Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 42


__ADS_3

Apartemen Arka


Bel pintu apartemen berbunyi. Jasmine pun segera menghampiri pintu apartemen untuk membukanya. Ia sudah sangat lapar menunggu sarapannya datang. Setelah membuka pintu tampaklah abang tukang ojek online dengan bungkusan makanan di tangannya. Jasmine pun menerimanya dan mengucapkan terima kasih lalu menutup pintunya.


Jasmine membawa makanan itu ke dapur dan memindahkannya ke atas piring. Kemudian ia sarapan seorang diri seperti biasanya. Ia tinggal di Belanda seorang diri. Tentu saja makan, tidur, dan segalanya serba sendiri.


Setelah sarapan Jasmine menonton televisi hingga siang hari. Ia merasa heran, kenapa Arka tidak kunjung keluar dari dalam kamarnya sejak pagi. Ia pun menatap pintu kamar Arka yang tertutup rapat.


“Apa dia tidak bosan seharian di dalam kamar terus?” gumam Jasmine.


Jasmine pun mematikan televisi lalu masuk ke dalam kamarnya untuk tidur siang.


Sementara itu Arka di perusahaan sedang membolak-balik berkas untuk ia baca dan selesaikan sebelum ia berangkat ke Belanda. Tidak lama kemudian ada yang mengetuk pintunya. Arka pun mengizinkannya masuk tanpa ia tahu siapa yang datang.


“Cie … pengantin baru,” celetuk Salsa saat memasuki pintu ruangan Arka.


Arka pun memandang Salsa sebentar dengan mencebikkan bibirnya lalu melanjutkan membaca berkasnya kembali.


“Kenapa masuk kerja?” tanya Salsa saat sudah duduk di kursi depan Arka.


“Mau apa ke mari?” tanya Arka tidak meladeni godaan Salsa.


“Gitu amat sih? Harusnya kamu itu di rumah mesra-mesraan sama istrimu,” ujar Salsa menyarankan.


“Bukan urusanmu!” balas Arka cuek.


“Nih laporan keuangan,” ucap Salsa seraya menyodorkan beberapa lembar kertas yang sudah dimasukkan ke dalam map lalu berdiri hendak pergi.

__ADS_1


“Sa, kenapa kamu tidak bilang kalau suami Tia, Reyhan Wijaya CEO perusahaan NC?” tanya Arka tiba-tiba seraya menatap ke arah Salsa.


“Aku juga tidak tahu, Arka. Yang aku tahu, suami Tia dulunya dosen kami di kampus. Setelah itu berhenti dan bekerja di perusahaan keluarganya. Aku tidak tahu nama perusahaannya apa,” jawab Salsa jujur.


“Kenapa? Kamu menyesal sekarang menjadi adik ipar Tia? Anggap saja ini memang jalan takdir kalian,” imbuh Salsa lalu keluar dari ruangan Arka dan menutup pintunya. Arka pun geram lalu membanting berkas di tangannya ke atas meja.


Sore hari mau tidak mau Arka pulang ke apartemennya.  Kalau ia pulang ke rumah, pasti orangtuanya akan menanyakan Jasmine yang tidak ikut serta dengannya.


Saat Arka membuka pintu apartemennya, kebetulan Jasmine juga baru keluar dari dalam kamarnya hendak ke dapur mengambil air minum. Arka memandang Jasmine sejenak lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa mengeluarkan satu patah katapun.


Jasmine pun melirik ke arah pintu kamar Arka yang baru saja tertutup dengan sebal lalu berjalan menuju dapur.


“Jadi sejak pagi ia tidak ada di rumah,” gumam Jasmine sambil menuang air ke dalam gelas lalu meminumnya. Setelah itu ia kembali ke dalam kamarnya untuk mandi sore.


Setelah mandi sore, Arka keluar dari dalam kamarnya lalu mengetuk pintu kamar Jasmine. Karena Jasmine sedang mandi, tentu saja pintu itu tidak terbuka dalam waktu yang cukup lama. Arka pun membuka pintu itu dan melihat kamar Jasmine kosong. Arka berpikir kalau Jasmine sedang mandi dan ia menunggunya di tepi tempat tidur.


