Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 30


__ADS_3

Setelah menaruh gagang telepon itu, Arka terduduk di lantai sambil mencengkeram tas kresek yang berisi pakaian untuk Tia. Tadinya ia pergi ke pantai untuk menghilangkan kesedihannya. Ia berharap rasa kecewa, sedih, dan marahnya akan pergi bersama ombak yang kembali ke tengah lautan, tapi nyatanya tidak. Ia malah bertemu dengan Tia lagi dan kenangan saat mereka masih bersama berputar kembali di otaknya.


“Kenapa kamu meninggalkanku? Apa salahku?” gumam Arka seraya menangis tersedu-sedu sendirian di tepi ranjangnya.


Arka masih tidak percaya pengorbanannya selama empat tahun ini sia-sia. Ia kembali dari Amerika dengan semangat untuk bertemu kembali dengan kekasihnya, tapi kekasihnya malah sudah menikah dengan orang lain. Di Amerika banyak yang menyukainya bahkan mengajaknya untuk berpacaran, tapi Arka menolaknya. Arka tetap kekeh pada pendiriannya yaitu mencintai satu wanita yaitu Tia.


***


Dua minggu kemudian


Karena Arka ingin melupakan Tia, akhirnya ia pun menerima tawaran papanya untuk bekerja di perusahaan menggantikan papanya. Ia ingin menyibukkan diri dengan pekerjaan. Arka yang dulunya laki-laki penyayang dan hangat, kini berubah menjadi laki-laki yang sangat dingin dan kejam.


Sudah satu minggu Arka bekerja di perusahaan. Semenjak ia memimpin perusahaan, semua peraturan ia rubah. Ia tidak suka karyawan yang bergosip dan datang terlambat. Kalau sampai ketahuan ada yang melanggar, ia tidak akan segan-segan untuk memecatnya detik itu juga.


Pagi ini ia datang ke perusahaan dengan wajah datarnya. Wajah tampan dan penuh dengan senyum yang ia punya dulu kini ia sembunyikan dengan sikap dingin dan garangnya.


“Selamat pagi, Pak … “ sapa salah satu seorang karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya. Arka hanya menundukkan kepalanya sebentar tanpa membalasnya.


Ketika ia akan memasuki lift, ia melihat salah satu seorang karyawan yang baru saja memasuki lobby perusahaannya dengan terburu-buru. Ia pun mengurungkan niatnya masuk ke dalam lift dan berbalik untuk menghampiri karyawan itu.


“JAM BERAPA INI?!” teriak Arka di depan karyawan itu dengan melotot.


Karyawan itu pun terkejut dan memejamkan matanya hingga menjatuhkan map yang ia bawa. Ia tidak menyangka Arka akan memergokinya datang terlambat. Ia datang terlambat karena ban motornya mendadak kempes di tengah jalan. Semua karyawan lain yang sedang berseliweran menjadi berdebar-debar mendengar teriakan Arka.


“Ma-maaf Pak … “ ucap karyawan itu dengan lirih.


“Pergi ke bagian HRD dan ambil pesangonmu sekarang!” perintah Arka sambil mengangkat tangannya dan menunjuk ke ruang kantor HRD.


“Tapi, Pak … “ ucap karyawan itu hampir menangis.

__ADS_1


“SAYA BILANG PERGI!” teriak Arka seraya melotot.


Karyawan itu pun akhirnya pergi dengan berlinang air mata.


“Buat karyawan yang lain, ingat! Peraturan saya tidak main-main!” seru Arka di tengah lobby.


“Iya, Pak,” jawab seluruh karyawan yang kebetulan ada di sana.


Setelah itu Arka masuk ke dalam lift dan memencet tombol 20 di mana ruangannya berada. Seusai kepergian Arka, semua kayawan di lobby pun akhirnya bisa bernapas dengan lega. Saking takutnya, mereka hampir menahan napas mereka.


Di lantai 20 Arka keluar dari lift setelah pintunya terbuka. Seorang sekretaris segera mengikutinya ketika melihat Arka datang. Dengan gugup dan tertunduk sekretaris itu masuk ke dalam ruangan Arka. Arka duduk di kursinya lalu memutarnya membelakangi sekretarisnya itu.


“Apa saja jadwal saya hari ini?” tanya Arka.


