
Minggu ini arisan diadakan di rumah Bu Monica, mamanya Vanessa. Bu Widya datang bersama dengan seorang supir yang biasa mengantarnya ke manapun dia pergi.
“Selamat datang … “ sapa Bu Monica saat melihat Bu Widya datang. Bu Widya tersenyum sambil memeluk Bu Monica dan cipika-cipiki.
“Tante Widya … “ sapa Vanessa saat baru keluar dan melihat Bu Widya baru datang. Ia mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Bu Widya.
“Vanessa ya? Cantik banget hari ini … “ sanjung Bu Widya saat melihat Vanessa. Vanessa memang sengaja dandan secantik mungkin hari ini, supaya Bu Widya tertarik padanya dan berniat menjadikannya menantu.
“Terima kasih Tante … “ balas Vanessa sambil memainkan rambutnya dan tersenyum malu.
Tidak lama kemudian arisan dan makan bersama pun dimulai. Setelah makan bersama Vanessa mendekati Bu Widya.
“Tante … apa bisa kita bicara sebentar?” tanya Vanessa setengah berbisik supaya tidak terdengar ibu-ibu yang lain.
“Ada apa?” tanya Bu Widya heran sambil mengerutkan dahinya.
“Bicaranya di dalam aja ya Tante … “ ajak Vanessa. Bu Widya pun menyetujuinya.
Setelah sampai di dalam, tepatnya kamar Vanessa, Vanessa menutup pintu kamarnya.
“Silakan duduk Tante … “ Vanessa mempersilakan Bu Widya duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.
Setelah Bu Widya duduk, Vanessa pun mulai bercerita. Ia mengatakan pada Bu Widya bahwa sudah lama Arka dan Tia berpacaran, hanya saja Arka menyembunyikannya. Ia juga mengatakan kalau Tia hanyalah gadis yatim piatu yang tinggal di panti asuhan dan bisa bersekolah di SMA favorit karena mendapatkan beasiswa.
“Apa?! Jadi dia hanya gadis yatim piatu dari panti asuhan?” tanya Bu Widya terkejut dengan penjelasan yang ia dengar dari Vanessa.
“Iya Tante … “ jawab Vanessa dengan sopan.
“Kenapa kamu enggak bilang sama tante dari dulu?” tanya Bu Widya kecewa karena baru tahu sekarang.
“Minggu lalu Vanessa mau bilang sama Tante, tapi sepertinya Tante sibuk. Jadi Vanessa enggak sempat yang mau bicara sama Tante … “ balas Vanessa dengan lembut.
“Maafin tante ya … “ ucap Bu Widya sambil membelai rambut Vanessa.
“Iya, enggak apa-apa Tante … “ balas Vanessa sambil tersenyum.
__ADS_1
Yes berhasil! Batin Vanessa merasa senang dan puas.
Setelah acara arisan selesai, Bu Widya segera meluncur ke apartemen Arka. Ia akan meminta penjelasan pada Arka. Namun sesampainya Bu Widya di apartemen Arka, ia tidak menemukan Arka di sana. Apartemen Arka menggunakan kunci berupa password, sehingga Bu Widya dan Pak Hendro bisa masuk kapan saja karena mereka mengetahui password apartemen Arka.
“Ke mana anak ini?” gumam Bu Widya kesal setelah mencari Arka di seluruh ruangan tapi tidak menemukan Arka. Ia pun duduk di sofa ruang tengah lalu menelepon ponsel Arka.
Sementara itu Arka duduk di teras panti asuhan Tia dengan kedinginan. Lama-lama Tia pun merasa kasihan. Ia membuka pintu dan membawakan teh hangat untuk Arka.
“Minumlah … “ ucap Tia sambil menaruh teh hangat di atas meja. Arka mendongak dan tersenyum. Setelah menaruh teh hangat, Tia hendak masuk kembali, tapi Arka menahannya dengan memegang pergelangan tangan Tia.
“Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Apa salahku? Katakanlah … aku akan memperbaikinya dan tidak mengulanginya lagi … “ ucap Arka pada Tia dengan suara parau. Tia memejamkan matanya menekan perasaanya.
