
“Ada apa?” tanya Farel saat Tia sudah masuk ke dalam ruangannya.
“Maksudnya Pak?” tanya Tia tidak mengerti maksud Farel.
“Dua hari ini sepertinya kamu tidak bersemangat. Seakan-akan jiwamu lepas dari ragamu,” balas Farel seraya menaikkan sebelah alisnya.
“Maaf Pak kalau pekerjaan saya kurang maksimal,” ucap Tia seraya menundukkan kepalanya.
“Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama saya,” ujar Farel seraya tersenyum.
“Terima kasih Pak,” balas Tia dengan kepala tertunduk.
***
Sore hari saat sudah waktunya pulang bekerja, Tia segera buru-buru keluar dari café. Ia sudah terbiasa dengan kehadiran Arka di depan café saat ia pulang bekerja. Ketika sudah di depan pintu café, ia melihat ke sekeliling untuk mencari sosok Arka. Kemudian ia tersenyum getir.
“Arka sudah pergi Tia …,” gumam Tia lirih. Tiba-tiba rasa sesak kembali menjalar di hatinya. Matanya pun berkaca kaca.
Ia pergi meninggalkan café dengan langkah gontai. Kini hidupnya terasa sendiri, sepi, dan hampa tanpa Arka yang selalu menemani hari-harinya.
Saat Tia sampai di kos-kosannya, ia melihat Salsa di depan pintu kamarnya. Ia pun menghambur memeluk Salsa dan isak tangis pun mulai terdengar. Salsa membalas pelukan Tia dan membelai punggungnya.
“Arka pergi Sa … “ ucap Tia dengan suara lirih di sela tangisnya. Ia menangis tersedu-sedu di pelukan Salsa.
“Sabar ya Tia … “ balas Salsa yang kemudian ikut menangis melihat kesedihan Tia. Ia tahu bagaimana hancurnya perasaan Tia saat ini. Ditambah lagi Tia tidak punya siapa-siapa selain dirinya dan Arka.
***
Satu minggu kemudian
Orang tua Arka kembali ke Indonesia setelah satu minggu di Amerika. Selain mengantar Arka, mereka juga liburan di sana. Sebelum pulang ke rumah, mereka mampir ke café di mana Tia bekerja. Saat melihat Tia keluar dari café, Bu Widya keluar dari dalam mobil dan menghampiri Tia. Tia terkejut saat melihat Bu Widya menghampirinya.
“Ikut aku!” ucap Bu Widya dengan nada memerintah. Tia pun mengikuti Bu Widya yang berjalan ke arah mobilnya. Setelah itu Tia masuk ke dalam mobil.
“Aku hanya mau mengingatkanmu, jangan ganggu Arka yang sedang kuliah di luar negeri. Nanti dia tidak fokus pada kuliahnya,” ucap Bu Widya dengan melipat tangan di dadanya setelah Tia duduk di dalam mobilnya.
“Iya Tante … ” balas Tia dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Kalau kamu butuh uang, bilang saja mau berapa? Asal kamu tidak menganggu Arka lagi,” imbuh Bu Widya.
“Terima kasih, tapi saya tidak butuh uang anda. Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, saya permisi,” ucap Tia lalu membuka pintu mobil dan keluar.
“Sombong juga gadis itu,” gumam Bu Widya.
“Sudah, biarkan saja Ma,” balas Pak Hendro lalu menyuruh supirnya melajukan mobilnya.
***
Dua bulan berlalu
Arka menyibukkan diri dengan kuliah dan belajar. Ia tidak menghubungi Tia sama sekali sesuai janjinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan restu orang tuanya, ia melakukan apapun demi cintanya pada Tia. Rindu? Tentu saja ia sangat merindukan gadis cantik yang selalu mengisi hari-harinya dulu. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah melihat foto yang ia simpan di galeri ponselnya.
Untuk mengalihkan kesedihannya, Arka bergabung pada sebuah komunitas di Amerika yang isi anggotanya orang Indonesia semua. Di sana ia bisa saling bertukar cerita dan pengalaman yang mereka punya. Mereka juga bisa saling membantu bagi yang membutuhkan.
