
Setelah pamit dengan Pak Adam dan Bu Tari, Arka dan Jasmine masuk ke dalam mobil. Senyum hangat dan ramah yang sedari tadi tersungging di bibir Arka kini telah memudar. Begitu apik drama yang ia tunjukkan pada keluarga Jasmine. Sungguh itu membuat Jasmine merasa sangat muak pada Arka.
Selama perjalanan menuju apartemen, Jasmine memalingkan mukanya dari Arka dan lebih memilih melihat jalanan yang mulai sepi melalui kaca jendela di samping kirinya. Arka pun tidak memperdulikannya karena ia sudah mempunyai kesenangan tersendiri setelah bertemu dengan Tia, mantan kekasihnya yang masih sangat ia cintai dan ia rindukan sampai saat ini.
Sesampainya di apartemen, Arka segera keluar dari mobilnya dan berjalan menuju unit miliknya meninggalkan Jasmine yang masih duduk di dalam mobilnya. Ia benar-benar tidak perduli dengan istrinya itu.
Jasmine pun turun dari mobil dengan cemberut dan mengikuti Arka meskipun tertinggal jauh dibelakang. Saat Jasmine masuk ke dalam apartemen, bayangan Arka sudah tidak ada karena sudah masuk ke dalam kamarnya. Ia pun segera masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Semua orang sangat bahagia dengan pernikahannya, tapi pernikahanku sangat menyedihkan. Bahkan semua orang yang melihat pernikahan kami mengira kalau kami bahagia, nyatanya aku merasa masuk ke kandang harimau,” gumam Jasmine dengan tersenyum getir.
Setelah itu ia bangkit dan melucuti pakaiannya menyisakan bra dan celana dalam saja. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dari luar dan tampaklah Arka di ambang pintunya.
“Kyaaakk!” jerit Jasmine lalu segera menyambar selimut yang ada di atas tempat tidurnya. Ia merasa gugup dan jantungnya berdegup kencang.
“Ada apa Kak Arka masuk ke kamarku? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?” tanya Jasmine seraya berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut.
Arka yang juga terkejut dengan pemandangan yang ia lihat tadi tentu saja menjadi kikuk. Ia tidak mengira kalau Jasmine sedang berganti pakaian saat ia masuk ke kamar Jasmine.
“Eeee … anu. Tidak jadi , mendadak aku lupa,” jawab Arka seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu keluar dari kamar Jasmine dan menutup pintunya.
Jasmine pun menghembuskan napasnya dengan kasar melalui mulutnya merasa lega karena akhirnya Arka keluar dari dalam kamarnya. Setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi sebelum tidur.
Sementara itu Arka masih berdiri di depan pintu kamar Jasmine mengatur napas dan jantungnya yang berdebar debar setelah melihat tubuh telanjang Jasmine. Sebagai laki-laki normal, kalau disuguhi pemandangan seperti itu tentu saja laju jantungnya lebih cepat dari biasanya. Bahkan keringat dingin pun keluar dari keningnya.
Arka sudah terbiasa hidup sendiri di apartemennya, tapi kali ini ada seorang wanita yang akan hidup bersamanya. Tentu saja itu membuat gairah kelaki-lakiannya bangkit. Meskipun hatinya tidak mencintai wanita itu, tapi respon tubuhnya menginginkannya. Sedari tadi ia berusaha tetap bersikap biasa saja di depan Jasmine. Nyatanya adik kecil di dalam celananya berontak yang membuatnya merasa panas dingin. Ia pun segera masuk ke dalam kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk menenangkan sesuatu yang ada di bawah sana.
__ADS_1
“Untung saja tidak tidur satu kamar,” gerutu Arka.
***
Keesokan harinya Arka bangun pagi seperti biasanya. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian ia keluar dari dalam kamarnya dan menuju dapur untuk memasak. Ia tidak berharap banyak pada Jasmine yang nyatanya tidak bisa apa-apa. ia hanya membuat roti bakar dan secangkir kopi seperti biasanya.