“Aku sudah tidak mencintaimu lagi Arka … “ jawab Tia tanpa memandang Arka. Matanya sudah berkaca-kaca. Hatinya hancur saat mengatakan itu. Ia terpaksa melakukan ini demi kebahagiaan Arka.
“Kamu pasti bohong kan? Tatap aku!” ujar Arka sambil memegang kedua bahu Tia. Tia mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia tidak mau memandang mata Arka. Ia yakin Arka akan mengetahui perasaannya yang sebenarnya melalui pandangan matanya.
“Kenapa kamu tidak mau menatapku?” tanya Arka sambil memegang dagu Tia dan mengarahkan wajah Tia ke arahnya. Tia menangis sambil memandang Arka.
“Maaf Arka … lebih baik kita berpisah saja. Carilah wanita lain yang lebih baik dan setara dengan keluargamu. Aku tidak pantas bersanding denganmu, Arka … “ Tia berkata sambil menitikkan air mata.
“Kenapa kamu tiba-tiba begini?” tanya Arka di depan wajah Tia.
“Dengarkan Aku! Aku sudah pernah bilang padamu, aku akan melakukan apapun demi mempertahankan cinta kita. Apa kamu tidak percaya padaku? Aku akan memperjuangkan cinta kita, jadi aku mohon bersabarlah, jangan tinggalkan aku … “ Arka pun mulai menangis. Hatinya sakit saat Tia berkata ingin berpisah darinya hanya karena perbedaan status sosial.
Tia pun memandang Arka lalu memeluknya dengan erat dan berkata, ” Maafkan aku Arka ….“ Arka membalas pelukan Tia.
“Ponselmu … “ ucap Tia pada Arka saat melihat ponsel Arka bergetar dan menyala. Dari tadi ponsel Arka bergetar, tapi karena terlalu serius berbicara dengan Tia, Arka
tidak memperdulikan ponselnya.
“Biarkan saja … “ balas Arka tetap memeluk tubuh Tia.
“Tapi itu bergetar terus Arka, mungkin sangat penting … “ balas Tia sambil menunjuk ponsel Arka yang bergetar di atas meja.
Arka pun melepas pelukannya dari tubuh Tia lalu mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja. Arka melihat ID pemanggil yang menunjukkan nama “Mama”. Ia pun segera menggeser tombol warna hijau pada layar ponselnya.
__ADS_1
“Hallo Ma … “ sapa Arka.
“Kamu di mana Arka?” tanya Bu Widya di seberang telepon.
“Di rumah teman Ma … “ jawab Arka dengan tenang.
“Cepat kembali! Mama di apartemen kamu,” perintah Bu Widya.
“Tapi di sini masih hujan Ma … “ ujar Arka dengan malas.
“Tidak ada alasan! Mama mau bicara penting!” balas Bu Widya lalu memutuskan sambungan telepon. Arka memandangi layar ponselnya yang sudah mati.
“Ada apa Arka?” tanya Tia yang dari tadi memperhatikan Arka berbicara di telepon.
“Mamaku sedang di apartemen sekarang. Aku harus segera kembali … “ jawab Arka sambil bersiap-siap akan pergi.
“Hati-hati Arka. Jangan ngebut, jalanan licin … “ ujar Tia pada Arka. Arka mengangguk sambil tersenyum.
***
Arka sampai di apartemen setelah mengendarai motornya di tengah hujan lebat. Ia melihat mamanya sedang duduk santai di ruang tengah menunggu kedatangannya sambil minum teh.
“Ada apa Ma?” tanya Arka pada Bu Widya.
“Dari mana kamu?” tanya Bu Widya dengan tegas.
“Rumah teman Ma … “ jawab Arka seraya duduk di samping mamanya.
“Siapa?” tanya Bu Widya lagi.
“Kenapa Mama ingin tahu sekali?” tanya Arka sambil mengernyitkan dahinya.
“Kamu punya pacar sekarang?” tanya Bu Widya sambil menatap ke arah Arka.
Dari mana Mama tahu? Batin Arka.
__ADS_1
"Tidak Ma ... " jawab Arka dengan santai.
"Jangan bohong Arka!" hardik Bu Widya. Ia tipe orang yang tidak suka dibohongi, apalagi anaknya sendiri. Ia datang ke apartemen Arka untuk mengetahui yang sebenarnya dari mulut Arka sendiri.