
Dua puluh menit kemudian makanan pesanan mereka datang. Jasmine menyantap makanannya dengn malas tanpa bersuara sedikitpun, begitu juga dengan Arka. Ini pertama kalinya mereka menghabiskan waktu bersama setelah menikah. Tentu saja akan ada rasa canggung di antara mereka karena memang tidak saling mengenal sebelumnya.
Setelah menghabiskan makanannya, Arka dan Jasmine kembali ke kamar mereka. Jasmine masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok gigi, mencuci muka, berganti piama tidur, dan melepas bra-nya seperti biasa karena itu baik untuk kesehatan. Ketika keluar dari dalam kamar mandi, Jasmine melihat Arka sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kak Arka tidur di sini juga?" tanya Jasmine sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Tentu saja. Mau di mana lagi?" jawab Arka cuek.
"Kenapa enggak tidur di sofa aja?" tanya Jasmine.
"Enggak mau, nanti badanku sakit semua. Kalau kamu mau tidur di sofa, tidur saja di sana!" balas Arka.
"Aku juga enggak mau lah. Harusnya Kak Arka yang mengalah, kan Kak Arka cowok," ujar Jasmine.
"Berisik! Kita tidur di sini saja berdua. Aku tidak akan menyentuhmu!" balas Arka lalu memejamkan matanya.
Jasmine pun berbaring di samping Arka dan menaruh guling di antara mereka lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
"Kenapa kamu tadi menangis?" tanya Arka tiba - tiba tanpa memandang ke arah Jasmine.
"Mmmm haruskah aku mengatakannya padamu?" tanya Jasmine balik.
"Terserah!" balas Arka. Dia pun memiringkan tubuhnya membelakangi Jasmine.
Jasmine pun cemberut mengerucutkan bibirnya, "Oh Tuhan ... apa salahku? Kenapa ditakdirkan punya suami kayak gini?" gumam Jasmine pelan.
"Aku mendengarnya, apa maksud dari kata-katamu 'punya suami kayak gini'?" tanya Arka tetap membelakangi Jasmine.
"Kamu galak, cuek, jutek, dingin, dan tak berperasaan!" seru Jasmine.
"Lalu ... apa kamu mau yang seperti ini?" balas Arka sambil membalik tubuhnya mendekati Jasmine dan menind*hnya. Sekarang wajah mereka berhadapan dan sangat dekat. Mata Jasmine membelalak dan napasnya tertahan karena sekarang wajah Arka ada di depannya dengan jarak 3cm. Arka pun merasakan benda kenyal di dadanya. Dia merasakan kalau Jasmine tidak memakai bra karena merasakan sesuatu yang menonjol.
"Tidak! bu-bukan itu ma-maksudku, aku … aku hanya mengatakan yang sejujurnya," jawab Jasmine terbata-bata karena gugup.
"Kalau kamu memang menginginkannya, lepaskan saja pakaianmu. Aku akan melayanimu," ujar Arka meledek.
__ADS_1
"Tidak! Turun kamu dari tubuhku!" balas Jasmine sambil mendorong tubuh Arka ke samping. Dia sangat gemetar dan takut Arka melakukan sesuatu padanya.
Arka pun berbaring di samping Jasmine kembali ke posisinya semula.
Sial! Kenapa bisa ‘bangun’ begini? Padahal niatku hanya menggoda dia. Kenapa dia begitu berani tidak memakai bra saat tidur denganku.Batin Arka. Jantungnya juga berdebar-debar saat menggoda Jasmine.
***
Keesokan harinya Arka mengajak Jasmine pulang ke apartemennya. Di sana tersedia 2 kamar. Jadi Arka bisa bebas tidur di kamarnya sendiri tanpa harus satu kamar dengan Jasmine. Kalau ia mengajak Jasmine pulang ke rumah orangtuanya, otomatis ia akan disuruh tidur satu kamar dengan Jasmine. Dan Arka tidak mau itu terjadi.
Setelah masuk ke dalam apartemen, Arka menunjukkan kamar untuk Jasmine. Setelah itu Arka masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tidak banyak percakapan di antara mereka begitu juga dengan Jasmine, ia lebih memilih diam dari pada salah kata yang membuat Arka marah.
