Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 12


__ADS_3

Bu Widya pun akhirnya mengatakan pada Arka bahwa dia mengetahui hubungan dia dan Tia dari Vanessa. Ia juga mengatakan tadinya ia setuju-setuju saja apabila Arka berpacaran, tapi ia ingin Arka berpacaran dengan keluarga yang status sosialnya setara dengan keluarganya.


“Oh, jadi Mama tahu dari Vanessa?” tanya Arka dengan tersenyum getir.


“Dia lebih cocok sama kamu dari pada gadis itu Arka … “ ujar Bu Widya pada Arka.


“Tidak! Arka tidak suka dengan Vanessa. Arka mohon, Mama jangan ikut campur urusan percintaan Arka Ma … “ Arka memohon pada mamanya.


“Tidak bisa begitu Arka, kamu anak mama!” ucap Bu Widya tidak mau mengalah.


“Terserah apa kata Mama! Yang jelas Arka tidak akan meninggalkan Tia apapun yang terjadi!” ujar Arka lalu masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintunya. Bu Widya menggelengkan-gelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka Arka akan berubah seperti itu ketika dewasa.


***


Rumah Pak Hendro


Malam hari sebelum tidur, Bu Widya menceritakan semuanya tentang Arka pada suaminya. Pak Hendro mendengarkan dengan seksama. Ia pun  mengerti kenapa tiba-tiba Arka minta dibelikan apartemen.


“Mama tenang saja, nanti kalau Arka sudah kuliah di Amerika, dia akan lupa dengan gadis itu,” ujar Pak Hendro dengan santainya.


“Tapi Pa … mama enggak yakin Arka mau kuliah ke Amerika … “ balas Bu Widya khawatir.


“Kita gunakan gadis itu untuk mengancam Arka, Ma … “ balas Pak Hendro dengan tersenyum misterius. Bu Widya pun setuju dan tersenyum juga.


***


Dua hari kemudian


Pulang sekolah, Vanessa mengajak Tia nongkrong di sebuah café sebentar dengan alasan untuk meminta maaf atas perkataannya beberapa hari yang lalu. Awalnya Tia tidak mau karena ia tidak punya uang untuk nongkrong nongkrong seperti itu. Biasanya ketika jalan bersama Arka, selalu Arka yang keluar uang untuk membayar yang ia makan.


“Biar aku yang bayar Tia … “ ujar Vanessa sambil tersenyum supaya Tia mau ikut dengannya. Tia pun akhirnya mau ikut dengan Vanessa. Ia mengira Vanessa tulus mau minta maaf padanya. Ia tidak curiga apapun karena hati Tia memang baik dan tidak pernah berburuk sangka dengan orang lain.

__ADS_1


Sesampainya mereka di café, Vanessa mengajak Tia ke sebuah meja. Di sana sudah ada Bu Widya yang sedang duduk menunggu kedatangan mereka sambil minum jus.


“Kenapa kita ke meja ini?” tanya Tia tidak mengerti pada Vanessa.


“Ini Tia Tante, pacarnya Arka … “ ucap Vanessa pada Bu Widya.


“Terima kasih Vanessa … “ ucap Bu Widya seraya tersenyum. Setelah itu Vanessa pergi meninggalkan Tia yang masih kebingungan bersama Bu Widya.


“Silakan duduk. Mau minum apa?“ tanya Bu Widya pada Tia sambil tersenyum.


“Tidak usah Tante, terima kasih. Ada perlu apa tante mencari saya?” tanya Tia dengan sopan.


“Okey, tidak perlu basa-basi kalau begitu. Saya mau kamu tinggalkan Arka! Berapa uang yang kamu minta untuk meninggalkan Arka?” tanya Bu widya pada Tia.


Deg


Tia tertegun mendengar perkataan Bu Widya. Ia tidak menyangka Bu Widya akan menawarkan uang hanya untuk memisahkan dia dengan Arka.


“Tante … saya mencintai Arka dengan hati, bukan karena uang yang dia miliki,” balas Tia dengan lembut.


“Arka sudah bahagia bersama saya Tante … ” tanya Tia pada Bu Widya.


