Kisah Cinta Arka

Kisah Cinta Arka
BAB 36


__ADS_3

Setelah makan malam di rumah Pak Adam tadi, kini Pak Hendro dan Bu Widya sangat senang sekali. Akhirnya Arka akan menikah dengan wanita yang status dan kedudukannya seperti yang mereka harapkan. Mereka yakin Arka akan mencintai istrinya suatu hari nanti dan bisa melupakan mantan kekasihnya yang dulu.


“Pa, mama senang sekali. Akhirnya bisa berbesanan dengan keluarga Wijaya,” ucap Bu Widya pada suaminya saat akan bersiap-siap tidur.


“Iya, Ma. Papa juga tidak menyangka bercanda papa waktu itu ditanggapi serius sama Pak Adam. Sampai-sampai anaknya yang sedang kuliah disuruh pulang,” balas Pak Hendro.


“Mungkin ini yang dinamakan jodoh ya, Pa,” tutur Bu Widya lalu mencium pipi suaminya.


Sementara itu Arka di dalam kamarnya merasa gelisah tidak bisa tidur. Entah kenapa ia begitu sangat pasrah dengan keputusan orangtuanya. Ia juga merasa tidak bergairah lagi untuk menata masa depan semenjak mengetahui bahwa Tia sudah menikah. Yang ia lakukan saat ini hanyalah memajukan perusahaan GC yang sudah dibangun kakeknya dengan susah payah. Ia tidak mau mengecewakan kakek dan orangtuanya. Kalau pun nanti menikah, ia akan menikah hanya di atas kertas. Ia tidak akan bisa mencintai istrinya.


***


Hari pun berganti hari dan cepat berlalu. Sudah dua minggu yang lalu Arka makan malam di rumah Pak Adam. Persiapan pernikahan pun sudah hampir selesai. Semua diurus oleh pihak wedding organizer. Hari ini saatnya untuk fitting baju pengantin. Mau tidak mau Arka harus menjemput Jasmine dan berangkat ke butik bersama-sama.


Sesampainya di halaman rumah Jasmine, Arka keluar dari dalam mobilnya dan berjalan mendekati pintu rumah Jasmine lalu memencet bel pintunya. Karena memang sudah janjian sebelumnya, Jasmine pun sudah siap dan menunggu Arka di ruang tengah. Ketika mendengar bunyi bel, Jasmine tahu kalau yang datang adalah Arka. Sehingga ia segera membuka pintu rumahnya.


“Selamat datang … “ sapa Jasmine dengan tersenyum.


“Ayo cepat masuk ke dalam mobil!” ajak Arka lalu meninggalkan Jasmine dan masuk ke dalam mobilnya.


Jasmine yang tadinya tersenyum tiba-tiba berubah menjadi cemberut lantaran Arka yang cuek padanya, bahkan untuk tersenyum pun enggan. Ia segera mengambil tasnya di ruang tengah lalu keluar dan masuk ke dalam mobil Arka.


Selama perjalanan ke butik tidak ada percakapan diantara mereka. Jasmine juga lebih memilih diam dari pada dicuekin yang bisa membuat moodnya menjadi semakin buruk.


Tiga puluh menit kemudian sampailah mereka di depan butik. Jasmine pun hendak membuka pintu mobil, tapi tiba tiba Arka memanggilnya.


"Jasmine," panggil Arka.


"Iya Kak," jawab Jasmine lalu mengurungkan untuk membuka pintu mobil.


"Apa kamu serius dengan pernikahan ini?" tanya Arka sambil memandang ke arah Jasmine.


"Tentu saja, persiapan sudah hampir selesai. Apa Kak Arka mau membatalkannya?" tanya Jasmine balik.

__ADS_1


"Bukan begitu. Kenapa kamu mau menerima perjodohan ini?" tanya Arka ingin tahu.


"Kalau aku menolak, papa akan memblokir semua kartu kreditku. Dan aku disuruh mencari uang sendiri untuk kuliahku. Betapa kejamnya itu? Sebenarnya aku masih belum siap untuk menikah. Aku takut hamil seperti kakak iparku," jawab Jasmine dengan cemberut.


"Siapa yang akan menghamilimu?" tanya Arka sambil mengernyitkan dahinya.


"Tentu saja kamu," jawab Jasmine sambil memandang ke arah Arka.


"Tidak akan! Setelah menikah kita akan tidur di kamar yang berbeda. Aku sebenarnya terpaksa menikah denganmu. Sudahlah, ayo kita segera fitting baju pengantin setelah itu aku antar kamu pulang," balas Arka mengakhiri obrolan mereka.