Sementara itu di Indonesia, Tia juga sudah masuk kuliah. Sehingga ia bekerja pada sore hari setelah pulang dari kuliah. Farel pun sudah mengganti pekerjaan Tia. Yang dulunya Tia mencuci piring, sekarang ia menjadi pelayan yang mengantarkan pesanan pelanggan.
Tia tidak pernah menghubungi Arka sekalipun, begitu juga sebaliknya. Yang bisa ia lakukan hanyalah memendam rasa rindu yang semakin lama semakin membuncah. Ia menyibukkan diri dengan kuliah dan bekerja. Ketika malam hari, ia langsung tertidur di kamarnya karena rasa lelah yang ia rasakan.
***
Tia dan Salsa sedang menunggu dosen baru yang akan mengajar mereka pagi ini sambil bergurau dengan teman temannya yang lain. Tidak lama kemudian seorang laki-laki muda berusia 25 tahun memasuki ruang kelas mereka. Semua mahasiswa kembali duduk ke kursinya masing-masing.
“Selamat pagi semua … “ sapa laki-laki itu seraya tersenyum.
“Selamat pagi … “ sahut semua mahasiswa yang ada di dalam ruang kelas itu.
“Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, perkenalkan nama saya Reyhan Wijaya. Mulai hari ini saya akan mengajar di kampus ABC. Jadi mohon kerja samanya ya,” ucap Reyhan memperkenalkan diri.
“Iya Pak,” sahut semua yang ada di dalam ruang kelas itu.
“Ada pertanyaan?” tanya Reyhan seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
“Sudah punya pacar belum Pak?” celetuk seorang mahasiswi tanpa tahu malu dan senyum-senyum sendiri. Teman temannya pun bersorak padanya.
“Belum,” jawab Reyhan dengan santainya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian kegiatan belajar mengajar pun dimulai.
Dua jam berlalu
Reyhan keluar dari ruang kelas setelah menutup kegiatan belajar mengajarnya. Ruang kelas menjadi ramai kembali.
“Ya ampun ganteng banget Pak Reyhan … “ celetuk Ayu tiba-tiba.
“Iya, ganteng banget. Sampai tahan napas aku dari tadi saking gugupnya,” imbuh Lina.
“Jangan ngarep jadi pacarnya, kalian enggak akan level sama beliau,” celetuk Salsa yang melihat mereka sanat lebay.
Tia hanya tersenyum saat mendengar berdebatan mereka. Setelah itu ia keluar dari ruang kelas karena harus segera pergi ke café untuk bekerja.
Sesampainya di café, Tia segera mengganti pakaiannya dengan seragam lalu melayani pelanggan yang datang.
“Selamat datang di café kami,” sapa Tia dengan tersenyum ramah di dekat pintu masuk café pada pelanggan yang baru datang. Tia mengikuti pelanggan yang baru datang lalu menyerahkan buku menu setelah pelangganya duduk. Setelah mencatat pesanan pelanggannya, Tia pun pergi untuk memproses pesanan pelanggannya.
“Tia … “ panggil Farel.
“Iya Pak?” sahut Tia setelah menghampiri Farel yang tadi memanggilnya.
“Kamu bisa naik motor?” tanya Farel.
“Bisa Pak,” jawab Tia karena dulu Arka pernah mengajarinya.
“Kalau begitu tolong antar pesanan ini ya. Tempatnya tidak jauh dari sini. Karena Aldo sudah pergi mengantar pesanan yang lain,” ucap Farel meminta tolong.
“Baik Pak,” jawab Tia seraya tersenyum.
Tia pun mengantar pesanan ke sebuah apartemen yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Setelah ia menemukan unit sesuai dengan alamat yang tertera, ia pun memencet bel pintunya.
Tidak lama kemudian tampaklah seorang laki-laki yang Tia baru tahu tadi siang. Dia adalah Reyhan Wijaya dosen baru yang mengajar di kampusnya.
“Selamat sore, saya mengantar pesanan Anda,” ucap Tia dengan tersenyum pada Reyhan.
“Oh iya. Terima kasih,” balas Reyhan lalu memberikan uang pada Tia. Setelah itu Tia pergi kembali ke cafenya.
__ADS_1