“Kamu berani juga ya berkata seperti itu sama saya … “ balas Bu Widya sambil memandang sinis ke arah Tia.


“Bukan begitu maksud saya Tante, maafkan saya. Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya pergi dulu Tante. Selamat siang … “ Tia segera berdiri dan pergi meninggalkan Bu Widya. Wajahnya sudah terasa sangat panas dan tidak bisa menahan lagi air mata yang akan keluar dari pelupuk matanya.


“Sial! Dia berani juga ternyata,” gumam Bu Widya.


Tia berjalan dengan cepat keluar dari café sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya. Ia tidak menyangka orang tua Arka akan menemuinya dan menukar cintanya dengan uang. Dari dulu ia tidak pernah mencintai Arka karena kekayaannya, ia mencintai Arka tulus dengan hatinya. Tapi orang kaya memang akan memandang sebelah mata gadis yatim piatu seperti dirinya.


Tia berjalan sendirian menyusuri jalanan dengan berlinang air mata. Hingga akhirnya ia sampai di taman kota. Ia duduk di sebuah bangku sambil memandang air mancur di tengah taman. Tidak berapa lama ponsel Tia berdering. Tia pun membuka tasnya dan mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang meneleponnya. Setelah melihat nama Arka di layar ponselnya, Tia pun menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.

__ADS_1


“Hallo … “ sapa Tia.


“Kamu tadi ke mana? pulang sekolah aku mencarimu, tapi kamu tidak ada,” tanya Arka merasa khawatir.


“Aku … aku … hiks,” Tia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Hatinya terlalu sakit, ia pun tidak kuat menahan tangisnya.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Arka semakin khawatir. Tia tidak menjawabnya. Tapi Arka bisa mendengar suara air mancur dan suara burung dara di sekitar Tia. Arka pun bisa menebak Tia sekarang berada di taman kota. Karena tidak ada jawaban dari Tia, Arka pun mematikan sambungan teleponnya dan bergegas pergi menyusul Tia ke taman kota.


Ketika sambungan teleponnya mati, Tia pun menangis sejadi-jadinya. Ia tidak perduli meskipun banyak orang yang melihatnya. Ia menundukkan kepalanya sambil mengusap butiran air mata yang membasahi pipinya.


Dua puluh menit kemudian Arka menemukan Tia yang tengah duduk di sebuah bangku dengan menundukkan kepalanya. Arka menghampirinya dan membelai kepalanya. Tia mendongakkan kepalanya dan melihat sosok Arka di depannya. Ia pun mengusap matanya berkali-kali takut kalau itu hanya halusinasinya saja. Arka tersenyum melihat kelakuan Tia yang ia rasa itu sangat lucu.


“Arka … “ ucap Tia dengan manja lalu memeluk Arka dengan erat.


“Iya ini aku … “ balas Arka lalu membalas pelukan Tia.


“Kenapa kamu menangis?” tanya Arka.


“Tidak apa-apa. Aku mencintaimu Arka … “ jawab Tia tidak mengatakan yang sebenarnya pada Arka.


“Jangan berbohong padaku … “ ucap Arka seraya melepas pelukannya dan mengusap air mata Tia dengan ibu jarinya.


“Tidak, aku tidak berbohong padamu, aku hanya merindukanmu … “  balas Tia seraya tersenyum.


“Aku juga selalu merindukanmu … “ balas Arka sambil tersenyum.


Kruyuk … kruyuk ….


Bunyi perut Tia yang sedang lapar terdengar sangat keras. Arka pun tertawa mendengarnya. Begitu juga dengan Tia, ia merasa malu tapi ikut tertawa juga.


“Kamu lapar?” tanya Arka. Tia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Ayo makan dulu, nanti kamu sakit. Kamu mau makan apa?” tanya Arka seraya menggandeng tangan Tia pergi untuk mencari makan.


“Apa pun akan aku makan asal bersamamu Arka … “ jawab Tia sambil memeluk lengan Arka dan menyandarkan kepalanya di bahunya meninggalkan taman kota.


__ADS_2