Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 27


__ADS_3

"Sayang, aku sangat merindukanmu!" seru Arka seraya memeluk Tia dengan sangat erat.


"Arka ... hiks," ucap Tia sambil menangis tidak bisa melanjutkan kata - katanya dan membalas pelukan Arka. Ia sangat merindukan Arka. Empat tahun berpisah tanpa kabar, tentu saja membuat rindu itu menumpuk di hati dan pikirannya. Begitu juga dengan Arka. Ia merasa tersiksa dengan rindu yang ia rasakan selama di Amerika.


"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama. Setelah ini kita akan hidup bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi," balas Arka sambil tersenyum. Tia pun semakin tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada Arka.


"Arka, aku ... " ucap Tia terputus karena Arka menyahutinya.


"Iya, aku tahu kamu merindukanku, mencintaiku, dan menungguku. Jangan menangis lagi. Apa kamu terlalu bahagia hingga menyambutku dengan menangis seperti ini?" sahut Arka lalu mengusap air mata Tia dan mengecup keningnya. Tia pun menelan kembali semua kata - kata yang akan ia ucapkan pada Arka. Ia tidak mau momen bahagia Arka saat ini rusak gara-gara kabar yang akan ia sampaikan.


"Apa kamu sudah makan? Ayo kita cari restoran terdekat, kita makan bersama," ajak Arka. Tia pun mengangguk dan berjalan dalam dekapan Arka keluar dari bandara lalu naik taksi bersama.


Sesampainya di restoran, mereka duduk pada sebuah meja dan tidak lama kemudian seorang pelayan menghampiri mereka.


“Silakan … “ ucap pelayan itu seraya menaruh buku menu di hadapan mereka.


“kamu saja yang pilih, aku ikut,” ucap Arka pada Tia.


Tia pun memesan 2 porsi makanan yang sama. Setelah mencatat pesanan Tia, pelayan itu pergi. Sambil menunggu makanan pesanannya datang, Arka menceritakan kegiatannya selama di Amerika. Sedangkan Tia mendengarkan semua cerita Arka.


Dua puluh menit kemudian makanan pesanan mereka pun akhirnya datang. Tia dan Arka menikmati makanan mereka. Saat hampir selesai makan, ponsel Arka berbunyi. Arka pun menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Halo Pa," sapa Arka pada seseorang di seberang telepon yang tidak lain adalah papanya.


"Kamu di mana? Cepatlah pulang!" perintah Pak Hendo papanya Arka.


"Baiklah Pa, aku akan segera pulang," jawab Arka.


Arka pun mengakhiri panggilan teleponnya dan bersiap – siap untuk pergi.


"Sayang, aku harus pulang ke rumah orang tuaku sekarang. Besok datanglah ke apartemenku!" pamit Arka seraya berdiri.

__ADS_1


"Arka, aku ingin bicara sesuatu padamu," ujar Tia menghentikan makannya dan berdiri.


"Besok saja, masih banyak waktu sayang," balas Arka lalu mengecup pipi Tia dan memeluknya. Tia mematung di pelukan Arka.


“Tapi, Arka …. “ Tia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


“Aku tunggu besok di apartemenku, Sayang,” sahut Arka seraya tersenyum.  Setelah itu Arka pun pergi ke kasir untuk membayar pesanan mereka. Kemudian naik taksi dan untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Tia pun akhirnya pergi juga setelah merasa tidak nafsu makan lagi. Ia menghentikan taksi di depan restoran dan pulang menuju apartemen Reyhan.


***


Rumah Pak Hendro


Arka turun dari taksi setelah membayar argonya. Sejak tadi mama dan papanya sudah menunggu di teras rumah. Mereka tidak menjemput Arka ke bandara karena Arka yang memintanya. Ia ingin Tia yang menjemputnya.


“Ma … Pa … “ sapa Arka seraya tersenyum lalu memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.


“Arka sudah makan, Ma,” balas Arka seraya tersenyum.


“Ya sudah tidak apa-apa,” balas Bu Widya meskipun sedikit kecewa, tapi ia senang Arka sudah pulang.


