
Setelah Arka dan Tia masuk ke dalam kamar masing-masing, tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengarkan percakapan mereka sedari tadi. Laki - laki itu tersenyum. Dia percaya pada Tia sepenuhnya bahwa mereka sudah tidak ada hubungan sepasang kekasih lagi, melainkan saudara ipar.
Laki - laki itu pun pergi ke ruang tengah dan duduk di sofa. Ia membuka laptopnya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda karena akhir - akhir ini tidak pergi ke perusahaan untuk mengurus kelahiran anaknya dan menjaga istrinya yang habis melahirkan.
Sementara itu Arka di dalam kamarnya sedang berbaring sambil memandangi wajah Jasmine yang kelelahan dengan keringat di wajahnya. Arka membelai pipi Jasmine dengan lembut dan tersenyum. Jasmine pun akhirnya membuka matanya karena merasa geli pada pipinya.
“Ada apa, Kak?” tanya Jasmine sambil berusaha membuka matanya dan memandang Arka.
“Tidak apa-apa. Kamu cantik,” jawab Arka sambil tersenyum dan merapikan rambut Jasmine yang menutupi wajahnya. Jasmine pun tersenyum lalu menutup matanya kembali untuk melanjutkan tidurnya. Arka membelai rambut Jasmine dengan lembut.
Terima kasih sudah menghadapiku dengan sabar saat awal pernikahan kita. Batin Arka. Ia masih ingat betapa kasar, jahat, dan juteknya dia pada Jasmine di awal-awal masa pernikahan mereka karena masih mencintai Tia.
Keesokan paginya, Arka dan Jasmine keluar dari dalam kamarnya untuk sarapan pagi bersama. Mereka berdua berjalan menuju meja makan dan tampaklah semua anggota keluarga sudah berkumpul di sana.
“Selamat pagi,” ucap Arka dan Jasmine hampir bersamaan dengan senyum mengembang di bibir mereka.
__ADS_1
Jasmine menghampiri bu Tari dan pak Adam lalu mengecup pipi mereka bergantian.
“Kelihatannya senang sekali?” celetuk Adimas saat melihat raut wajah Jasmine.
Jasmine pun menoleh pada Adimas. “Tentu saja aku senang. Aku mau liburan ke Bali,” sahut Jasmine lalu mendaratkan pantatnya pada kursi yang ada di samping Arka.
“Jadi kamu pulang karena mau liburan ke Bali? Bukan karena menyambut kelahiran keponakanmu?” sindir Reyhan.
“Dua-duanya. Seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air,” balas Jasmine dengan meringis menunjukkan giginya yang rapi.
“Di dalam kamar. Setiap malam mereka berdua bergadang. Ketika pagi datang mereka tidur,” jawab Reyhan.
Seusai makan, Jasmine dan Arka kembali masuk ke dalam kamarnya untuk membongkar barang bawaan mereka. Sedangkan Reyhan berangkat ke perusahaan untuk bekerja.
Tidak lama kemudian Salsa datang untuk menjenguk Tia atas kelahiran bayinya. Ia sangat takjub dengan rumah Tia yang sangat besar. Ini pertama kalinya ia datang ke rumah Tia.
__ADS_1
Mereka pun saling mengobrol hingga tidak terasa hari sudah sore. Salsa pun pamit pulang ketika Reyhan pulang dari kantornya.
Jasmine keluar dari kamarnya dan melihat Tia baru saja masuk ke dalam rumah dengan menggendong anaknya.
“Bolehkah aku menggendongnya?” tanya Jasmine pada Tia.
“Tentu saja,” jawab Tia dengan tersenyum.
Jasmine pun mengambil alih Gibran dari tangan Tia. Setelah itu ia membawa Gibran masuk ke dalam kamarnya. Di sana Arka sedang duduk di atas tempat tidur dengan memainkan ponselnya. Ketika mendengar pintu kamar dibuka, Arka menoleh dan melihat Jasmine sedang menggendong bayi.
“Kamu sudah pantas untuk menjadi ibu,” ujar Arka tiba-tiba.
“Apaan sih! Aku masih ingin kuliah, Kak!” sahut Jasmine seraya duduk di tepi tempat tidur.
Arka pun melihat Gibran dan membelai pipinya dengan sayang.
__ADS_1