Setelah siap, Arka memakan sarapannya seorang diri. Meskipun sekarang statusnya sudah menikah, tapi tetap saja rasanya seperti seorang bujang. Masak sendiri, makan sendiri, tidur pun sendiri. Setelah menghabiskan sarapannya ia segera mengambil ponsel, dompet, dan kunci mobilnya di dalam kamar lalu keluar dari apartemen. Hari ini ia akan bekerja ke perusahaan dari pada mengahabiskan waktu bersama Jasmine di dalam apartemen yang tidak ada gunanya.
Arka berangkat lebih pagi dari biasanya karena harus ke rumah orangtuanya terlebih dahulu untuk mengambil berkas yang ia bawa pulang sebelum hari pernikahannya.
Tidak lama kemudian Jasmine menggeliat di dalam kamarnya. Ia memicingkan matanya saat sinar matahari yang memasuki kamarnya dari cela gorden jendela yang terbuka mengenai matanya.
“Sudah jam berapa ini?” gumamnya lalu menguap lebar-lebar dan menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Ia meraba ponselnya yang ada di atas nakas dan membelalakkan matanya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Jasmine keluar dari dalam kamarnya. Ia melihat suasana apartemen sangat sepi. Ia pun berjalan ke dapur dan melihat cangkir bekas kopi dan piring di atas meja makan.
“Oh dia sudah sarapan sepertinya,” ujar Jasmine menebak.
Jasmine pun tidak mau repot tentunya. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya lalu mengambil ponselnya dan memesan makanan melalui aplikasi online. Sambil menunggu makanan datang, ia berselancar di instagram dan facebooknya. Tanpa ia tahu Arka sudah pergi sedari tadi.
Sementara itu Arka baru saja sampai di rumah orang tuanya. Ia keluar dari dalam mobil lalu masuk ke dalam rumahnya. Saat Arka masuk ke dalam rumahnya, orangtuanya sedang sarapan bersama.
“Eh Arka, sini sarapan bersama,” ajak Bu Widya.
__ADS_1
“Di mana istrimu?” tanya Bu Widya saat melihat Arka datang sendirian.
“Di apartemen,” jawab Arka singkat lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.
“Sikap Arka benar-benar belum berubah meskipun sudah menikah,” sahut Pak Hendro seraya menggelengkan gelengkan kepalanya.
Setelah mendapatkan berkasnya, Arka menuruni tangga dan hendak melenggang pergi. Namun, Pak Hendro memanggilnya.
“Arka kemarilah!” panggil Pak Hendro. Arka pun menghampiri papanya dan duduk di sebuah sebuah kursi.
“Ada apa?” tanya Arka dengan malas.
“Kami akan pergi berlibur ke Australia, apa kamu tidak mau ikut bersama kami sekalian berbulan madu dengan istrimu?” tutur Pak Hendro.
“Tidak, terima kasih,” tolak Arka lalu bangkit dari duduknya.
“Kamu akan bekerja?” tanya Pak Hendro saat melihat Arka memakai setelan jas lengkap dengan dasinya.
“Iya,” jawab Arka seraya pergi menjauhi meja makan hendak pergi keluar.
“Istrimu bagaimana? Kamu tinggal sendirian di apartemen?” tanya Bu Widya.
“Ma, dia bukan anak kecil lagi. Apa salahnya kalau dia tinggal di apartemen sendirian?” jawab Arka lalu pergi meninggalkan kedua orangtuanya.
Sesampainya di mobil, Arka segera masuk dan membanting pintunya dengan sangat keras. Ia merasa kesal dengan kehidupannya yang sekarang. Orangtuanya selalu mengatur kehidupannya. Sekolah, kuliah, bahkan pernikahan pun diatur orang tuanya.
__ADS_1
“Arrrggghhh!” geram Arka lalu memukul kemudinya.