
Setelah mendengar semua fakta yang di sampaikan Lina dan Damian, Lolly langsung beranjak dari duduknya dan pergi.
"Lolly, Tunggu!. Kamu mau kemana?" Tanya Lina, Dengan menahan tangan Lolly.
"Lepasin bu, Lolly mau tenangin diri Lolly dulu" Jawab Lolly, Dengan datarnya.
Membuat Lina tersentak kaget, Mendengar nada bicara Lolly yang dingin padanya. Karna tidak biasanya Lolly bersikap datar seperti ini pada Lina.
Lina langsung melepaskan tangan Lolly, Lalu Lolly pergi keluar rumah, Untuk menenangkan pikirannya. Karna setelah semua fakta yang di berikan Lina dan Damian pada Lolly, Membuat pikiran Lolly berkecamuk tidak menentu, Dan bukan hal yang mudah untuk Lolly terima.
"Mau kemana non?" Tanya Vano, Yang melihat Lolly keluar dari rumah.
"Diam lah Dono, Jangan banyak tanya" Jawab Lolly datar, Dengan pandangan yang lurus ke depan.
Sedangkan Vano hanya menatap heran Lolly, Dan bergumam.
"Sudah di kasih tahu nama gua bukan Dono, Masih aja di panggil Dono. Hilang sudah ke estetikanya nama gua" Guma Vano, Dengan mengusap dadanya.
Lolly terus berjalan tanpa arah, Bahkan sekarang ia tidak tahu harus pergi ke mana untuk menenangkan pikirannya.
"Gua mau curhat ke Langit aja deh" Gumam Lolly, Yang Sebenarnya tidak tahu rumah Langit.
"Tapi gua gak tahu rumahnya dimana" Gumam Lolly.
Lolly pun merogoh saku bajunya, Untuk mengambil ponsel.
"Gua telpon ah, Dia sibuk ga yah"
Tut, Tut
Panggilan sudah tersambung pada Langit, Tapi Langit tidak mengangkat telpon dari Lolly.
"Kok gak di angkat, Gua telpon lagi ah"
Lolly pun terus menelpon Langit, Sampai pada panggilan ke tiga. Akhirnya Langit pun menjawab.
[ Halo, Langit. Lo kemana?, Kok di telpon dari tadi baru di angkatnya sekarang? ]
Tanya Lolly, Yang kesal pada Langit.
[ Halo Lolly ]
Jawab di sebrang telpon, Membuat Lolly terkejut. Karna itu bukan suara Langit, Tapi suara Laskar.
[ Loh Laskar pelangi ku, Kenapa yang jawab elo, Kan yang gua telpon Langit ? ]
[ Langit lagi di rumah gua, Sekarang dia lagi tidur. Kenapa emang? ]
[ Kenapa bisa, Langit ada di rumah lo? ]
Tanya Lolly pada Laskar, Yang membuat Laskar bingung untuk menjawab apa.
__ADS_1
[ Laskar kok diem, Lo lagi kepang rambut ayam kah? ]
[ Ck, Bukan. Gua gak kenapa-kenapa. Langit cuman main aja di rumah gua ]
[ Oh gitu, Gua juga mau kesana dong. Jemput gua yah Laskar ]
Pinta Lolly, Yang langsung membuat Laskar kaget.
[ Yeh, Malah diem lagi nih si biawak. Gak perlu lo jawab deh, Pokoknya gua tunggu lo di depan gang ]
Ucap Lolly, Dengan mematikan sambungan telponnya sepihak.
Sedangkan Laskar langsung panik, Gimana caranya agar Lolly tidak curiga kalau Laskar dan Langit adalah bersaudara.
"Gimana nanti Lolly, Kalau curiga. Gua harus ngomong dulu sama ibu, Biar ibu gak keceplosan sama Lolly" Gumam Laskar, Mengahampiri Heni yang sedang berada di ruang tv.
"Bu, Lolly mau kesini" Ucap Laskar pada Heni.
Heni hanya mengerutkan keningnya bingung, Masih mengingat-ingat siapa Lolly, Yang di maksud Laskar.
"Ck ibu, Gak inget siapa Lolly?" Tanya Lasakar, Yang di balas gelengan oleh Heni.
"Itu cewek yang waktu itu Laskar serempet, Trus ibu jampi-jampi, dan berakhir dengan dia kesurupan" Jawab Laskar, Yang langsung membuat Heni mengingat siapa Lolly.
