Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 28


__ADS_3

"Arka hentikan! Aku mohon ... " ujar Tia memohon, tapi Arka terus melanjutkan aksinya. Isak tangis Tia pun mulai terdengar.


"Ada apa, Sayang? Aku sangat merindukanmu, aku mencintaimu," ucap Arka sambil menatap wajah Tia.


"Arka, tolong jangan lakukan itu," ujar Tia sambil meneteskan air mata. Arka pun bangkit dari tubuh Tia.


"Ada apa, Sayang?" tanya Arka lagi dengan bingung.


"Arka, tolong jangan lakukan ini lagi. Ini tidak sepantasnya kita lakukan," ucap Tia sambil mengancingkan kembali kemejanya.


"Kenapa? Cepat atau lambat, kita akan segera menikah, Sayang," balas Arka sambil mengusap air mata Tia.


"Tidak Arka, tidak ... " ujar Tia dengan berderai air mata. Ia tidak bisa mengeluarkan kata – katanya, tapi ia harus menjelaskan semua secepatnya.


"Apa maksudmu dengan tidak?" tanya Arka yang mulai merasakan ada yang tidak beres dengan Tia.


"A-ku, aku ... sudah menikah Arka," jawab Tia dengan air mata mengalir semakin deras di pipinya.


"Kamu sudah menikah? Kamu bercanda kan, Sayang?” tanya Arka seakan tidak percaya apa yang sudah diutarakan Tia.


“Tidak. Aku serius,” jelas Tia seraya menatap mata Arka.


“Kenapa kamu menghianatiku Tia?! Aaahhhk!" seru Arka. Ia pun marah dan menjambak rambutnya sendiri.


"Maafkan aku Arka. Aku harap kamu bisa melupakanku dan menemukan orang yang lebih baik dariku," jawab Tia meminta maaf karena sudah menikah dengan orang lain di saat masih berstatus kekasih Arka. Sejujurnya Tia masih mencintai Arka, sangat mencintai Arka.


"Tia, apa kamu tidak sabar menungguku? Sampai-sampai kamu harus menikah dengan orang lain? Aku ke Amerika juga karena cintaku padamu, tapi setelah aku kembali ini balasanmu? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Arka kecewa pada Tia.


"Sudahlah Arka, maafkan aku, maafkan aku. kita sudah tidak bisa bersama lagi," jawab Tia lalu bersiap - siap pergi dan membuka pintu apartemen Arka.


"Selamat tinggal Arka ... " ucap Tia di ambang pintu sambil meneteskan air mata.


"Semoga kamu bahagia dengan suamimu, Tia," balas Arka lalu meneteskan air mata menyaksikan kepergian Tia.


"Terima kasih Arka," ujar Tia lalu pergi meninggalkan Arka yang menangis merasakan kepedihan di hatinya.


Selamat tinggal Arka, selamat tinggal cintaku, selamat tinggal kenangan. Aku tidak menyesal mengenalmu, kamu tidak salah, maafkan aku. Batin Tia. Ia berlari meninggalkan apartemen Arka sambil menangis. Dadanya terasa sangat sesak.


Setelah kepergian Tia, Arka menangis terduduk di lantai ruang tamunya. Ia tidak pernah menyangka cintanya akan kandas seperti ini. Ia belajar dengan sungguh-sungguh di Amerika agar bisa segera pulang dan bertemu dengan Tia. Ia masih ingat betul kenangannya bersama Tia sebelum pergi ke Amerika. Ia dan Tia berjanji akan selalu setia dan bersatu kembali setelah Arka pulang dari Amerika.


Flashback on


"Sayang, nanti sore nonton yuk?" ajak Arka pada Tia yang sedang menyetrika pakaiannya.

__ADS_1


"Okey sayang, tumben akhir - akhir ini kamu ngajakin ketemu setiap hari dan selalu mengajakku keluar?" tanya Tia sambil memandang Arka dengan heran.


"Enggak apa-apa sayang, i love you," jawab Arka sambil tersenyum.


“Aku pulang dulu ya, nanti sore aku jemput,” pamit Arka.


“Okey. Hati-hati Arka … “ balas Tia.


Arka pergi dari kos-kosan Tia melajukan motornya ke apartemen. Ia ingin tampil setampan mungkin malam ini. Hari ini adalah hari terakhir ia bertemu Tia. Ia ingin Tia tidak pernah melupakannya meskipun jarak memisahkan mereka.


