan bertanya.


“Aku tadi berbelanja terlebih dahulu sebelum menjemputmu,” ucap Arka seraya tersenyum. Tia pun segera membongkar isi kresek itu setelah menaruh tasnya di atas sofa.


Setelah melihat bahan yang ada, Tia pun memasak di dapur dan Arka membantunya. Sambil mengupas sayuran dan mengirisnya, Arka memperhatikan Tia yang tengah membuat bumbu dengan semangat. Arka menggigit bibir bawahnya merasakan perih di hatinya. Sakit tapi tidak berdarah, itulah yang dirasakan Arka saat ini. Bukan karena putus cinta, tapi tidak rela berpisah dengan Tia untuk waktu yang sangat lama. Ia rela melakukan itu demi cintanya pada Tia agar bisa bersatu di masa depan.

__ADS_1


Setelah masakan siap, Arka dan Tia membawa masakan hasil karya mereka ke meja makan. Kemudian mereka makan bersama sambil bertukar cerita. Tia menceritakan kegiatannya di tempat kerja dan Arka mendengarkannya dengan seksama. Mata Arka tidak lepas dari Tia yang sedang berceloteh seperti anak umur lima tahun. Ia ingin merekam semua yang ia lihat ini di dalam memori otaknya. Ia ingin mengenang semua kenangan indah bersama Tia.


“Kapan kamu akan mendaftar kuliah Arka?” tanya Tia saat bersantai di depan ruang televisi setelah makan bersama tadi.


“Sebentar lagi,” jawab Arka sambil mengacak rambut Tia dan tersenyum.


Tapi di Amerika. Imbuh Arka dalam hati dengan sedih.


“Aku senang sekali kalau kita bisa kuliah bersama-sama. Dengan begitu kita bisa bertemu setiap hari seperti saat kita sekolah,” ucap Tia dengan senangnya.


“Iya … “ balas Arka singkat seraya tersenyum. Meskipun dari tadi ia tersenyum di hadapan Tia, tapi wajahnya terlihat sendu. Hatinya sangat sedih. Ia masih belum berani mengatakan yang sebenarnya pada Tia.


Pukul 20.00 Arka mengantar Tia pulang ke kos-kosannya.


***


“Mau ke mana kita?” tanya Tia dengan semangat.


“Ikut saja. Nanti kamu akan tahu,” jawab Arka seraya tersenyum lalu memasang helm pada kepala Tia. Karena perjalanan kali ini cukup jauh, Arka juga membawa jaket untuk Tia. Tia pun memakai jaket itu pada tubuhnya.


Arka melajukan motornya dengan tangan Tia yang melingkar di perutnya. Tia tersenyum sambil menempelkan kepalanya pada punggung Arka. Bagi Tia saat-saat bersama Arka adalah waktu yang sangat membahagiakan. Di dunia ini hanya Arka, Salsa, dan seluruh penghuni panti yang tulus menyayanginya. Arka tersenyum sambil membelai tangan Tia yang ada di perutnya.


Setelah satu setengah jam perjalanan, kini mereka sampai di pantai. Arka sengaja mengajak Tia ke pantai sore hari untuk melihat matahari tenggelam bersama. Tia menghambur ke pantai dengan senangnya setelah Arka membantunya melepas helm. Ini lah yang ingin Arka lihat, senyum dan tawa bahagia Tia. Semua ia rekam dalam memori otaknya dengan kamera mata. Ia memandangi Tia dari kejauhan dengan mata berkaca-kaca sambil mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Dadanya terasa berat untuk bernafas.


“Aku akan membuatmu bahagia di saat-saat terakhir kita Tia … “ gumam Arka lalu menghampiri Tia yang tengah menggambar di pasir pantai dengan jarinya.

__ADS_1


Arka mendekat dan melihat yang Tia gambar. Di pasir itu tertulis nama Arka dan Tia dengan bingkai hati yang sangat besar. Arka memandang Tia yang tengah tersenyum puas dengan hasil gambarnya. Arka mendekat pada Tia dan memeluknya dengan sangat erat seolah-olah tidak ingin kehilangan Tia. Tiba-tiba air mata Arka tidak bisa dibendung lagi. Isak tangis dari bibir Arka pun terdengar di samping telinga Tia.


“Arka kamu kenapa?” tanya Tia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Arka menangis.


“Aku mencintaimu,” jawab Arka singkat dengan bibir bergetar.


“Aku juga sangat mencintaimu Arka,” balas Tia seraya membalas pelukan Arka.


Tidak lama kemudian ombak datang membasahi kaki mereka dan mengikis gambar Tia di pasir. Tia pun cemberut karena gambarnya menghilang. Ia hendak menggambar lagi, tapi Arka tidak mau melepas pelukannya.


“Biarkan aku memelukmu sebentar lagi,” ucap Arka di telinga Tia. Tia pun menganggukkan kepalanya. Terlihat siluet tubuh mereka yang sedang berpelukan terkena pancaran sinar matahari senja yang sudah hampir tenggelam seluruhnya.


Semoga cinta kita tidak akan pernah terkikis seperti gambar di pasir itu meskipun jarak memisahkan kita. Batin Arka.


***


Sesampainya Arka di rumah, orang tua Arka sedang makan malam di ruang makan. Bu widya yang melihat Arka baru pulang segera menyapanya.


“Arka, dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang?” tanya Bu Widya di sela makannya.


“Jalan-jalan Ma,” jawab Arka dengan malas lalu melangkahkan kakinya hendak menaiki tangga.


“Ke mari, makan dulu!” ucap Bu Widya setengah berteriak.


“Arka tidak lapar, Ma,” balas Arka tanpa menoleh ke belakang dan tetap melanjutkan langkah kakinya naik ke atas menuju kamarnya.

__ADS_1


Setelah masuk ke dalam kamarnya, Arka masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia meyalakan shower dan berdiri di bawah siraman air shower. Ia memejamkan matanya dan terlintas bayangan Tia yang tengah tersenyum bahagia. Bibirnya bergetar. Air matanya jatuh bersama dengan air shower yang membasahi wajah serta tubuhnya. Ini lah cara efektif menangis tanpa ketahuan orang apabila hujan tidak turun. Arka berjongkok dan menangis sepuasnya meluahkan rasa sesak di dadanya.


__ADS_2