"Oh teman gesrek ibu, Yah kamu bawa ke sini dia. Ada banyak hal yang mau ibu ceritain ke dia" Jawab Lina, Dengan antusiasnya.
"Ibu dengerin Laskar dulu"
"Apa?"
"Iya di masih tidur, Di kamar kamu"
Laskar pun menghembuskan nafas leganya, Ketika mendengar Langit yang masih tertidur.
"Ibu, Nanti kalau Lolly kesini. Ibu jangan bilang sama Lolly, Kalau Laskar dan Langit itu saudara kembar"
"Kenapa?, Termasuk ibu gak boleh akuin Langit anak ibu?"
"Ya iyalah bu, Kalau ibu bilang Langit anak ibu. Sama aja bilang Langit sama Laskar saudaraan"
"Nanti Langit marah, Laskar"
"Justru kalau ibu terus terang, Langit akan marah bu"
"Baiklah" Lirih Heni, Dengan wajah sedihnya.
***
Di rumah kini Lina dan Damian sedang merenung.
"Aku khawatir sama Lolly Damian, Ayo kita cari dia" Ucap Lina.
__ADS_1
"Sudahlah Elena, Dia juga butuh waktu untuk menerima semua ini. Kamu jangan khawatir dia gadis yang kuat" Ucap Damian, Yang mencoba menenangkan Lina.
Saat Damian sedang menenangkan Lina, Tiba-tiba saja Vano datang dengan setengah berlari menghampiri Damian.
"Tuan maaf menganggu, Markas kita di serang" Ucap Vano, Yang langsung membuat Damian berdiri dari duduknya.
"Kita pergi sekarang!" Ucap Damian Dingin, Lalu menoleh ke arah Lina.
"Elena, Aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa dengan Liliana kabari aku" Ucap Damian dengan berlalu pergi dari rumah Lina.
Lina hanya diam, Dengan menatap nanar kepergian Damian.
"Kamu tetap saja mempertahankan dunia mafia itu Damian, Aku kecewa padamu" Gumam Lina.
***
Laskar langsung menjemput Lolly, Saat sudah sampai di depan gang yang Lolly sebut, Laskar tak mendapati Lolly.
"Loh kok gak ada?, Dimana si cewek tengil itu" Gumam Laskar yang mengedarkan pandangannya.
Lalu Laskar menemukam Lolly, Yang Tengah berbincang dengan seorang pengemis.
"Lolly" Ucap Laskar, Dengan menghampiri Lolly.
"Eh Laskar, Udah sampai ternyata" Ucap Lolly, Dengan tersenyum manis pada Laskar.
"Hei nak, Gadis ini pacar kamu?" Tanya pengemis itu pada Laskar, Yang membuat Laskar diam, Dengan menatap Lolly bingung.
"Dia lagi nawari saya pekerjaan, Tadi gadis ini curhat sama saya. Katanya ngajak kerja sama buat rental tuyul, Biar saya gak jadi pengemis lagi" Ucap Bapak Pengemis pada Laskar.
"Kamu membuka usaha rental tuyul gak?"
"Eh?!" Laskar kaget, Karna tiba-tiba di tuduh membuka usaha rental tuyul.
"Bukan pak, Saya bukan orang yang begitu" Jawab Laskar, Dengan mengangkat tangannya.
"Bapak juga tahu dari gadis itu, Pacar kamu kan?"
"Saya bu.."
"Iya pak dia pacar saya, Gimana ganteng kan. Dia itu pacar yang paling berharga bagi saya pak, Tapi bapak kalau mau tuker tambah sama batu akik, Saya siap kok tukar batu akiknya sama pacar saya yang ini" Ucap Lolly, Dengan menggandeng tangan Laskar.
"Lo gila!" Seru Laskar, Dengan menatap tajam Lolly.
"Ayo kita pergi" Ucap Laskar, Dengan menarik Lolly menuju motornya.
"Ih laskar kok pergi sih, Gua belum selesai mau cod sama tuh pengemis"
"Lo mau cod in apa?"
"Yah elo" Jawab Lolly dengan santai membuat Laskar, Ingin melempar Lolly ke kolong jembatan.
__ADS_1
"Sabar, Laskar sabar. Mungkin dengan kesabaran gua yang tebal menghadapi Lolly, Akan membuat otak gua cair dan keluar jadi congek" Batin Laskar, Dengan tersenyum tertekan pada Lolly.
Sedangkan Lolly, Hanya bersikap biasa saja. Dan menampilkan cengirannya yang tanpa dosa pada Laskar.