
Dua minggu kemudian
Hari ini adalah hari pernikahan Arka dan Jasmine. Pesta pernikahan diadakan di hotel Ratu. Sejak tadi malam Arka mulai ragu untuk melanjutkan pernikahan ini. Tadinya ia pasrah, tapi setelah dua minggu berjalan, ia mulai berpikir ulang untuk melanjutkannya. Apalagi setelah ia tahu dari Salsa bahwa Tia tidak bisa datang di hari pernikahannya. Ia semakin dirundung rasa sedih yang tak terkira.
Pagi ini semua orang di rumahnya sibuk persiapan untuk pesta pernikahan Arka yang diadakan di hotel Ratu, tapi Arka malah mengurung diri tidak mau keluar dari dalam kamarnya.
“Arka! Sampai kapan kamu tidak mau keluar?” tanya Bu Widya yang sudah siap dengan make up di wajahnya dan kebaya yang menempel pada tubuhnya di depan pintu kamar Arka.
Arka tetep kekeh tidak mau keluar dari dalam kamarnya dan membatalkan pernikahan paksa ini. Ia tidak mau menyesal setelah menikah dengan Jasmine dan akan berakhir dengan perceraian.
“Arka! Kalau kamu tidak keluar sekarang juga dan menikah dengan Jasmine, lebih baik papa mati saja dari pada papa malu karena pernikahan ini batal!” seru Pak Hendro mengancam Arka di depan pintu kamar Arka.
Ia dan istrinya sudah siap dengan pakaian pesta, tapi Arka malah memberontak seperti ini di hari H. Ia akan merasa sangat malu kalau sampai pernikahan ini batal. Apalagi semuanya sudah siap dan bahkan mungkin sekarang semua keluarga Wijaya sudah menunggu kedatangannya di hotel Ratu.
“Arka! Dalam hitungan kelima, kalau kamu tidak keluar juga dari dalam kamar kamu, papa akan lompat dari lantai dua ini!” ancam Pak Hendro. Ia sudah kehabisan cara membujuk Arka sejak tadi pagi. Sedangkan sekarang sudah waktunya acara dimulai.
Pak Hendro berjalan mendekati pagar lantai dua rumahnya. Bu Widya mengamatinya dan merasa tidak percaya bahwa suaminya akan melakukan hal bod*h seperti ini.
“Pa … tolong jangan lakukan itu!“ cegah Bu Widya seraya menitikkan air mata.
“Lebih baik papa mati, Ma… dari pada menanggung malu. Mama tahu sendiri kan yang mengajukan pernikahan ini papa, tapi malah sekarang pernikahan ini batal dan yang membatalkan anak kita. Mau ditaruh di mana muka papa?” seru Pak Hendro merasa frustrasi dengan sikap egois Arka.
“Papa tega ninggalin Mama?” tanya Bu Widya dengan suara lirih dan mengusap air matanya.
__ADS_1
“Maafin papa, Ma … “ jawab Pak Hendro lalu mulai menghitung.
“Satu … dua …. “ Pak Hendro memulai hitungannya. Bu Widya mengahampiri Pak Hendro untuk mencegahnya.
“Jangan Pa! Jangan!” cegah Bu Widya seraya memegangi tangan suaminya dan menangis histeris.
Arka yang sedari tadi duduk di tepi tempat tidurnya dan mendengarkan suara kedua orangtuanya di luar kamarnya segera berdiri dan membuka pintu kamarnya.
Ceklek, suara pintu terbuka. Pak Hendro dan Bu Widya segera menoleh ke arah pintu kamar Arka.
“Arka akan menikah,” ucap Arka tiba-tiba. Senyum pun terbit dari bibir Pak Hendro dan Bu Widya. Mereka merasa lega akhirnya Arka mau memenuhi permintaannya untuk menikah dengan Jasmine.
Setengah jam kemudian Arka sudah siap dengan setelan jas putih yang menempel di badannya. Bu Widya juga baru saja selesai di make up ulang karena menangis tadi, make up-nya pun jadi berantakan.
Hotel Ratu
Jasmine dan keluarganya sudah datang termasuk Tia, Reyhan, dan Adimas kakaknya Reyhan yang tinggal di Jerman. Sedari tadi Jasmine merasa gugup menanti kedatangan Arka yang belum datang juga. Dia khawatir kalau Arka akan membatalkan pernikahannya karena ini akan sangat memalukan kedua belah pihak keluarga. Sudah telat setengah jam dari jadwal acara yang ditentukan, tapi keluarga Arka belum datang juga.