Tidak lama kemudian Jasmine keluar dari dalam kamar mandi dengan bersenandung tanpa ia tahu bahwa Arka sudah duduk di tepi tempat tidurnya. Ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan menunduk lalu membuka almari untuk mengambil pakaiannya.


“Sejak kapan Kak Arka di sini?” tanya Jasmine sambil memegangi handuk yang hampir melorot.


“Sejak tadi,” jawab Arka singkat.


“Mau apa ke kamarku?” tanya Jasmine lagi dengan gugup.


“Bereskan barang-barangmu. Besok kita berangkat ke Belanda. Aku sudah memesan tiketnya,” ucap Arka seraya berdiri lalu menuju pintu kamar Jasmine.


“Setelah selesai, segera keluar. Ikut aku pulang ke rumah,” imbuh Arka lalu keluar dan menutup pintu kamar Jasmine.

__ADS_1


Jasmine pun cemberut lalu berganti pakaian dan segera mengemasi beberapa lembar pakaiannya. Setelah itu ia keluar dengan membawa kopernya. Arka sudah menunggunya di ruang tamu dengan koper di sampingnya. Ketika melihat Jasmine keluar dari dalam kamarnya, Arka segera berdiri dan meraih gagang kopernya lalu membuka pintu apartemen dan keluar. Jasmine mengikuti Arka keluar dari pintu apartemen.


Sebelum menutup pintunya, Arka melihat ke dalam apartemen dan tampaklah bayangan Tia yang tengah duduk di sofa tersenyum padanya. Matanya pun berkaca-kaca mengenang saat-saat masih berpacaran dengan Tia. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di dalam apartemen. Memasak, bercengkeramah, bersih-bersih, dan becanda bersama. Semua kenangan itu terekam indah di memori ingatannya.


Arka pun menggigit bibir bawahnya dan menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya terasa berat dan sakit ketika mengingat kenangan itu. setelah itu ia menutup matanya seraya menutup pintu apartemennya.


Selamat tinggal. Ucap Arka dalam hati.


Setelah itu mereka berjalan ke area parkir dan masuk ke dalam mobil. Arka melajukan mobilnya menuju rumah Pak Hendro untuk mengambil barang-barangnya yang ada di sana.


Sesampainya mereka di rumah Pak Hendro, Arka segera masuk ke dalam rumahnya seperti biasa dan Jasmine mengikutnya. Ini pertama kalinya Jasmine menginjakkan kakinya di rumah Arka.


“Di mana mama dan papa, Bi?” tanya Arka pada pembantunya yang tengah menonton televisi di ruang tengah.


“Eh Mas Arka,” ucap pembantunya dengan kikuk lalu berdiri.


“Anu, tuan dan nyonya pergi ke Australia tadi siang, Mas,” jawab pembantunya.


Arka pun tersenyum getir mendengarnya. Setelah itu ia menaiki anak tangga menuju kamarnya. Jasmine pun mengikutinya naik ke atas dan masuk ke dalam kamar Arka. Arka membuka almarinya lalu mengambil beberapa keperluan yang dibutuhkan untuk mengurus kuliahnya nanti dan beberapa lembar pakaiannya. Setelah memasukkannya ke dalam koper Arka keluar dari kamarnya.


“Ayo!” seru Arka yang melihat Jasmine masih duduk manis di tepi tempat tidurnya. Jasmine pun keluar dari dalam kamar Arka dan mengikuti Arka menuruni tangga.


Jasmine tidak tahu apa yang akan dilakukan Arka. Ia hanya mengikuti Arka ke sana dan ke mari.


“Bilang sama mama dan papa kalau mereka sudah pulang, aku pergi ke Belanda,” pesan Arka pada pembantunya sebelum pergi.


“Enggak tidur di sini, Mas?” tanya pembantunya. Arka tidak menjawabnya.

__ADS_1


Setelah itu Arka keluar rumah diikuti Jasmine. Di depan rumah sudah ada sebuah taksi yang menunggu mereka. Arka sudah memesan taksi online sebelumnya dan meninggalkan mobilnya di rumahnya.


Arka mengintruksi sopir taksi menuju rumah Pak Adam.


__ADS_2