Saat siang hari Arka merasa lapar. Dia pun keluar dari dalam kamarnya lalu mengetuk pintu kamar Jasmine. Tidak lama kemudian Jasmine pun keluar sembari mengucek matanya lantaran baru bangun tidur.
“Ada apa?” tanya Jasmine dengan suara lirih.
"Aku lapar," jawab Arka.
"Lalu?" tanya Jasmine bingung sembari mengerutkan dahinya.
"Apa?! Masak? Aku enggak bisa!" balas Jasmine menolak.
"Kamu enggak bisa masak? Istri macam apa kamu ini? Dasar gadis manja!" cibir Arka menghina.
Arka pun pergi ke dapur lalu memakai celemek. Ia membuka kulkas dan memasak sendiri. Jasmine memperhatikan Arka dari jauh. Dia pun merasa bersalah. Seharusnya dia bisa menjadi istri yang berguna untuk suaminya, tapi sekarang ia memasak pun tidak bisa. Dia pun menghampiri Arka ke dapur.
"Kak ... maaf. Setelah kita ke Belanda aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan berguna buat Kak Arka," ujar Jasmine di belakang Arka sambil menunduk. Arka diam saja tidak menghiraukannya. Dia terus memasak tidak memperdulikan Jasmine yang berada di belakangnya.
Tidak berapa lama terdengar isak tangis. Jasmine menangis di belakang Arka. Arka pun berbalik karena masakannya sudah selesai.
"Makanlah!" ajak Arka sambil membawa dua piring spagetti ke meja makan.
Jasmine pun mengikuti Arka duduk di meja makan. Arka memakan spagettinya tanpa memperdulikan Jasmine yang menangis di depannya.
"Kak, apa kamu menganggap aku istrimu?" tanya Jasmine dengan pelan takut Arka marah.
__ADS_1
"Ya, meskipun hanya di atas kertas. Kamu tidak berguna, memasak saja tidak bisa. Kamu tidak seperti kekasihku. Dia cantik, lembut, pintar memasak, dan cerdas. Dia segalanya bagiku!" jawab Arka di sela makannya.
"Lalu kenapa Kak Arka tidak menikah dengannya?" tanya Jasmine ingin tahu seraya mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
"Andai aku bisa dan datang di waktu yang tepat, mungkin sekarang dia sudah menjadi istriku dan mengandung anakku!" jawab Arka dengan tersenyum getir.
"Apakah dia sudah meninggal?" tanya Jasmine lagi.
"Tidak, dia menikah dengan laki - laki lain. Dia direbut dariku saat aku di Amerika," jawab Arka dengan sinis.
"Oh iya kemarin waktu di pesta pernikahan kita apa Kak Arka bernyanyi untuknya? Apakah dia datang?" tanya Jasmine semakin penasaran.
"Ya, dia datang bersama suaminya," jawab Arka.
"Kenapa Kak Arka tidak mengenalkannya padaku?" tanya Jasmine.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kamu tidak perlu mengetahuinya," balas Arka lalu berdiri dan meninggalkan Jasmine sendirian dan masuk ke dalam dalam kamarnya lagi.
Apa sikapmu yang dingin ini karena sakit hati pada kekasihmu? Sekarang aku istrimu. Aku akan berusaha membantumu mengobati sakit hati itu Kak Arka.Batin Jasmine sambil tersenyum.
Setelah menghabiskan makanannya, Jasmine mencuci piring di dapur. Kalau mencuci piring ia masih bisa, tapi kalau memasak ia memang tidak pernah memasak karena ia sudah terbiasa beli.
Setelah mencuci piring jasmine kembali ke dalam kamarnya. Tidak lama kemudian ponselnya berdering. Ketika Jasmine mengambil benda pipih itu, ia melihat nama mamanya terpampang di sana.
“Hallo Ma … “ sapa Jasmine senang.
“Kamu di mana, Sayang?” tanya Bu Tari.
“Di apartemen kak Arka Ma,” jawab Jasmine.
“Oh ya sudah. Mama mau mengundang kalian makan malam. Jangan lupa datang ya,” undang Bu Tari.
“Malam ini?” tanya Jasmine memperjelas.
“Iya, Sayang. Jangan lupa ya. Mama tunggu kamu di rumah,” ucap Bu Tari sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
“Iya, Ma,” jawab Jasmine tidak bersemangat lalu menaruh ponselnya di atas meja.