
Setelah turun dari pelaminan, Tia dan Reyhan mengambil makanan yang tersedia. Tidak berapa lama terdengar suara seseorang bernyanyi di atas panggung. Tia mengenali suara itu dan dia masih ingat lagu itu adalah lagu yang sering Arka nyanyikan untuknya. Tia pun mendongak dan menoleh ke arah panggung. Di sana Arka berdiri dan menatap ke arah Tia.
Sing a song
Betapa aku mencintaimu
Dengan sepenuh hatiku
Betapa aku menyayangimu
Lebih dari yang kau tau
Ingin kubahagiakan dirimu
Setiap saat bersamaku
Seperti janjiku kepadamu
Takkan pernah ku ingkari
Aku 'kan selalu ada di dekatmu
Aku 'kan selalu menemani harimu
Kau harus tahu
Betapa aku mencintaimu
Aku 'kan selalu ada di dekatmu
Aku 'kan selalu menemani harimu
Kau harus tahu
Betapa aku mencintaimu
Betapa aku mencintaimu
With everything inside of me
Para tamu undangan pun bertepuk tangan. Mereka mengira pengantin pria sedang bernyanyi untuk pengantin wanita karena tidak ada yang tahu tentang kisah cinta Arka dan Tia kecuali mereka sendiri dan Salsa.
Tia yang mendengarkan lagu itu tidak kuat menahan air matanya. Air mata pun menetes di pipi Tia. Reyhan yang melihat Tia menangis segera menghampirinya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Reyhan sambil menghapus air mata Tia.
"Mas Rey, aku … aku ... terharu sama nyanyian suaminya Jasmine," jawab Tia bohong dan segera memeluk Reyhan.
__ADS_1
"Iya, suara dan liriknya bagus. Jasmine pasti bahagia punya suami seperti Arka. Dia sangat romantis," ujar Reyhan sambil memeluk Tia. Hati Tia pun semakin teriris mendengarnya.
Setelah menyanyi, Arka turun dari panggung dan terus menatap ke arah Tia yang tengah dipeluk Reyhan. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia mendongak agar air matanya tidak terjatuh. Setelah itu dia berlalu pergi ke toilet. Di dalam toilet dia mengepalkan tangannya dan meninju - ninju tembok melampiaskan kekesalannya.
“Sial! Kenapa aku harus menikah dengan adik iparnya Tia?” gumam Arka menyesal. Ia masih tidak percaya kalau kini ia menjadi saudara ipar dengan Tia, mantan kekasih yang sampai saat ini masih dicintainya.
***
Pesta pernikahan pun berakhir. Jasmine dan Arka menginap di hotel Ratu. Setelah masuk ke dalam kamar, Arka segera membuka kopernya untuk mengambil pakaiannya dan segera membersihkan diri di dalam kamar mandi. Jasmine merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Betapa melelahkannya hari ini. Huft!" keluh Jasmine. Karena kelelahan tidak lama kemudian dia pun tertidur.
Arka keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Jasmine yang tertidur segera membangunkannya dan menyuruhnya mandi. Jasmine pun bangun dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Tidak berapa lama dia keluar lagi.
"Kak Arka, tolong turunkan resleting gaunku dong?" pinta Jasmine. Arka pun terpaksa membantunya karena tidak ada orang lain lagi di dalam kamar mereka.
Setelah itu Jasmine masuk ke dalam kamar mandi lagi. Dia berendam air hangat untuk menghilangkan rasa capeknya. Saat berendam Jasmine memikirkan nyanyian Arka waktu di pesta pernikahannya tadi.
"Bukankah Kak Arka tidak mencintaiku, kenapa dia menyanyikan lagu cinta? Sebenarnya lagu itu untuk siapa?" gumam Jasmine.
Setelah berendam dan membilas tubuhnya, Jasmine melilitkan handuk dan hendak keluar dari dalam kamar mandi, tapi ia ragu karena di dalam kamar ada Arka. Dia pun membuka pintu sedikit dan memanggil Arka.
"Kak ... bisa tolong ambilkan baju di dalam koperku?" pinta Jasmine dengan pelan.