Sore hari


Arka memandang bayangan dirinya di depan kaca. Setelah yakin dan mantap dengan penampilannya, Arka keluar dari apartemen dan melajukan motornya ke kos-kosan Tia.


Sesampainya Arka di kos-kosan Tia, ternyata Tia sudah siap. Tidak lama kemudian Arka melajukan motornya ke mall di mana bioskop berada dengan Tia berada di boncengannya.


Sesampainya di mall, Arka berjalan memasuki gedung mall dengan Tia yang bergelayut di lengannya sambil tersenyum. Sudah lama mereka tidak nonton di bioskop. Apalagi setelah Tia pindah ke kos-kosan dan bekerja, Tia tidak ada waktu bersantai seperti dulu.


Karena hari Minggu, suasana mall sangat ramai begitu juga dengan bioskopnya. Untuk membeli tiket, mereka harus antri yang lumayan panjang. Arka meminta Tia untuk menunggu duduk di sebuah kursi, tapi Tia menolaknya. Ia ingin berdiri antri bersama Arka. Setelah membeli 2 lembar tiket dan popcorn, Arka mengajak Tia masuk ke dalam gedung bioskop.


Di dalam bioskop, Arka memegangi tangan Tia dan tidak melepaskannya sedetik pun. Tia merasa aneh, tapi ia tidak curiga dengan kelakuan Arka. Ia terlalu fokus menonton film tanpa ia tahu sedari tadi Arka memandanginya. Meskipun ruangan itu tidak terlalu terang, tapi wajah Tia masih bisa terlihat dengan jelas karena terkena sorotan terangnya layar.


Setelah keluar dari bioskop, Arka mengajak Tia berjalan - jalan di taman kota. Sebelum mereka masuk ke taman kota, Arka membeli es krim makanan kesukaan Tia. Kemudian mereka duduk di sebuah kursi taman. Arka menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan sesuatu pada Tia.


"Iya, Arka sayang," jawab Tia setelah menjilat es krim yang dibelikan Arka.


"Besok aku akan pergi ke Amerika melanjutkan kuliahku, berjanjilah akan menungguku pulang," ucap Arka tiba – tiba tanpa memandang Tia yang berada di sampingnya.


"Sayang, kamu bercanda kan?" tanya Tia tidak percaya seraya memandang Arka. Ia berharap Arka hanya menggodanya.


"Enggak Tia, aku serius. Aku mencintaimu. Tunggulah aku pulang sayang, aku melakukan ini demi cinta kita," jawab Arka sambil menggenggam tangan Tia. Tia memandang Arka yang kini berada di depannya dengan mata berkaca kaca. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Air mata pun lolos dari pelupuk matanya.


"Arka ... aku akan selalu menunggumu, merindukanmu, dan mencintaimu," ucap Tia. Ia mengusap air mata yang sudah mengalir tanpa izin di pipinya dengan punggung tangannya. Arka memeluk Tia dengan sangat erat. Tia pun membalas pelukan Arka. Arka menaruh dagunya di bahu Tia, tanpa Tia tahu Arka menangis di bahunya.


Aku berjanji akan segera pulang. Tunggulah aku pulang. Sejujurnya aku tidak tega meninggalkanmu. Aku tahu kamu tidak punya siapa-siapa di dunia ini, tapi aku harus pergi demi kebahagiaan kita. Hanya empat tahun, bersabarlah menungguku. Batin Arka lalu mengusap air matanya.


Flashback off


Arka pun bernyanyi sambil menangis terduduk di lantai.


Sing a song


Tak pernah terpikir olehku

__ADS_1


Tak sedikit pun kubayangkan


Kau akan pergi tinggalkanku sendiri.


Begitu sulit kubayangkan


Begitu sakit kurasakan


Kau akan pergi tinggalkanku sendiri.


Di dalam lubuk hati ini


Kau telah sandarkan


Kasih sayang kamu begitu dalam


Sungguh 'ku tak sanggup ini terjadi


Karena 'ku sangat cinta


Inilah saat terakhirku melihat kamu


Jatuh air mataku menangis pilu


Hanya mampu ucapkan


Selamat tinggal, kasih.


Satu jam saja 'ku telah bisa


Cintai kamu, kamu, kamu di hatiku


Namun bagiku melupakanmu


Butuh waktuku seumur hidup.


Satu jam saja 'ku telah bisa


Sayangi kamu di hatiku


Namun bagiku melupakanmu


Butuh waktuku seumur hidupku.

__ADS_1


__ADS_2