***


Keesokan harinya


Setelah sarapan pagi, Arka pergi ke apartemennya yang sudah lama ia tinggalkan. Meskipun begitu, apartemen itu tetap bersih karena satu bulan sekali ada asisten rumah tangga yang dikirim Pak Hendro untuk membersihkannya.


Sementara itu di apartemen Reyhan, Tia sarapan pagi bersama Reyhan dengan berpikir mencari alasan untuk keluar. Ia ingin menjelaskan semuanya pada Arka secepatnya. Sehingga masalah ini tidak berlarut-larut yang mengakibatkan masalah baru di dalam rumah tangganya apabila Reyhan mengetahuinya nanti.


"Pak Rey, saya mau pergi ke swalayan sebentar ya?" izin Tia pada Reyhan setelah sarapan dan mencuci piring.

__ADS_1


"Biar kuantar," tawar Reyhan karena tidak ada aktivitas di dalam apartemennya. Ia mendapat cuti satu minggu selama masa pernikahannya. Seharusnya waktu satu minggu itu bisa dipakai untuk berbulan madu, tapi mereka tidak melakukannya.


"Tidak usah Pak, saya sendiri saja," tolak Tia sambil bersiap - siap pergi.


"Baiklah, hati - hati di jalan. kalau ada apa - apa kamu hubungi aku," balas Reyhan sambil tersenyum.


"Iya Pak," ujar Tia dengan tersenyum canggung karena ia sedang berbohong.


Tia pun keluar apartemen dan menunggu taksi di depan. Setelah mendapatkan taksi, Tia segera meluncur ke apartemen Arka. Ia ingin segera mengatakan yang sebenarnya pada Arka bahwa ia sudah menikah.


Apartemen Arka


Arka sedang sibuk membereskan semua barang - barangnya karena apartemen ini sudah lama tidak ia tempati. Ia menata semua barang-baranganya dengan semangat sambil bersiul-siul. Ia merasa sangat senang akhirnya bisa kembali ke Indonesia dan bisa bertemu dengan kekasihnya setiap hari seperti dulu.


Tidak lama kemudian bel pintu apartemen pun berbunyi. Arka segera membuka pintu dengan tergesa-gesa karena ia yakin yang datang adalah Tia. Setelah pintu terbuka, tampaklah Tia di depan pintu dengan tersenyum canggung. Arka pun mempersilakan Tia masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Mau minum apa sayang?" tanya Arka sambil tersenyum. Sebelum sampai di apartemen tadi ia sempat berbelanja bahan makanan dan minuman.


"Tidak usah repot - repot Arka, aku ke sini hanya sebentar saja," balas Tia menolak.


"Hei, kenapa buru – buru, apa kamu tidak merindukanku?" tanya Arka heran seraya duduk di samping Tia dan menggenggam kedua tangan Tia. Ia menatap mata Tia dan tersenyum.


"Arka, aku mau mengatakan sesuatu padamu," ujar Tia langsung ke intinya dengan jantung berdegup kencang.


Namun, Arka tidak merespon kata - kata Tia. Ia tersenyum lalu memegang tengkuk Tia dan mencium bibir Tia. Ini pertama kalinya Arka mencium bibir Tia selama mereka berpacaran. Arka mengira Tia akan mengatakan "Arka aku merindukanmu, aku mencintaimu", tapi nyatanya tidak begitu.


Tia tidak membalas ciuman Arka dan Arka merasa heran. Arka sudah terbiasa di Amerika selama empat tahun melihat ciumana di sana. Arka pun menggigit bibir bawah Tia sehingga bibir Tia terbuka. Tangan Arka mencoba membuka kancing kemeja Tia. Arka sangat merindukan Tia sehingga ia lepas kendali. Kini dua kancing kemeja Tia sudah terbuka. Tia ingin menghentikannya, tapi tangannya dicekal Arka di kedua sisinya. Arka pun menciumi leher dan tulang selangka Tia serta menggigitnya sehingga meninggalkan tanda merah di sana.


***


Tolong bantu like ya kakak, jangan silent reader karena novel ini sekarang ikut lomba. Terima kasih ^_^

__ADS_1


__ADS_2