Arka yang tadinya rebahan membalas dengan cuek. "Berisik! Ambil sendiri!"
"Enggak usah kepedean, aku enggak akan melihatmu!" balas Arka jutek.
Setelah mendengus kesal dengan kelakuan Arka padanya, Jasmine pun keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan selembar handuk yang melilit di tubuhnya. Dia membuka kopernya lalu mengambil pakaiannya. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam kamar mandi. Dia berdiri di depan wastafel menghadap kaca dan menangis.
"Mama ... papa ... kak Rey ... hiks, hiks. Kenapa dia jahat sekali sama Jasmine? Tahu gini Jasmine enggak mau nikah," gumam Jasmine. Dia mengusap air matanya sendiri lalu berjongkok di dalam kamar mandi meluapkan kekesalannya dengan menangis sendirian.
Sudah setengah jam, Jasmine belum keluar juga dari dalam kamar mandi. Arka pun bertanya - tanya kenapa Jasmine belum keluar juga. Dia pun mengetuk pintu kamar mandi, takut terjadi apa - apa pada Jasmine.
"Jasmine," panggil Arka di depan pintu kamar mandi. Namun, tidak ada jawaban. Arka pun memanggil Jasmine lagi, tapi tetap tidak ada jawaban.
Dia pun terpaksa masuk ke dalam kamar mandi. Saat dia membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci, dia melihat Jasmine berjongkok dan menangis. Arka pun mendekatinya dan ikut berjongkok di depannya.
"Kenapa kamu masih belum berganti baju? Kenapa menangis?" tanya Arka.
"Kenapa Kak Arka masuk ke sini?" tanya Jasmine dengan mata sembab dan berusaha menutupi tubuhnya.
"Kamu lama di dalam kamar mandi, dan aku memanggilmu, tapi enggak ada sahutan. Aku hanya takut terjadi apa – apa, nanti aku yang disalahkan," balas Arka.
"Tidak perlu mengkhawatirkanku. Pergilah!" usir Jasmine.
"Okey, segeralah berganti baju. Setelah ini kita turun ke bawah untuk makan malam, aku sudah lapar," ujar Arka lalu keluar dari dalam kamar mandi dan menutup pintunya.
__ADS_1
Lima menit kemudian, Jasmine keluar dari dalam kamar mandi dan Arka sudah menunggunya di sofa. Setelah Jasmine menyisir rambutnya mereka keluar kamar dan turun ke lantai dasar. Setelah mereka duduk di kursi yang kosong, segera pelayan menghampiri mereka dan memberikan buku menu.
"Saya mau pesan capuccino sama spagetti pedas," ujar Arka pada pelayan.
"Kamu mau pesan apa Jasmine?" tanya Arka pada Jasmine yang dari tadi diam saja.
"Jus alpukat dan salad buah," jawab Jasmine pada pelayan. Setelah mencatat pesanan, pelayan itu pergi.
Suasana resto hotel sangat hangat dengan lampu warna kuning yang tidak terlalu terang. Harusnya itu terkesan romantis, tapi sayangnya mereka bukan pasangan yang saling mencintai. Jasmine dari tadi diam dan cemberut terus. Arka pun tidak perduli. Arka bersandar pada kursi dan memejamkan matanya menikmati suasana resto. Dia mendengarkan musik yang diputar resto itu. Tiba - tiba dia jadi teringat Tia.
Sing a song
Hembusan angin meniup wajah alam
Mataku tak berkedip menatap langit
Terlalu luas tak bertepi pandang
Bisakah aku menyentuh awan?
Berwaktu-waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata-kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
'Ku harus jujur pada hatiku
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganmu
Senyumku melepaskan kau pergi
Engkau bukanlah sebuah kesalahan
Tak pernah aku menyesal mengenalmu
Tapi biarkanlah aku terbang bebas
Mencari cinta sejati
O-o-o-ho-ho ...
Hati Arka tiba - tiba terasa sakit. Bagaimana caranya melupakan Tia? Padahal dia sudah berusaha dan bahkan sekarang dia sudah menikah, tapi dia belum bisa mencintai istrinya.
__ADS_1