Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 29


__ADS_3

Semenjak kepergian Tia dari apartemennya, Arka tidak pernah pulang ke rumahnya. Ia merasa sangat frustrasi dan mengurung diri di dalam apartemennya.


Satu minggu kemudian Pak Hendro dan Bu Widya mengunjunginya ke apartemen lantaran Arka tidak pernah menerima telepon dari mereka. Karena Pak Hendro dan Bu Widya sudah mengetahui kode pintu apartemen Arka, sehingga mereka langsung masuk tanpa memencet belnya terlebih dahulu.


Ketika mereka membuka pintu apartemen Arka betapa terkejutnya mereka melihat isi paratemen Arka yang berantakan. Buku, botol minuman, tisu, kertas, bungkus makanan berserakan di mana-mana. mereka pun geleng geleng kepala melihat kelakuan Arka yang tidak biasanya.


Setelah itu Pak Hendro membuka pintu kamar Arka yang tertutup, tapi tidak terkunci. Di sana Arka sedang tidur dengan berbalut selimut tebal. Ia pun menghampiri tempat tidur Arka dan duduk di tepi ranjang.


“Arka … “ panggil Bu Widya sambil membelai rambut Arka yang panjang karena belum dipotong.


Arka menyembunyikan kepalanya dan menampik tangan Bu Widya. Ia marah pada orang tuanya yang telah menyuruhnya kuliah di Amerika. Apalagi sampai melarangnya menghubungi Tia hingga empat tahun lamanya. Kini kekasihnya itu sudah menikah dengan orang lain tanpa sepengetahuannya.


“Mama dan Papa jahat sama Arka!” seru Arka lalu menangis di dalam selimutnya.


“Kamu kenapa Arka?” tanya Bu Widya tidak mengerti dengan sikap Arka.


“Pasti ini semua rencana Mama dan Papa kan?” tanya Arka lagi dengan menuduh orang tuanya yang menyuruh Tia menikah dengan orang lain.


“Maksud kamu apa?” tanya Bu Widya seraya mengernyitkan dahinya.


“Tia sudah menikah Ma! Tia sudah menikah!” seru Arka dengan berderai air mata.


“Mama tidak tahu apa-apa Arka. Kamu jangan menuduh sembarangan!” balas Bu Widya.


Nyatanya memang pernikahan Tia hanya diketahui pihak kampus dan beberapa teman terdekat Reyhan dan Tia saja. Pernikahan itu begitu mendadak sehingga tidak mengundang banyak orang. Keluarga Wijaya pun tidak mengumumkan pernikahan Reyhan karena Reyhan menolak untuk bekerja di perusahaan.


Arka tidak maau berbicara lagi dengan orang tuanya. Ia menyembunyikan kepalanya di dalam selimut dan menangis sepuasnya. Ia merasa pengorbanannya selama empat tahun sia-sia. Sekarang orang yang ia perjuangkan sudah menjadi milik orang lain.


Pak Hendro pun mengajak Bu Widya pergi dan membiarkan Arka menenangkan diri terlebih dahulu.


***


Satu bulan kemudian

__ADS_1


Arka berniat pergi ke pantai untuk menenangkan pikirannya. Ia menginap di sebuah hotel selama tiga hari. Setiap hari ia berjalan-jalan di pinggiran pantai dan menendang-nendang air di sana. Ia selalu ingat Tia yang tersenyum dan tertawa senang saat ia berjalan-jalan di pantai.


Kebetulan juga hari ini Tia sedang jalan-jalan ke pantai bersama dengan suaminya. Tia keluar dari dalam mobil lalu menghambur ke pantai sambil membentangkan kedua tangannya. Reyhan tersenyum dan mengikuti Tia lalu duduk di bawah pohon kelapa sambil menyaksikan Tia bermain air di pinggiran pantai. Karena merasa haus, Reyhan pun pergi hendak membeli kelapa muda.


Tanpa sepengetahuan Reyhan, Tia bergerak semakin menjauh tanpa sadar karena terlalu senang bermain air. Tidak berapa lama ombak besar mendadak datang, Tia terjatuh dan terseret ombak. Ia menjerit meminta tolong berulang kali dan berusaha berenang sekuat tenaganya, tapi hasilnya nihil karena ia memang tidak bisa berenang. Ia hampir tenggelam dan banyak minum air laut.


Arka yang melihat ada orang meminta tolong lantaran tengah tenggelam segera menceburkan diri ke laut untuk menolong orang itu. Ia tidak tahu bahwa orang yang tenggelam itu adalah Tia. Segera ia menggaet pinggang Tia dan membawanya berenang ketepian. Tia senang karena ada seseorang yang telah menyelamatkannya. Ia pun merasa lega dan pingsan tanpa tahu siapa yang menyelamatkannya.