Mereka pun turun dari mobil lalu berjalan sendiri-sendiri seperti bukan pasangan kekasih. Ini pertama kalinya mereka keluar bersama.


"Wah ... gaun - gaunnya bagus dan cantik sekali," ujar Jasmine saat baru memasuki pintu butik.


"Selamat datang ... ada yang bisa kami bantu?" sambut pelayan butik dengan ramah.


"Saya mau gaun yang itu, Mbak," ujar Jasmine sambil menunjuk pada gaun yang dari tadi dilihatnya.


"Silakan ... " ucap pegawai butik itu sambil menyerahkan gaun yang diminta Jasmine. Arka menunggu di sofa sambil memainkan ponselnya.


Setelah menerima gaun itu, Jasmine masuk ke ruang ganti untuk mencoba gaun itu. Tidak berapa lama Jasmine keluar dengan menggunakan gaun pengantinnya dari ruang ganti.


"Gimana Kak?" tanya Jasmine pada Arka.


"Terserah!" jawab Arka cuek.


"Ya ampun, cuek banget!" gumam Jasmine dengan cemberut.


Setelah memilih dan mencoba gaun pengantin, Arka pun langsung mengantar Jasmine pulang tanpa mampir makan ataupun ngobrol basa-basi untuk saling mengenal. Ia benar-benar tidak perduli dengan calon istrinya yang kini duduk di sampingnya.


Sementara tadi Arka dan Jasmine pergi ke butik, Tia sedang jalan-jalan di taman bersama Reyhan dan Bu Tari. Ketika Reyhan dan Tia mengantar Bu Tari pulang, Arka masih dalam perjalanan menuju rumah Jasmine.


Setelah mengantar pulang Bu Tari, Reyhan dan Tia segera kembali ke apartemen. Ketika mobil Reyhan keluar dari halaman rumah Pak Adam, mobil Arka masuk. Mobil mereka hampir berpapasan. Karena kaca mobil yang tertutup dan cenderung gelap, sehingga mereka tidak tahu orang yang ada di dalam mobil.

__ADS_1


"Makasih Kak, mau mampir dulu?" ucap Jasmine seraya turun dari mobil Arka.


"Tidak. Aku langsung pulang saja," jawab Arka jutek.


"Ya sudah, sampai jumpa," balas Jasmine sambil menggoyangkan tangannya ke kanan dan ke kiri tanda dada. Arka pun melajukan mobilnya pergi dari rumah Jasmine.


Jasmine segera masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya.


"Hah suami apaan jutek banget kayak gitu? Untung saja tampan. Sabar Jasmine, yang penting lulus kuliah dulu. Enggak usah mikirin yang lain," gumam Jasmine pada dirinya sendiri sambil rebahan di tempat tidurnya.


***


Apartemen Reyhan


Sesampainya di apartemen, Tia membaringkan tubuhnya di sofa dan meminta suaminya untuk mengambilkan air minum. Setelah itu ia masuk ke dalam kamar dengan digendong Reyhan. Reyhan tidak mau istrinya kelelahan apalagi dalam kondisi hamil seperti sekarang ini. Reyhan membaringkan tubuh Tia di atas tempat  tidur dengan pelan - pelan. Tidak lama kemudian ponsel Tia berbunyi. ID penelepon menunjukkan nama Salsa.


"Hallo Sa ... " sapa Tia dengan lembut.


"Hai Tia, lama enggak ada kabar. Gimana keadaan kamu?" tanya Salsa dengan semangat.


"Baik Sa, kamu gimana?" tanya Tia balik.


"Aku baik juga. Oh iya aku cuma mau kasih tahu kamu, 2 minggu lagi Arka akan menikah. Kamu bisa datang kan?" ujar Salsa.


"Aduh, enggak bisa Sa. Pas banget waktunya adik iparku juga nikah. Enggak mungkin kan aku enggak hadir di pernikahan adik suamiku?" balas Tia.


"Ya udah enggak apa - apa Tia. Nanti aku kasih tahu Arka. Udah dulu ya. Aku cuma mau ngabari itu aja. See you," pamit Salsa.


"Makasih Sa," balas Tia.


***


Maaf baru bisa update karena beberapa hari ini saya tidak enak badan. Terima kasih sudah setia menunggu novel ini update. Selamat membaca. Semoga suka. ^_^

__ADS_1


__ADS_2