
Tengah malam Jasmine membuka matanya dan tampaklah wajah Arka di depan matanya. Arka yang merasa pergerakan Jasmine ikut membuka matanya juga. Wajah Jasmine memerah menahan malu. Dia pun berniat bangkit, tapi Arka memeluk tubuhnya.
"Biarkan seperti ini sebentar saja," ujar Arka. Jasmine pun diam tidak bergerak di pelukan Arka.
"Jangan marah lagi," pinta Arka lalu mematuk bibir Jasmine.
"Lalu kond*m itu kenapa ada di mobil Kakak?" tanya Jasmine.
"Aku membelinya di apotek saat kamu sakit waktu itu. Entah kenapa tiba-tiba aku membelinya. Karena takut ketahuan kamu, jadi aku menyimpannya di mobil," jawab Arka jujur.
"Lalu buat apa Kakak membelinya?" tanya Jasmine menyelidik.
"Itu ... itu ... untuk berjaga-jaga saja seandainya terjadi seperti ini. Aku masih ingat kalau kamu takut hamil," jawab Arka.
"Yang benar? Kak Arka enggak bohongi Jasmine kan? Siapa tahu kak Arka juga main di luar sana," tanya Jasmine lagi tidak percaya.
__ADS_1
"Ya ampun, Jasmine. Kamu lihat dong kond*m itu, segel dan jumlahnya saja masih utuh. Lagi pula setiap hari aku selalu sama kamu. Gimana aku bisa main sama orang lain? Hanya kamu yang pertama, Jasmine," jawab Arka dengan sungguh-sungguh.
"Ya, aku percaya. Karena itu permainanmu sangat buruk," sindir Jasmine.
"Kau menyindirku?" tanya Arka tidak terima Jasmine mengatakan permainannya buruk.
"Tidak. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Ini sangat menyakitkan. Badanku sakit semua. Pinggangku rasanya patah. Dan ... bagian bawahku sangat perih hingga sekarang," gerutu Jasmine dengan menahan perih saat bergerak.
"Ayo kita ulangi lagi. Kau sudah menghina permainanku," ucap Arka sambil menindih tubuh Jasmine.
"Katanya sakit, tapi masih bisa berlari. Aduh tadi lupa tidak pakai pengaman karena terburu-buru. Semoga Jasmine enggak hamil," gumam Arka pelan. Pandangan Arka pun jatuh pada seprei yang ada noda darah milik Jasmine. Arka segera melepas seprei itu dan menggantinya dengan yang baru.
Jasmine keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi. Ia baru saja selesai mandi air hangat karena merasa tubuhnya sangat lengket.
“Mau lanjut?” tanya Arka seraya menaikkan sebelah alisnya menggoda Jasmine.
__ADS_1
“Enggak. Aku mau tidur,” jawab Jasmine seraya membuka almari untuk mengambil piama.
Arka pun masuk ke dalam kamar mandi setelah mendapat jawaban Jasmine. Jasmine duduk di tepi ranjang. Ia bingung. Berjalan sakit, duduk pun juga sakit.
“Kenapa rasanya sesakit ini,” keluh Jasmine sambil berganti piama. Setelah itu ia berbaring di atas tempat tidur.
“Syukurlah sepreinya sudah diganti,” gumam Jasmine lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Setelah mandi, Arka keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk yang ia lilitkan di pinggangnya. Kemudian ia berganti pakaian di dalam kamar. Ia sudah tidak malu lagi meskipun Jasmine melihatnya. Malah Jasmine yang merasa malu.
“Kak, ganti di dalam kamar mandi dong,” seru Jasmine dari atas tempat tidur seraya berbalik memunggungi Arka.
“Kenapa? Kamu tidak hanya melihatnya, bahkan sudah merasakannya kan?” sahut Arka seraya mengancingkan baju tidurnya. Kemudian berjalan menghampiri Jasmine dan naik ke atas tempat tidur.
“Mulai saat ini, kamu wanita milikku. Jangan pernah selingkuh dariku. Atau kamu akan menerima akibatnya,” ujar Arka di samping telinga Jasmine. Jasmine pun mengangguk lantaran takut dengan ancaman Arka. Arka pun memeluk tubuh Jasmine dari belakang.
__ADS_1
“Tidurlah. Supaya tidak bangun kesiangan,” tutur Arka lalu menyibak rambut Jasmine dan mengecup pipinya.