Arka membaringkan tubuh Tia di atas pasir pantai. Ia menekan dada Tia dan memberikan nafas buatan. Karena Tia belum sadar juga, Arka pun membawanya ke kamar hotel yang ia sewa.


 


Reyhan kembali dengan membawa dua buah kelapa muda di tangannya. Ia melihat ke arah pantai, tapi tidak menemukan sosok Tia di sana. Ia mendekat ke pinggiran pantai dan menyisirnya tapi tidak menemukan Tia. Ia pun kembali ke mobil hendak menelepon Tia, tapi ponsel Tia berdering di dalam mobil.


"Sial! Ponselnya tidak dibawa, ke mana dia?" umpat Reyhan. Ia pun melapor keamanan dan penjaga pantai. Sambil menunggu kabar, ia menyewa kamar hotel terdekat untuk menginap karena hari sudah mulai senja.


***


Arka membaringkan tubuh Tia dan melepas pakaiannya yang basah serta menggantinya dengan jubah mandi. Ia terpaksa melakukannya karena kalau ia tidak segera mengganti pakaian Tia yang basah, bisa - bisa Tia menjadi masuk angin.


Dua puluh menit kemudian


"Selamat malam Mbak, Saya dokter Amanda yang dipanggil via telepon tadi," ujar Dokter Amanda pada penjaga meja resepsionis.


"Selamat malam juga Dok, silakan masuk biar diantar teman saya ke kamar customer kami," jawab wanita penjaga meja resepsionis.


Dokter Amanda pun mengikuti pegawai hotel yang mengantar ke kamar Arka yang menolong Tia. Saat di lorong, Dokter Amanda bertemu dengan Reyhan, tapi Reyhan tidak menyadari keberadaan Dokter Amanda karena ia= sedang panik memikirkan Tia yang hilang.


"Reyhan!" sapa Amanda saat berpapasan dengan Reyhan.


"Iya, kamu siapa?" tanya Reyhan mengeryitkan dahinya menatap Dokter Amanda.


"Aku Amanda teman SMA kamu," balas Dokter Amanda sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oh iya aku ingat, ada apa kamu ke sini, liburan?" tanya Reyhan setelah mengingat - ingat teman SMA-nya.


"Enggak Rey, aku hendak memeriksa pasien. Tadi aku dipanggil katanya ada orang tenggelam. Aku periksa pasien dulu ya Rey, sampai jumpa," jawab Dokter Amanda berpamitan dan hendak meninggalkan Reyhan.


"Apa? Tenggelam? Apa boleh aku ikut? Aku ingin memastikan ia bukan orang yang aku cari," ujar Reyhan pada Amanda.


"Baiklah, ayo Rey!" balas Dokter Amanda lalu berjalan ke kamar di mana Tia berada mengikuti pegawai hotel. Reyhan mengikuti di belakang mereka.


Sesampainya di dalam kamar Arka, Reyhan melihat seorang wanita berbaring di atas tempat tidur. Ia pun terkejut setelah melihat siapa wanita itu.


"Tia!" seru Reyhan.


"Siapa dia Rey?" tanya Dokter Amanda sambil mengeluarkan stetoskop dari dalam tas-nya.


"Dia istriku, cepat tolong periksa dia!" balas Reyhan meminta tolong.


Dokter Amanda pun segera memeriksa Tia. Ia mengecek suhu tubuh, tekanan darah, dan paru-paru Tia. Untungnya air yang diminum Tia sudah dikeluarkan Arka.


"Dia tidak apa-apa Rey, hanya kelelahan saja," ujar dokter Amanda pada Reyhan.


"Kenapa dia belum bangun? Aku bawa ke rumah sakit saja," ujar Reyhan seraya mengangkat tubuh Tia. Dokter Amanda pun setuju dan membiarkan Reyhan membawa Tia pergi.


Tiga puluh menit kemudian


Arka datang membawa baju ganti untuk Tia. Saat ia memasuki kamarnya, ia tidak melihat Tia di sana. Ia pun menelepon resepsinis hotel.


"Ke mana wanita yang pingsan tadi, apa ia sudah bangun?" tanya Arka.


"Belum Pak, tadi ada seorang lelaki yang mengaku suaminya. Jadi dia membawa wanita itu pergi ke rumah sakit," jawab resesionis.


"Suaminya?" tanya Arka.


"Iya Pak," jawab resesionis.

__ADS_1


"Okey, terima kasih," balas Arka.


Setelah itu ia menutup teleponnya.


__ADS_2