
Sesampainya taksi yang di tumpangi Arka dan Jasmine di depan perusahaan GC cabang Belanda, Jasmine membelalakkan matanya dan menempelkan kedua telapak tangannya pada kaca jendela taksi di sampingnya untuk melihat perusahaan itu. Ia tidak menyangka suaminya memiliki perusahaan sebesar ini di Belanda.
“Ayo turun!” ajak Arka setelah membayar argo taksinya.
Jasmine pun tersadar dari ketertegunannya dan segera turun dari taksi. Semua pegawai di sana sudah tahu siapa Arka karena beberapa minggu yang lalu mereka sudah mendapatkan kabar bahwa CEO mereka akan segera pindah ke Belanda dalam waktu dekat untuk melanjutkan kuliahnya.
“Selamat pagi, Tuan,” sapa resepsionis dengan bahasa Inggris saat Arka menghampiri mejanya.
“Mana kunci mobil yang disiapkan untukku?” tanya Arka seraya menyodorkan telapak tangannya.
“Ini, Tuan … “ ucap resepsionis itu seraya menyerahkan sebuah kunci mobil dengan sopan.
“Terima kasih,” balas Arka setelah itu ia pergi meninggalkan meja resepsionis.
Jasmine masih fokus mengamati bangunan lobby perusahaan itu yang terkesan sangat mewah dengan arsitektur bangunan Belanda. Sehingga ia tidak tahu kalau Arka sudah pergi. Saat Arka mengetahui Jasmine tidak mengikutinya, ia pun segera berbalik ke belakang dan melihat istrinya masik asyik mengamati atap bangunan perusahaannya.
“Jasmine! Ayo!” seru Arka dari ambang pintu lobby. Jasmine pun menoleh dan ia baru sadar kalau Arka sudah di ambang pintu.
Setelah itu Arka memberikan kunci mobil itu pada security supaya mengambil mobil itu dan membawanya ke depan lobby. Tidak lama kemudian mobil itu pun datang dan Arka mengambil alih.
Setelah mengambil mobil di perusahaan, Arka melajukan mobilnya ke swalayan sesuai dengan petunjuk Jasmine. Arka ingin berbelanja kebutuhan makanan dan perlengkapan sehari-hari karena kemarin ia tidak membawa banyak barang, hanya beberapa lembar pakaian saja. Arka mengambil banyak sayuran, buah, dan daging. Sedangkan Jasmine malah mengambil camilan dan mie instan.
"Kenapa banyak sekali kamu mengambil mie instan?" tanya Arka saat melihat Jasmine menaruh berbagai macam rasa mie instan di troli yang didorong Arka.
__ADS_1
"Karena aku bisa memasaknya. Dan itu sangat mudah, cepat, dan praktis," jawab Jasmine dengan ceria.
"Tidak. Mulai sekarang kamu harus masak sayuran dan daging. Jangan makan mie instan. Itu tidak baik untuk kesehatan. Aku tidak mau mati muda gara - gara penyakit," ucap Arka sambil mengembalikan mie instan ke tempatnya kembali. Jasmine pun patuh dengan cemberut dari pada Arka marah.
Setelah membayar ke kasir, mereka pun segera kembali pulang ke apartemen. Arka menyuruh Jasmine memasak dan melihat resep di internet untuk makan siang. Jasmine pun melakukannya. Arka membantunya mengiris sayuran. Setelah itu dia mandi sambil menunggu Jasmine selesai memasak. Tidak berapa lama setelah Arka mandi, makanan pun terhidang di meja makan. Arka dan Jasmine duduk saling berhadapan. Arka mengambil nasi dan menuang sayur sop daging masakan perdana Jasmine di atas nasinya. Arka pun memasukkan satu suap nasi ke dalam mulutnya. Arka merem sambil mengunyahnya sebentar lalu menelannya.
"Gimana rasanya, Kak? Enak?" tanya Jasmine pada Arka dengan tidak sabar dan berharap mendapat pujian.
"Apa kamu belum mencicipinya?" tanya Arka balik sambil minum air di depannya.
Jasmine pun segera mengambil sayur sop ke dalam piring dan mencicipinya. Saat ia sudah memasukkan sesuap sup ke dalam mulutnya, ia pun membelalakkan matanya dan segera berlari ke dapur. "Hweeeek!" Jasmine memuntahkannya di wastafel dapur.
