Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 20


__ADS_3

Hari ini hari Minggu. Hari terakhir Arka di Indonesia. Besok dia akan berangkat ke Amerika. Pagi hari ia ke kos kosan Tia untuk jalan-jalan pagi bersama di sekitar kos-kosan Tia. Kebetulan juga Tia sedang libur bekerja. Arka sangat menikmati masa-masa bersama Tia untuk yang terakhir kalinya.


Setelah sarapan pagi bersama di sebuah warung pinggir jalan, Arka menghabiskan waktunya menemani Tia di kamar kos-nya hingga siang hari.


"Sayang, nanti sore nonton yuk?" ajak Arka pada Tia yang sedang menyetrika pakaiannya.


"Okey sayang, tumben akhir - akhir ini kamu ngajakin ketemu setiap hari dan selalu mengajakku keluar?" tanya Tia sambil memandang Arka dengan heran.


"Enggak apa - apa sayang, i love you," jawab Arka sambil tersenyum.


“Aku pulang dulu ya, nanti sore aku jemput,” pamit Arka.


“Okey. Hati-hati Arka … “ balas Tia.


Arka pergi dari kos-kosan Tia melajukan motornya ke apartemen. Ia ingin tampil setampan mungkin malam ini. Hari ini adalah hari terakhir ia bertemu Tia. Ia ingin Tia tidak pernah melupakannya meskipun jarak memisahkan mereka.


Sore hari


Arka memandang bayangan dirinya di depan kaca. Setelah yakin dan mantap dengan penampilannya, Arka keluar dari apartemen dan melajukan motornya ke kos-kosan Tia.


Sesampainya Arka di kos-kosan Tia, ternyata Tia sudah siap. Tidak lama kemudian Arka melajukan motornya ke mall di mana bioskop berada dengan Tia berada di boncengannya.

__ADS_1


Sesampainya di mall, Arka berjalan memasuki gedung mall dengan Tia yang bergelayut di lengannya sambil tersenyum. Sudah lama mereka tidak nonton di bioskop. Apalagi setelah Tia pindah ke kos-kosan dan bekerja, Tia tidak ada waktu bersantai seperti dulu.


Karena hari Minggu, suasana mall sangat ramai begitu juga dengan bioskopnya. Untuk membeli tiket, mereka harus antri yang lumayan panjang. Arka meminta Tia untuk menunggu duduk di sebuah kursi, tapi Tia menolaknya. Ia ingin berdiri antri bersama Arka. Setelah membeli 2 lembar tiket dan popcorn, Arka mengajak Tia masuk ke dalam gedung bioskop.


Di dalam bioskop, Arka memegangi tangan Tia dan tidak melepaskannya sedetik pun. Tia merasa aneh, tapi ia tidak curiga dengan kelakuan Arka. Ia terlalu fokus menonton film tanpa ia tahu sedari tadi Arka memandanginya. Meskipun ruangan itu tidak terlalu terang, tapi wajah Tia masih bisa terlihat dengan jelas karena terkena sorotan terangnya layar.


Setelah keluar dari bioskop, Arka mengajak Tia berjalan - jalan di taman kota. Sebelum mereka masuk ke taman kota, Arka membeli es krim makanan kesukaan Tia. Kemudian mereka duduk di sebuah kursi taman. Arka menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan sesuatu pada Tia.


"Sayang," panggil Arka.


"Iya, Arka sayang," jawab Tia setelah menjilat es krim yang dibelikan Arka.


"Besok aku akan pergi ke Amerika melanjutkan kuliahku, berjanjilah akan menungguku pulang," ucap Arka tiba – tiba tanpa memandang Tia yang berada di sampingnya.


"Enggak Tia, aku serius. Aku mencintaimu. Tunggulah aku pulang sayang, aku melakukan ini demi cinta kita," jawab Arka sambil menggenggam tangan Tia. Tia memandang Arka yang kini berada di depannya dengan mata berkaca kaca. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Air mata pun lolos dari pelupuk matanya.


