
"Langit gua..."
"Gak papa, Gua udah tahu kok perasaan lo cuman buat Laskar. Jadi gak usah di jawab" Ucap Langit yang memotong ucapan Lolly.
"Tapi gua Sebenarnya juga cinta sama lo Langit" Lirih Lolly, Yang masih di dengar Langit dengan menundukkan kepalanya.
Langit langsung tersentak kaget, Mendengar ucapan Lolly yang tiba-tiba mengatakan cinta padanya.
"Mak-sud lo?" Tanya Langit dengan terbata saking kagetnya.
"Asal lo tahu Langit, Waktu itu gua bilang suka sama Laskar tuh. Ya karena gua mau ngetes perasaan lo ke gua, Gua udah lama cinta sama lo. Tapi lo?, Lo kayak cuek-cuek aja sama gua. Yaudah gua bilang suka aja ke Laskar, Siapa tahu kan lo cemburu" Jawab Lolly, Yang langsung membuat Langit terkejut dengan membulatkan matanya.
"Jadi, Lo bilang suka sama Laskar tuh bohong?"
"Iya"
"Ya ampun Lolly, Asal lo juga tahu. Gara-gara lo bilang suka sama Laskar, Gua sampai marah besar sama dia, Dan gua udah mukulin saudara gua sendiri demi lo" Batin Langit yang menyesal perbuatannya karena telah memukuli Laskar.
"Jadi sekarang gimana?" Tanya Lolly, Yang membuat Langit tersenyum malu.
"Gimana apanya?" Tanya Langit, Yang mencoba menggoda Lolly.
"Ih, Tadi katanya lo suka sama gua"
"Iya-iya, Gua suka dan cinta sama lo Lolly" Ucap Langit dengan mengusap-ngusap kepala Lolly.
"Jadi..?"
"Jadi kita jalani aja dulu" Jawab Langit dengan tersenyum.
Lolly langsung salah tingkah karena melihat senyuman manis dari Langit yang membuat hati Lolly berbunga-bunga.
"Tapi gua mau ketemu Laskar, Langit" Ucap Lolly yang membuat Langit bingung.
Langit menatap Lolly dengan menaikkan satu alisnya, Seolah meminta penjelasan dari Lolly.
"Yah gua mau minta maaf aja sama dia, Karna gua udah bohong soal perasaan gua ke dia" Ucap lolly yang langsung di angguki paham oleh Langit.
"Iya nanti kita ketemu sama Laskar"
"Langit lo tahu gak..?"
"Apa?"
"Kalau cinta gua ke lo itu ibarat kecoa"
"Kecoa?" Jawab Langit dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Iya, Soalnya gak akan punah meskipun di makan oleh waktu" Jawab Lolly yang langsung membuat Langit memalingkan pandangannya Karena salah tingkah.
"Iya, Hahaha Langit kok jadi salah tingkah begitu" Ucap Lolly yang tertawa dengan menunjuk wajah Langit yang memerah seperti tomat.
"Gak!" Bantah Langit, Tanpa menatap ke arah Lolly.
"Langit, Selama ini lo gak ngerasa capek apa?" Tanya Lolly, Yang langsung membuat Langit berbalik menatapnya.
"Apa?"
"Gak capek apa ganteng mulu" Jawab Lolly, Yang lagi-lagi membuat Langit salah tingkah.
"Diem!" Ucap Langit.
"Huhu, Dasar pacar aku imut banget deh" Ucap Lolly, Dengan memeluk Langit dari belakang.
Deg,
Lagi-lagi langit di buat jantungan dengan sikap Lolly, Yang tiba-tiba saja romantis dan manja padanya.
"Waduh, Nih anak zaman sekarang. sukanya main peluk-peluk aja dosa neng. Tobat lah sebelum terlambat" Seru ibu-ibu yang sedang melewat.
"Ih ibu, Syirik aja jadi orang. Padahal ibu Tuti juga bisa peluk mang Adul" Ucap Lolly.
"Alah kalau Mang Adul udah gak enak di peluk sekarang mah"
"Enaknya di apain dong bu Tuti?"
"Astaghfirullah eling bu, Sebelum nyawa ibu di gondol malaikat maut" Sahut Lolly yang masih syok dengan ucapan Bu Tuti
"Bercanda, Gak usah sok paling terkejut gitu deh, Padahal setiap malam rasanya saya ingin menggelitik ginjalnya Mang Adul" Seru Bu Tuti dengan terkikik geli.