“Nanti siang pukul 10.00 ada meeting dengan klien dari perusahaan FG di restoran Melati. Hanya itu untuk hari ini Pak,” jawab sekretaris itu yang bernama Bella dengan sopan.


Bella pun segera keluar dari ruangan Arka dan menutup pintunya. Ia menghembuskan napas dengan lega setelah keluar dari ruangan Arka. Hawa di dalam ruangan Arka benar-benar mencekam. Lama-lama di dalam ruangan itu, ia benar-benar bisa mati berdiri karena menahan napas.


Pukul 09.50 Arka dan Bella sudah sampai di restoran Melati. Arka tidak suka datang terlambat. Ia sudah terbiasa disiplin sejak dulu. Setelah duduk Bella memesan satu cangkir capuccino untuk Arka dan satu gelas es jeruk untuk dirinya. Karena belum waktunya makan siang, jadi mereka hanya memesan minuman saja.


Tidak lama kemudian seorang wanita muda berusia 22 tahunan datang menghampiri mereka. Wanita itu langsung menuju meja Arka karena memang meja itu sudah dipesan khusus oleh Bella satu hari sebelum meeting ini dilaksanakan.


“Selamat siang … maaf saya terlambat karena tadi sedikit macet di jalan,“ sapa wanita itu sekaligus meminta maaf. Arka menganggukkan kepalanya seraya sedikit tersenyum yang dipaksakan. Wanita itu duduk di depan Arka dan memandang wajah Arka.


“Saya Sofi perwakilan dari perusahaan FG,” ucap wanita itu memperkenalkan dirinya seraya tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Arka.


“Arka,” balas Arka dengan menjabat tangan Sofi sekilas. Sofi pun tersenyum canggung dengan sikap Arka yang tidak ramah.


Setelah satu jam membicarakan masalah pekerjaan, akhirnya mereka pun menjalin kerja sama. Arka bersiap-siap pergi ketika urusan pekerjaanya selesai, tiba-tiba Sofi mencegahnya.

__ADS_1


“Apa tidak makan siang dulu, Pak? Sebentar lagi sudah masuk jam makan siang.” Sofi menawarkan makan siang bersama pada Arka.


“Tidak. Terima kasih,” jawab Arka lalu bangkit dari kursinnya dan pergi meninggalkan Sofi sendirian. Sofi mencebikkan bibirnya kecewa dengan sikap Arka yang cuek.


Sesampainya di perusahaan, Arka meminta Bella membelikan makanan di kantin perusahaan dan mengantarkannya ke ruangannya. Sambil menunggu makanan pesanannya datang, Arka menelepon teman SMAnya dulu yang kebetulan kuliah satu kampus dengan Tia, tapi berbeda jurusan.


“Hallo Bro … tumben telepon? Ada angin apa nih?“ sapa seseorang di seberang telepon.


“Aku mau tanya sesuatu padamu,” ucap Arka tanpa basa-basi.


“Apa?” tanya orang itu yang bernama Bobi.


“Dengan siapa Tia menikah?” tanya Arka.


“Oh Tia … dia menikah dengan Pak Reyhan. Dosen di kampus kami,” jawab Bobi.


“Apa mereka pacaran sebelumnya?” tanya Arka lagi.


“Aku tidak tahu Arka. Yang aku tahu Pak Reyhan baru mengajar di kampus ABC dan tiba-tiba saja mereka menikah,” balas Bobi.


“Ya sudah. Terima kasih infonya,” ucap Arka lalu memutuskan sambungan teleponnya.


“Jadi Tia menikah dengan dosennya sendiri? Kenapa?” gumam Arka sambil menerka-nerka alasan Tia tiba-tiba menikah dengan dosennya sambil mengetuk-ngetukkan bolpoin ke meja kacanya. Waktu di apartemen itu Tia juga tidak menjelaskan alasan dia menikah. Ia hanya mengucapkan permintaan maaf dan menyuruh Arka mencari wanita yang lebih baik darinya.


Tidak lama kemudian Bella masuk membawa nampan berisi makan siang Arka. Setelah menaruhnya di atas meja Arka, Bella segera keluar dari ruangan Arka.


“Terima kasih,” ucap Arka sebelum Bella menutup pintu ruangannya.


Arka pun segera menyantap makan siangnya mumpung masih hangat. Ia tidak suka makanan yang sudah dingin.

__ADS_1


__ADS_2