"Gimana? Enak?" tanya Arka.
"Asin banget. Kenapa Kak Arka memakannya?" ucap Jasmine lalu menenggak air minum.
"Aku hanya mengikuti resep. Aku kira itu sudah akurat," jawab Jasmine dengan cemberut.
"Lain kali cicipi dulu sebelum dihidangkan. Sekarang ayo habiskan masakanmu!" perintah Arka seraya menyuap nasinya tadi. Meskipun tidak enak Arka tetap memakannya.
"Tidak mau!" tolak Jasmine. Ia memang anak manja yang hanya mau makan makanan yang enak.
"Habiskan!" Perintah Arka lagi.
__ADS_1
"Iya, iya," balas Jasmine pasrah.
Malam hari sebelum tidur, Jasmine tidak mau melepas branya lagi. Ia trauma dengan mimpinya tadi malam. Kalaupun itu terjadi sungguhan, tidak mungkin ia menjerit meminta tolong. Kini Arka suaminya, itu berarti bukan suatu tindakan perkosaan melainkan malam pertama. Seperti hal nya kemarin, lagi-lagi Jasmine tidak bisa tidur.
“Aduh … gerah sekali rasanya,” gumam Jasmine merasa tidak nyaman. Ia hendak membuka baju tidurnya, tapi kini ia tidak tidur sendiri seperti dulu.
Setelah berpikir sejenak, ia pun mendapatkan ide. Ia membuka semua kancing piyamanya dan membukanya lebar lebar tanpa melepasnya. Setelah itu ia menutupi dadanya dengan selimut hingga dada. Ia pun menoleh pada arka yang sudah tidur sedari tadi.
“Besok aku harus bangun terlebih dahulu sebelum dia pokoknya,” gumam Jasmine dengan yakin. Setelah itu ia memejamkan matanya. setengah jam kemudian ia pun tertidur.
Pukul satu malam, Arka terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Ia pun bangkit dan turun dari tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi. Saat ia keluar dari dalam kamar mandi, ia melihat selimut Jasmine yang melorot hingga ke pinggangnya. Arka menghampirinya lalu melihat dada Jasmine yang terbuka lebar. Ia bisa melihat dada Jasmine dengan jelas meskipun tertutup bra. Ia pun menelan ludahnya lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Setelah itu ia menutupi dada jasmine yang terbuka dengan selimut.
Jasmine merasakan tangan Arka di dadanya. Ia pun segera membuka matanya dan menampik tangan Arka. Tampaklah Arka yang mencodongkan tubuhnya ke arahnya. Jasmine melotot dann segera menarik selimut hingga menutupi dadanya.
“Kak Arka mau apa?” tanya Jasmine dengan curiga.
“Tidak mau apa-apa,” jawab Arka seraya naik ke atas tempt tidur di sisi Jasmine.
“Ngapain tadi megang-memang dadaku?” tanya Jasmine tidak percaya. Ia masih ingat dengan mimpinya semalam.
“Hanya mau membenarkan letak selimutmu saja,” jawab Arka seraya berbaring dan memasukkan tubuhnya ke dalam selimut.
“Bohong! Pasti mau ngapa-ngapain kan? Untung saja aku terbangun,” sungut Jasmine masih tetap kekeh menuduh Arka yang tidak-tidak.
__ADS_1
“Terserah!” balas Arka singkat tidak mau berdebat lalu mengubah posisinya membelakangi Jasmine. Jujur saja saat melihat dada Jasmine tadi ada sesuatu yang mulai mengeras di bawah sana, tapi ia berusaha menekan sesuatu itu agar tidak semakin mengeras dan meminta pelampiasan.
Kali ini memang Jasmine melaksanakan perintah Arka untuk memakai bra saat tidur, tapi Jasmine malah membuka kancing baju tidurnya lebar-lebar karena merasa gerah. Tentu saja itu ujian tersendiri bagi Arka tanpa sepengetahuan Jasmine. Arka tidak mau menyentuh Jasmine karena ia tidak mencintai Jasmine, tapi respon tubuhnya berkata lain.