Tia yang tadinya melewati pintu depan hotel melihat tulisan nama pengantin "ARKA & JASMINE" bertanya - tanya apakah itu Arka mantan kekasihnya? Dia berharap itu bukan Arka yang dia kenal. Apa jadinya kalau Arka yang dulu kekasihnya kini menjadi adik iparnya? Tia pun memikirkannya dalam diam.
Setengah jam kemudian, akhirnya rombongan keluarga Arka pun datang. Tia harap-harap cemas menanti penampakan siapa yang akan menjadi pengantin prianya.
Pengantin Pria pun turun dari mobil dan berjalan memasuki pintu masuk hotel diikuti keluarganya. Tia yang melihat Arka pun terkejut. Tia membelalakkan matanya dan kakinya terasa lemas hampir jatuh ke belakang. Untung ada Reyhan yang selalu siap siaga di samping Tia. Arka yang melihat Tia di pesta pernikahannya mengerutkan dahinya.
__ADS_1
Tia datang? Dia menghadiri pernikahanku? Seharusnya kamu yang menjadi pengantin wanitanya Tia, bukannya menjadi tamu undangan.Batin Arka sedih. Namun, apalah daya? Tadinya Arka hendak membatalkan pernikahannya, tapi papanya mengancam akan bunuh diri jika hari ini nama keluarganya tercoreng karenapernikahan yang batal. Sehingga Arka mengalah dan melanjutkan pernikahan ini.
Kini Arka duduk di depan pak penghulu dengan mahar seperangkat emas bertaburkan berlian pilihan Bu Widya. Ini adalah pernikahan anaknya yang pertama dan yang terakhir. Ia ingin pernikahan ini akan menjadi kenangan sejarah sepanjang masa selama hidupnya.
Pak penghulu pun mengulurkan tangannya pada Arka untuk memulai akad nikah. Arka menerimanya dan proses akad nikah pun berlangsung khidmad dan lancar. Jasmine yang mendengarnya dari dalam kamar merasa lega sekaligus gugup. Tidak lama kemudian ia diajak keluar untuk menemui Arka yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Jasmine duduk di samping Arka dan mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan suaminya untuk pertama kalinya. Setelah itu Arka memasangankan cincin pernikahan di jari manis Jasmine. Arka melakukan semua prosesi pernikahan dengan semestinya tanpa pemberontakan sekalipun. Hanya satu yang tidak bisa ia lakukan yaitu tersenyum.
Setelah itu Arka dan Jasmine naik ke atas pelaminan dan para keluarga serta tamu undangan naik ke pelaminan bergantian untuk memberikan selamat.
"Selamat ya Jasmine, akhirnya kamu menikah juga. Layani suamimu dengan baik. Jangan jadi gadis manja lagi," ucap Reyhan pada Jasmine dengan mengelus kepala Jasmine. Arka yang di samping Jasmine mendengar semua perkataan Reyhan.
Saat Reyhan menjabat tangan Arka, mereka pun bertegur sapa.
"Pak Reyhan? Jadi anda kakaknya Jasmine?" tanya Arka pada Reyhan tidak percaya.
"Iya, saya kakaknya Jasmine, dan ini Tia istri saya," balas Reyhan sopan sambil memperkenalkan Tia yang berada di sampingnya.
"Hallo saya Tia\, kakak iparnya Jasmine\," sapa Tia memperkenalkan dirinya dengan canggung dan gugup seraya menjabat tangan Arka. Arka pun merem*s lembut tangan Tia. Jantung Tia semakin berdegup kencang saat Arka merem*s tangannya.
Arka tidak berharap akan menjadi adik iparnya Tia. Ini semua salahnya sendiri karena terlalu cuek dengan pernikahannya. Sehingga dia tidak mengetahui semua keluarga Jasmine.
Mereka pun berfoto bersama. Arka tidak pernah tersenyum. Wajahnya jutek dan dingin. Tia pun tersenyum canggung. Seandainya Arka tahu sejak awal, mungkin ia akan menolak pernikahan ini jauh hari sebelumnya. Bagaimana bisa dia menikahi adik seseorang yang sudah merebut kekasihnya yang sangat dan masih ia cintai. Semua sudah terlanjur terjadi. Jasmine sekarang sudah menjadi istrinya yang sah.
__ADS_1