Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 7


__ADS_3

Setelah jam pelajaran terakhir berakhir, Tia ingin sekali mendatangi rumah Arka, tapi ia takut dengan keluarganya. Ia merasa bingung dan khawatir dengan keadaan Arka.


“Bagaimana ini Sa?” tanya Tia pada Salsa yang tengah mengemasi buku-bukunya.


“Mmm apa kita samperin ke rumahnya saja?” tanya Salsa balik. Ia sendiri juga kasihan melihat Tia yang khawatir sejak tadi pagi.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Tia setuju. Ini pertama kalinya Tia akan berkunjung ke rumah Arka. Tia menuju rumah Arka berboncengan dengan motor Salsa.


Sesampainya di depan gerbang rumah Arka, Tia dan Salsa tercengang dengan rumah Arka yang sangat besar. Pagar dan gerbangnya menjulang tinggi denga security di sampingnya.


“Apa benar ini rumahnya Arka Sanjaya?” tanya Tia pada security.


“Iya benar. Mbak siapa?” tanya security yang bernama Yudi itu.


“Saya Tia, dan ini Salsa. Kami temannya Arka. Apa Arka ada di rumah?” tanya Tia pada Yudi.


“Iya ada, tapi Mas Arka sedang sakit dan tidak boleh keluar sama nyonya,” jawab Yudi. Tia yang mendengar Arka sakit semakin khawatir.


“Apa boleh saya menemuinya?” tanya Tia pada Yudi dengan wajah memohon.


“Sebentar, saya tanyakan nyonya dulu,” balas Yudi. Tia pun mengiyakan.


Yudi mengambil HT yang ada di dalam posnya, lalu menghubungi Bi Wati agar memberitahukan pada Bu Widya bahwa ada teman sekolah Arka yang sedang berkunjung. Bu Widya pun mengizinkan.


Yudi pun membuka gerbang mengizinkan Tia dan Salsa masuk ke halaman rumah Arka. Tia dan Salsa melihat ke sekeliling dengan takjub. Halaman rumah Arka sangat luas, kalau dikavling bisa jadi 20 petak tanah siap jual. Ada air mancur super jumbo tepat berada di depan rumahnya, menjadikan rumah terlihat indah dan segar.


Salsa memarkirkan motornya di depan rumah Arka, setelah itu Tia memencet bel pintu rumah itu. tidak berapa lama Bi Wati muncul membukakan pintu untuk mereka.


“Silakan masuk … “ ucap Bi Wati mempersilakan.

__ADS_1


“Terima kasih … “ balas Tia sambil tersenyum. Tia dan Salsa masuk ke dalam ruang tamu Arka.


“Silakan duduk, saya panggilkan Mas Arka-nya dulu,” ujar Bi Wati dengan ramah. Tia dan Salsa mengiyakan sambil menunduk.


Tidak berapa lama, Bu Widya muncul untuk menyapa mereka. Saat Bu Widya melihat Tia, ia jadi teringat kejadian di kedai waktu itu. ia masih ingat betul wajah cantik Tia yang sedang makan bersama Arka beberapa waktu yang lalu.


“Temannya Arka?” tanya Bu Widya pada Tia dan Salsa.


“Iya Tante … “ jawab Tia dan Salsa bersamaan lalu mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan Bu Widya.


“Kamu yang bersama Arka di kedai dekat sekolah waktu itu kan?” tanya Bu Widya to the point. Tia terkejut saat mengetahui bahwa mamanya Arka tahu saat ia dan Arka berada di kedai waktu.


“Iya Tante … “ jawab Tia dengan gugup.


“Rumah kamu di mana?” tanya Bu Widya lagi semakin penasaran.


Tia bingung harus menjawabnya bagaimana. Ketika Tia akan membuka mulutnya, tiba-tiba Arka muncul.


Bu Widya, Tia, dan Salsa pun menoleh ke sumber suara. Tia merasa lega, akhirnya bisa melihat Arka. Ia tersenyum lembut pada Arka yang tengah berjalan menghampirinya.


