
Satu bulan kemudian
Apartemen Reyhan
"Tia, aku sudah tidak mengajar di kampus lagi," ujar Reyhan tiba - tiba setelah sarapan pagi.
"Kenapa Pak?" tanya Tia sambil mengangkat piring - piring kotor ke dapur dan mencucinya.
"Aku harus bekerja di perusahaan papa. Papa sudah mulai sakit – sakitan. Saat ini hanya aku yang bisa menggantikannya. Kakakku di Jerman, dan sudah punya perusahaan sendiri di sana. Adikku masih kuliah di Belanda, dan dia gadis yang manja," balas Reyhan menjelaskan.
Tia mendengarkan kata - kata Reyhan sambil mencuci piring tanpa menoleh. Tiba - tiba Reyhan memeluk pinggang Tia dari belakang dan menaruh dagunya di bahu Tia. Jantung Tia pun berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia terkejut sekaligus gugup.
"Pak Rey ada apa? Lepaskan, saya geli," ujar Tia sambil tangannya tetap mencuci piring dan badannya bergoyang - goyang berusaha melepaskan pelukan Reyhan.
"Papa ingin segera melihat cucunya, papa sudah tua dan ia takut meninggal sebelum melihat cucunya," bisik Reyhan di telinga Tia.
Tia yang merasakan napas Reyhan di telinganya merasa geli dan wajahnya memerah. Ia tahu maksud Reyhan secara tidak langsung mungkin ingin mengajak begituan. Akhirnya setelah selesai mencuci piring, Tia mengelap tangannya dan melepas celemek lalu berbalik menghadap Reyhan.
"Maksud Pak Rey apa ngomong ke Tia seperti ini?" tanya Tia menatap mata Reyhan.
"Menstruasimu sudah selesai kan? Aku menagih ucapanmu yang waktu itu," ujar Reyhan sambil tersenyum.
"Pak Rey menagihnya sekarang?" tanya Tia terkejut karena tiba – tiba Reyhan menagihnya sekarang.
"Iya," jawab Reyhan dengan senyum manis di bibirnya.
"Mmm … baiklah," balas Tia lalu tersenyum.
Setelah mendapat persetujuan dari Tia, Reyhan pun segera mencium bibir Tia. Tia membalas ciuman Reyhan dan melingkarkan tangannya di leher Reyhan. Ciuman mereka pun semakin panas dan membangkitkan gairah.
Reyhan mengangkat tubuh Tia dan menggendongnya ke dalam kamar. Tia yang tiba - tiba digendong Reyhan merasa takut terjatuh, jadi ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Reyhan.
Sesampainya di dalam kamar, Reyhan membaringkan tubuh Tia di atas tempat tidur dengan pelan - pelan. Tia yang merasa ketakutan segera mengambil selimut lalu bergerak mundur dan menutupi tubuhnya.
"Kenapa, kamu takut? Aku janji akan melakukannya dengan pelan – pelan," ujar Reyhan menenangkan Tia sambil tersenyum. Tia pun mengangguk dan pasrah. Ia berpikir cepat atau lambat, sekarang atau nanti, Reyhan pasti akan meminta haknya sebagai suami.
Tiga puluh menit kemudian
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Reyhan di telinga Tia setelah meminta haknya sebagai suami pada Tia. Tia menganggukkan kepalanya tanpa memandang Reyhan. Ia masih merasa malu untuk melakukan itu dengan Reyhan. Tapi bagaimanapun juga ia tidak boleh menolak karena sekarang Reyhan sudah menjadi suaminya.
Setelah itu Reyhan memeluk tubuh Tia di bawah satu selimut hingga akhirnya mereka tertidur karena kelelahan.
***
Satu bulan kemudian
Perusahaan GC
Tok tok tok bunyi pintu ruangan Arka diketuk seseorang.
"Masuk!" sahut Arka dengan tegas.
"Permisi Pak, saya mau mengingatkan satu jam lagi Pak Arka ada meeting di restoran Cempaka bersama dengan klien dari perusahaan NC," ucap Bella sekretaris Arka dengan sedikit gugup.
