Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 40


__ADS_3

Setelah menerima telepon dari mamanya, Jasmine bermaksud memberi tahu Arka kalau mamanya mengundang mereka makan malam, tapi Jasmine terlalu takut untuk menghadapi Arka yang dingin dan sedikit tempramen. Jasmine mondar-mandir di depan pintu kamar Arka. Mau mengetuk, tapi ragu-ragu.


"Ketuk, enggak, ketuk, enggak, ketuk," gumam Jasmine sambil menghitung kancing kemejanya. Jasmine pun menghirup napas dalam - dalam dan menghembuskannya lewat mulut dengan kasar.


"Kak ... " panggil Jasmine sambil mengetuk pintu kamar Arka, tapi tidak ada jawaban. Jasmine pun mengulanginya sampai tiga kali, tapi hasilnya nihil. Dia pun bertekad membuka pintu kamar Arka dengan gugup yang kebetulan tidak dikunci. Jasmine masuk ke dalam kamar Arka dan melihat kamarnya kosong.


"Apa Kak Arka pergi ya?" gumam Jasmine. Dia pun berbalik. Ketika hendak keluar tiba - tiba dia mendengar suara Arka.


"Apa yang kamu lakukan di kamarku?" tanya Arka dengan geram ketika keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Jasmine di dalam kamarnya. Jasmine pun berbalik dan menemukan sosok Arka bertelanjang dada yang hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Jasmine pun terpesona dengan bentuk tubuh Arka. Dadanya bidang dan perutnya berbentuk roti sobek ditambah wajahnya yang tampan, tapi sayang sikapnya cuek. Arka pun mendekati Jasmine yang melongo.


"Hei, kenapa kamu di kamarku?" tanya Arka sambil menepuk pipi Jasmine supaya sadar dari ketertegunannya.


"Aaaah ... eeee ... aku ... aku mau kasih tahu Kak Arka kalau nanti malam mama mengundang kita makan di rumah," jawab Jasmine terbata-bata karena gugup, mukanya pun kini bersemu merah.


"Kenapa mukamu merah? Kamu demam?" tanya Arka sambil menyentuh kening Jasmine.


"Ti- tidak. Aku akan kembali ke kamarku. Kak Arka bisa datang kan?" tanya Jasmine sebelum keluar dari kamar Arka.


"Hmmm," jawab Arka singkat.


Setelah keluar dari kamar Arka dan menutup pintunya Jasmine bernapas lega. Jantungnya dag dig dug. Perasaannya campur aduk antara takut, malu, dan senang. Dia pun senyum - senyum sendiri seraya berjalan menuju kamarnya.


Sementara itu Arka di dalam kamarnya tersenyum senang. Ia yakin pasti nanti malam akan bertemu Tia di rumah Pak Adam. Tidak mungkin keluarga Jasmine hanya mengundang Jasmine saja. Arka pun segera membuka almari untuk memilih pakaian. Ia ingin tampil sempurna malam ini.


***

__ADS_1


Sementara itu Tia di apartemennya berpikir akankah ia bertemu Arka nanti malam? Baru saja suaminya menelepon dan memberitahu bahwa mamanya mengundang makan malam. Tia pun bersiap-siap sambil menunggu suaminya pulang dari bekerja.


***


Apartemen Arka


Jasmine keluar dari dalam kamarnya bermaksud untuk mengetuk pintu kamar Arka. Namun, saat Jasmine baru saja keluar dari dalam kamar, Arka sudah menunggunya di sofa ruang tengah dengan pakaian yang sudah rapi.


“Ayo berangkat!” ajak Arka dengan semangat saat mendengar pintu kamar Jasmine terbuka.


Jasmine merasa terkejut ketika Arka mengajaknya berangkat duluan. Apalagi raut wajahnya begitu bersemangat. Jasmine pun tersenyum menyetujuinya. Tanpa Jasmine tahu yang membuat Arka bersemangat bukanlah dirinya, melainkan Tia.