"Arka ... aku akan selalu menunggumu, merindukanmu, dan mencintaimu," ucap Tia. Ia mengusap air mata yang sudah mengalir tanpa izin di pipinya dengan punggung tangannya. Arka memeluk Tia dengan sangat erat. Tia pun membalas pelukan Arka. Arka menaruh dagunya di bahu Tia, tanpa Tia tahu Arka menangis di bahunya.


Aku berjanji akan segera pulang. Tunggulah aku pulang. Sejujurnya aku tidak tega meninggalkanmu. Aku tahu kamu tidak punya siapa-siapa di dunia ini, tapi aku harus pergi demi kebahagiaan kita. Hanya empat tahun, bersabarlah menungguku. Batin Arka lalu mengusap air matanya.


***

__ADS_1


Arka pulang ke rumahnya pukul 21.25. Setelah pulang dari taman kota tadi, Arka mengajak Tia makan di café Cinta langganan mereka dulu. Sebenarnya tidak ada yang berselera makan baik Arka maupun Tia, tapi mereka belum makan malam. Jadi mereka memaksakan diri untuk makan meskipun sangat sulit rasanya untuk menelan.


“Arka … “ panggil Bu Widya seraya mengetuk pintu kamar Arka. Karena tidak ada jawaban dari Arka, Bu Widya pun membuka pintu kamar Arka yang kebetulan tidak dikunci. Tampaklah Arka yang tengah berbaring di atas tempat tidur seraya memeluk guling membelakangi Bu widya.


Bu Widya membelai rambut Arka dengan lembut. Ini adalah hari Arka terakhir tidur di rumah. Tiba-tiba bahu Arka bergetar. Ia menahan tangis sejak tadi, tapi akhirnya pertahanannya runtuh.


“Arka … kamu belum tidur?” tanya Bu Widya.


Arka bangkit dari tidurnya lalu memeluk Bu Widya dengan erat.


“Ma … “ ucap Arka dengan suara lirih dan bergetar.


“Mama akan menepati janji yang Mama buat kan?” tanya Arka pada Bu Widya untuk memastikan sekali lagi. Bu Widya menganggukkan kepalanya seraya membelai rambut Arka. Bagaimanapun juga Arka adalah anaknya. Bu Widya dan Pak Hendro melakukan ini semua juga untuk kebahagiaan Arka, tapi cara mereka tidak berperasaan.


“Tidurlah, ini sudah malam. Besok kamu harus berangkat ke Amerika, jadi persiapkan fisikmu untuk perjalanan jauh besok. Semua barang-barang kamu sudah kamu persiapkan kan? Jangan sampai ada yang tertinggal,” ujar Bu Widya dengan lembut. Setelah itu ia melepaskan pelukan Arka lalu menyelimuti tubuh Arka yang sudah berbaring.


Sementara itu Tia menangis sambil tengkurap menghadap bantal di dalam kamarnya. Ia tidak menyangka Arka akan pergi jauh meninggalkannya. Setiap hari hanya Arka yang menemani hari-harinya. Baik pagi, siang, maupun malam. Di dunia ini hanya Arka yang ia miliki saat ini.


Padahal sebelumnya ia sudah membayangkan akan kuliah di kampus yang sama dengan Arka. Bertemu, bercanda, belajar, dan tertawa bersama. Ia sangat bahagia membayangkan itu. Hingga tiba-tiba hari ini Arka memberitahunya sebuah kejutan, ya sebuah kejutan yang sangat membuatnya terkejut bagai disambar petir.


Ia tidak pernah curiga terhadap Arka sedikitpun. Harusnya ia sudah bisa menebaknya kenapa Arka masih belum daftar kuliah juga, padahal sudah lulus. Ia juga mendapatkan beasiswa yang sama dengannya.

__ADS_1


“Bod*h!” gumam Tia seraya tersenyum getir. Bibirnya bergetar dan air matanya semakin deras membasahi pipinya.


“Arka … kalau kamu pergi, di sini aku dengan siapa? Aku akan kesepian tanpamu Arka … “ ucap Tia dengan suara lirih sambil memejamkan matanya sekejap. Bantalnya sudah sangat basah oleh air mata. Dadanya benar-benar terasa sangat berat dan sesak. Sakit tapi tidak berdarah. Bukan karena putus cinta, tapi ia masih belum siap untuk ditinggalkan.


__ADS_2