"Dasar bu Tuti, bu Tuti. Ibu-ibu yang kentutnya sampai mati" Ucap Lolly dengan spontan nya.
"Apa kamu bilang!" Seru Bu Tuti dengan berkacak pinggang menghadap Lolly.
Sedangkan Langit hanya bisa memasang wajah cengo, Melihat sang kekasih yang sedang beradu mulut dengan sang penguasa bumi, Yaitu Bu Tuti.
" Nama Bu Tuti itu singkatan dari Kentut sampai mati. Kenapa saya salah kah?" Tanya Lolly dengan polosnya.
Bu Tuti langsung menatap Lolly tajam, Dengan mulut berkomat kamit.
"Dasar kamu, Anak kurang ajar!. Beraninya meledek nama saya, Nama yang begitu indah pari purna kamu bilang singkatan dari kentut sampai mati!" Sentak Bu Tuti.
"Jadi Bu Tuti gak terima?"
"Yah jelas"
__ADS_1
"Yaudah kalau gak mau di singkat kentut sampai mati, Kita ganti aja jadi cepirit sampai mati" Ceplos Lolly.
"Bocah sableng, Edan, Awas kamu. Nanti saya datengin tuyul ke rumah kamu!"
"Oh ya gapapa, Justru seru bu. Jadi saya berasa punya adik"
"GILA!" Teriak Bu Tuti dengan lari terbirit-birit.
Sedangkan Langit hanya bisa menghela nafas panjang, Dengan memijit pelipisnya.
"Langit, Kok kamu gak belain aku sih tadi" Ucap Lolly langsung membuat mata Langit melotot kaget.
"Apa?, Aku?, Kamu?" Tanya Langit.
"Iya, Sekarang kan kita sepasang kekasih. Jadi harus panggil aku kamu oke, Atau kamu mau aku panggil bebeb aja" Jawab Lolly yang langsung membuat Langit bergidik ngeri.
"Gak, Yaudah aku kamu aja" Jawab Langit pasrah.
"Nah gitu dong, Pinter banget pacar aku. Sekarang aku tanya, Kenapa kamu gak belain aku tadi lawan bu Tuti?" Tanya Lolly, Dengan berkacak pinggang menghadap Langit.
Glek,
Langit sampai susah untuk melen ludahnya sendiri, Karna melihat tatapan Lolly yang begitu tajam padanya.
"Ya tuhan, Ini kah cobaan dari mu. Gini amat punya cewek yang absurd nya gak ketulungan, Sampe bingung mau jawab apa, Padahal tadi dia yang nyerocos membela diri sendiri" Batin Langit yang tertekkan.
"Iya, Gimana mau bela kamu. Orang tadi kamu hebat banget bisa bela diri kamu sendiri, Sampai aku kagum lihatnya" Ucap Langit, Dengan memaksakan senyumnya pada Lolly.
"Wah yang bener?, Uhh makasih sayang. Kapan-kapan kita main gorok-gorokan kepala yah. Kayak bu Tuti sama mang Adul" Ucap Lolly yang tiba-tiba nyeleneh.
Mendengar itu, Tubuh Langit langsung lemas. Bingung harus menjawab apa, Antara takut dan cemas jika Lolly benar akan melakukan itu.
"Bi-ar apa main itu?" Tanya Langit dengan terbata.
"Biar romantis lah"
"Romantis gak harus gitu juga Lolly, Baiknya kita menjalani hubungan ini dengan yang baik-baik jangan nyeleneh kayak barusan oke" Ucap Langit yang mencoba memberi penjelasan pada Lolly.
"Yaudah iya" Jawab Lolly dengan tersenyum manis ke arah Langit, Dan langsung di balas dengan senyuman kembali oleh Langit.
***
Di sisi lain, Kini Damian sedang menyelidiki siapa yang berani mengusiknya dengan berani menyerang markas miliknya.
"Kau sudah mendapatkan informasi tentang siapa yang berani mengusik ku?" Tanya Damian pada Vano.
"Belum tuan, Sepertinya dia sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari, Makanya dia hebat hingga tidak meninggalkan jejak sedikitpun"
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Vano, Damian hanya bisa memijit pelipisnya.
"Gara-gara itu, Aku sampai lupa untuk menemui anak dan istriku. Apalagi Liliana, Aku ingin sekali dekat dengannya dan mengenal jauh sikap putriku" Gumam Damian, Yang di masih dengar Vano.