Sesampainya Arka dan Jasmine di rumah Pak Adam, Reyhan dan Tia sudah datang terlebih dahulu. Jasmine dan Arka masuk ke dalam rumah di saat Reyhan dan Bu Tari sedang beradu mulut lantara Bu Tari mengundang Dona, wanita yang akan dijodohkan dengan Reyhan. Bu Tari tidak menyukai Tia dan ingin Reyhan berpisah dari Tia lalu menikahkannya dengan Dona.


Arka mengedarkan pandangan matanya mencari sosok Tia, seseorang yang selama ini dia rindukan. Meskipun mereka sudah putus sejak lama, tapi Arka masih belum bisa melupakan Tia. Dia pun menemukan Tia sedang bersantai di sofa ruang tengah. Pandangan Arka yang awalnya dingin berubah menjadi hangat.


Karena Jasmine dan Arka sudah datang, makan malam pun dimulai. Mereka bertujuh sudah duduk di meja makan. Karena meja makannya bundar, jadi urutannya Pak Adam, Reyhan, Tia, Arka, Jasmine, Dona, Bu Tari. Sedangkan Adimas, kakaknya Reyhan sudah kembali ke Jerman karena urusan pekerjaan yang harus segera diselesaikan.


Reyhan mengambilkan makanan untuk Tia. Begitu juga dengan Bu Tari mengambilkan makanan untuk suaminya. Jasmine yang melihat semua ini, dia berinisiatif mau mengambilkan makanan untuk Arka. Saat dia hendak mengambil piring Arka, Arka menolaknya.


"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Arka. Yang lain pun memandang mereka yang seperti bukan pasangan suami istri.


"Tidak apa-apa Nak Arka, biar Jasmine yang melayanimu," ucap Pak Adam seraya tersenyum. Arka pun mengangguk setuju untuk menghormati mertuanya.


Jasmine pun mengambil kembali piring Arka lalu mengambilkan makanan untuk suaminya untuk pertama kalinya. Ia merasa sangat gugup. Setelah itu ia menaruh piring Arka yang sudah berisi makanan di depan Arka.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap Arka.


Mereka semua pun makan tanpa ada yang bersuara. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar. Saat proses makan malam berlangsung tiba-tiba tangan Arka menggenggam tangan Tia di bawah meja. Tia yang terkejut tiba-tiba tersedak.


Reyhan dan Arka yang melihat Tia tersedak, mereka pun segera mengambil air minum yang ada di depan mereka dan memberikannyapada Tia secara bersamaan. Tia menerima minum dari Reyhan karena Reyhan suaminya. Suasana menjadi canggung. Semua mata tertuju pada Arka.


"Ah ... maaf hanya reflek saja saat melihat kakak ipar tersedak," ucap Arka sambil tersenyum paksa.


"Terima kasih," ucap Tia dengan tersenyum paksa setelah meneguk minuman pemberian Reyhan dan menaruh gelasnya.


Setelah itu mereka pun melanjutkan makan malam mereka dengan tenang. Seusai makan malam mereka berbincang-bincang sebentar untuk mencairkan suasana.


“Kalian mau menginap di sini malam ini?” tanya Bu Tari pada Reyhan dan Jasmine.


Reyhan menoleh pada Tia dan Tia memberikan kode penolakan. Ia lebih suka tinggal dan tidur di apartemen dari pada di rumah Bu Tari. Apalagi dengan Bu Tari yang tidak menyukainya.


“Tidak, Ma. Reyhan pulang saja,” jawab Reyhan menolak.


“Kamu Jasmine?” tanya Bu Tari pada Jasmine.


“Tidak, kami kembali ke apartemen saja. Pengantin baru lebih suka menghabiskan waktu hanya berdua saja,” sahut Arka beralasan seraya tersenyum, tapi matanya menatap tajam ke arah Tia.


Semua yang mendengarnya pun tertawa. Mereka tidak menyangka Arka bisa lebih akrab dengan Jasmine secepat ini. Namun, hanya Jasmine yang tidak tertawa. Ia tahu Arka hanya berbohong untuk menutupi ketidak harmonisan rumah tangga mereka. Sejujurnya Jasmine sangat ingin menginap di rumahnya, dengan begitu ia tidak merasa kesepian seperti di apartemen Arka. Bahkan Arka sangat cuek dan mengabaikannya.


Hari semakin malam dan mereka pun pamit pulang ke apartemen masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2