"Okey, siapkan berkasnya. Setengah jam lagi kita berangkat," balas Arka datar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Bella.
"Baik Pak," jawab Bella. Setelah itu ia keluar dari ruangan Arka.
***
"Saya Arka," ucap Arka sambil tersenyum.
"Saya Reyhan CEO dari perusahaan NC. Saya menggantikan Pak Adam papa saya karena beliau sedang sakit," balas Reyhan sambil tersenyum juga.
"Oh iya tidak apa – apa, silahkan duduk Pak Reyhan," ucap Arka mempersilakan Reyhan duduk.
"Terima kasih Pak Arka," balas Reyhan lalu duduk di seberang Arka.
Arka tidak tahu bahwa Reyhan adalah suami Tia, begitu juga sebaliknya. Yang Arka tahu suami Tia adalah seorang dosen dari kampus ABC, bukan CEO dari perusashaan NC.
Di saat Arka dan Reyhan membicarakan masalah kerjasama mereka, tiba - tiba datang seorang wanita dari area parkir dan melihat Reyhan sedang berbicara dengan seseorang yang hanya terlihat punggungnya. Ia pun menyapa Reyhan.
"Reyhan!" sapa wanita itu, tapi Reyhan tidak menghiraukannya, sehingga wanita itu mendekati meja Reyhan.
"Reyhan kamu sedang apa di sini?" tanya wanita itu setelah sampai di meja Reyhan, ia pun melihat Arka dan menyapanya juga.
__ADS_1
"Lo Arka, kamu di sini juga, apa kabar?" tanya wanita itu dengan ceria.
"Baik, kamu Dona kan?" tanya Arka sambil mengulurkan tangannya pada Dona. Dona pun menyambutnya dengan hangat.
"Kalian saling kenal?" tanya Reyhan dengan tatapan curiga.
"Ya, kami kuliah di kampus yang sama di Amerika," jawab Arka sambil tersenyum.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Reyhan pada Dona dengan nada tidak suka.
"Ini restoranku Rey. Kalau kamu menikah denganku, tempat ini akan menjadi milik kamu juga," ujar Dona dengan bangganya.
"Aku sudah menikah, kamu jangan bermimpi dan mengejarku lagi. Carilah laki - laki lain yang mencintaimu," balas Reyhan jutek.
"Rey, aku mencintaimu. Lagi pula istrimu tidak bisa hamil, buktinya kalian sudah menikah 3 bulan lebih tapi belum hamil juga," balas Dona dengan senyuman meledek.
"Pak Arka urusan kita tadi sudah selesai kan? Saya pamit dulu, selanjutnya biar diurus sekretaris saya. Selamat siang," ucap Reyhan seraya berdiri dan menjabat Arka setelah itu berlalu pergi. Arka pun menyetujuinya.
Setelah kepergian Reyhan, Arka pun pamit pada Dona untuk kembali ke perusahaannya.
***
Taman Kota
Tia dan Salsa sedang jalan bersama setelah satu setengah bulan usai wisuda mereka baru bertemu hari ini.
"Bagaimana hubungan kamu sama Pak Rey sekarang?" tanya Salsa pada Tia.
"Baik Sa, Pak Rey baik banget sama aku. Kita sudah seperti suami istri yang sesungguhnya sekarang," jawab Tia dengan tersenyum bangga.
"Wah asyik dong, sudah bikin dedek ya?" tanya Salsa menggoda dengan senyum - senyum dan menyenggol bahu Tia.
"Mmmm bagaimana ya, sebagai istri yang baik aku enggak mungkin kan nolak ajakannya," jawab Tia dengan malu - malu.
"Semoga saja kamu segera hamil Tia. Biar mertua kamu enggak menyepelehkan kamu lagi. Oh iya besok aku ada interview di perusahaan GC. Doakan semoga aku diterima ya Tia?" ujar Salsa.
"Pastinya sahabatku, aku akan mendoakan yang terbaik untukmu," balas Tia sambil memeluk Salsa dan tersenyum.
__ADS_1
Setelah berbincang - bincang, curhat, melepas rindu, makan, dan jalan – jalan, mereka pun pulang ke rumah masing - masing karena hari sudah sore.