“Kita bicara di teras atas saja,” ajak Arka. Tia dan Salsa pun pamit pada Bu Widya dan mengikuti Arka yang tengah berjalan menaiki tangga. Pandangan Tia dan Salsa mejadi liar. Mata mereka melihat ke sana ke mari untuk melihat isi rumah Arka yang sangat besar dan mewah. Mereka belum pernah melihat dalam rumah orang kaya sebelumnya.


Sesampainya di teras lantai atas, Arka memeluk tubuh Tia. Ia merasa sangat rindu dengan kekasihnya itu. Tia membalas pelukan Arka dengan gemas. Salsa otomatis jadi obat nyamuk, tapi ia tidak pernah marah ataupun kesal, karena dia ikhlas membantu Tia.


“Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Arka pada Tia sambil membelai pipinya.


“Aku mengkhawatirkanmu Arka. Kamu tidak masuk sekolah, dan tidak bisa dihubungi … “ jawab Tia sambil duduk pada sebuah kursi.


“Oh iya ponselku mati, baterainya habis. Maaf sudah membuatmu khawatir,” balas Arka sambil tersenyum.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Bi Wati datang membawa nampan berisi minuman dan camilan. Arka menyuruhnya menaruh di meja dan segera pergi.


“Kamu sakit apa sampai tidak masuk sekolah?” tanya Tia sambil memandang Arka.


“Hanya demam dan gejala flu saja,” jawab Arka lalu tersenyum.


“Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Dokter juga sudah memeriksaku,” imbuhnya.


“Ini pasti gara-gara kehujanan kemarin ya?” tanya Tia merasa bersalah karena membiarkan Arka kehujanan dan kedinginan karena jaketnya dipakai untuk menutupi kepalanya.


“Tidak, memang ini sudah waktunya aku sakit. Jangan salahkan dirimu … ” balas Arka seraya membelai puncak kepala Tia.


Salsa memandang dan mendengarkan kemesraan mereka sambil menikmati hidangan yang ada. Sembari makan camilan, Salsa berkirim pesan dengan Juned kekasihnya. Juned adalah murid di sekolah lain yang tidak sengaja bertemu Salsa saat berjalan-jalan dengan Tia.


Sore hari Tia dan Salsa pamit pulang karena langit sudah mulai mendung. Arka pun membiarkan mereka pulang, takut Tia akan kehujanan dan sakit seperti dirinya.


***


Malam hari setelah makan malam bersama, Bu Widya menanyakan tentang Tia pada Arka. Ia merasa penasaran Tia berasal dari keluarga mana. Barangkali mamanya temannya arisan. Apabila itu benar, ia berniat menjodohkan mereka.


“Arka, dari keluarga mana temanmu tadi?” tanya Bu Widya saat melihat Arka sudah menghabiskan makanannya. Arka bingung harus menjawab apa, karena kalau ia menjawab yang sebenarnya, ia yakin mamanya akan membenci Tia. Arka memutar otak bagaimana caranya supaya bisa menghindari pertanyaan mamanya. Akhirnya ia pun menemukan ide. Setelah minum, ia memegangi perutnya sambil meringis seolah-olah sedang sakit perut.


“Ma … Arka mau ke toilet dulu ya, perut Arka sakit,” pamit Arka sambil berdiri dan pergi meninggalkan mama dan papanya yang tengah menunggu jawabannya.


Bu Widya mendengus kesal. Dari tadi siang ia penasaran dengan Tia, tapi hingga malam ini ia belum mendapatkan informasi apapun.


“Ada apa Ma?” tanya Pak Hendro yang tidak tahu apa-apa.


“Tadi temannya Arka ke sini Pa, cewek cantik banget gitu. Mama jadi penasaran, siapa tahu anaknya teman mama, kan bisa kita jodohin tu?” jawab Bu Widya pada suaminya.

__ADS_1


“Jangan tergesa-gesa Ma, Arka masih sekolah. Lagipula sebentar lagi papa mau Arka kuliah di Amerika, jadi biarkan dia bebas dulu,” balas Pak Hendro.


“Iya Pa, mama tahu. Ya sudahlah kalau begitu mama mau nonton televisi dulu Pa,” ucap Bu Widya lalu berdiri dan pergi untuk menonton telenovela kesayangannya.


__ADS_2