
Setelah Langit tenang dalam pelukan Heni, Laskar langsung meminta maaf dan menjelaskan semua alasannya. Kenapa dia menolak Lolly.
"Sudah yah nak, Jangan marah lagi sama Alas. Sekarang kita bicarakan baik-baik. Dan kamu harus mendengar semua alasan Laskar, Yang telah melakukan semua ini" Ucap Heni, Dengan mengusap kepala Langit.
Langit hanya diam, Dengan menatap Laskar dan Heni datar.
"Langit, Maafin gua. Sebenarnya gua udah ceritain semuanya ke ibu tentang Lolly yang waktu itu bilang suka ke gua, Dan soal Gua nolak dia. Karena emang bener gua gak suka sama dia, Gua kira dia sukanya sama lo. Karena selama ini dia selalu nempel mulu sama lo" Jelas Laskar.
Yang mencoba berbohong pada Langit, Tentang perasaan yang sebenarnya pada Lolly.
Langit masih diam, Tidak berminat untuk menjawab penjelasan dari Laskar. Ia malah memalingkan pandangannya dari Heni dan Laskar, Karena enggan untuk menatap mereka berdua.
"Gua, Juga mau memperbaiki hubungan kita Langit. Sudah cukup dari kecil kita berjauhan hanya karena keegoisan gua, Gua mau berubah jadi saudara dan adik yang baik buat lo. Gua mau kita akur, Meskipun tanpa ayah" Lirih Laskar, Dengan menundukkan kepalanya.
"Dan satu hal lagi yang harus lo tahu. Kenapa dulu gue bisa seegois itu sama lo, Sampai gua larang ibu buat gak boleh sayangi lo. Gua iri sama lo Langit, Gua capek. Terus di bandingkan sama ayah, Hanya Karna gua gak sepintar lo, Gua bodoh. Gua gak berguna" Ucap Laskar dengan menangis.
Mendengar semua ucapan Laskar, Langit langsung menoleh ke arah Laskar dengan kening berkerut. Dia tidak menyangka, Jika selama ini Laskar sangat iri padanya, Hanya karna Langit pintar.
"Maafin gua, Gua gak bermaksud merebut semua hak lo. Tapi jujur, Di posisi gua juga sulit Langit. Gua mau kayak lo, Yang pintar dan berprestasi. Tapi gua?, Gua hanya anak bodoh yang gak berguna" Lirih Laskar.
Tanpa aba-aba Langit langsung memeluk Laskar, Ia merasa bersalah. Karena tidak mendengar semua penjelasan Laskar terlebih dahulu.
"Maafin gua Laskar, Gua gak bisa kontrol emosi gua. Seharusnya gua dengerin dulu penjelasan lo, Bukannya malah gua menyakiti lo, Maafin gua" Ucap Langit yang masih memeluk Laskar.
Laskar langsung melepaskan pelukannya pada Langit, Dengan tersenyum tipis.
"Gapapa, Gua juga paham kok, Kalo gua di posisi lo. Mungkin gua juga bakal ngelakuin hal yang sama" Jawab Laskar.
Melihat si kembar akur, Heni merasa terharu. Baru kali ini melihat ke dua putranya yang dulu saling mengasingkan. Kini menjadi akur kembali.
"Kok ibu di kacangin?" Tanya Heni, Yang langsung membuat Laskar dan Langit tertawa.
Mereka berdua pun, Langsung memeluk Heni. Dengan perasaan yang begitu senang, Meskipun berawal dari keributan.
"Ibu harap, Alang sama Alas tetap akur yah. Jangan kayak dulu lagi, Hanya kalian yang ibu punya. Kalian sangat berharga bagi ibu, Apapun nanti yang akan terjadi, Kalian harus tetap akur" Ucap Heni, Yang langsung di angguki Langit dan Laskar.
***
Di rumah, Kini Lolly sedang uring-uringan. Karena masih tetap memikirkan Laskar.
"Kamu kenapa sih Lolly, Kayak orang cacingan aja" Ucap Lina, Yang melihat tingkah aneh Lolly.
__ADS_1
"Gak papa bu, Lagi kesel aja dikit" Jawab Lolly.
"Oh iya, Mana ayah Lolly. Kok belum kesini lagi sih bu?" Tanya Lolly, Yang tiba-tiba menanyakan Damian.
"Tumben kamu tanya tentang dia?"
"Gak papa, Cuman mau tau aja"
"Emang kamu udah nerima kenyataan tentang ayah kamu?"
"Maksud ibu?"
"Waktu itu kan ibu sudah jelaskan sama kamu tentang kejadian masalalu, Yang buat kita terpisah dari ayah kamu"
"Oh itu, Yaudah lah bu. Mau Lolly menolak pun, Jika itu udah takdir Lolly, Lolly harus berbuat apalagi?" Jawab Lolly, Yang membuat Lina langsung tersenyum.
"Ternyata anak ibu udah dewasa aja yah" Ucap Lina.
"Iya lah bu, Kan Lolly hidup. Jadi terus tumbuh" Jawab Lolly, Yang langsung di tatap malas oleh Lina.
"Ibu belum jawab pertanyaan Lolly"
"Dia lagi ada urusan kerja Lolly" Jawab Lina.
"Bu, Kata ayah nama aku bukan Lolly, Tapi Liliana. Kenapa ibu ubah jadi Lolly?" Tanya Lolly, Yang langsung membuat mata Lina melotot kaget.
"Diam, Kenapa kamu ngomongnya kenceng banget!" Seru Lina, Dengan menaruh jari telunjuknya di depan bibir Lolly.
"Kenapa sih bu, Kan Lolly juga mau tahu"
"Lolly, Jangan pernah menanyakan hal itu lagi. Suatu saat ibu akan jelasin semuanya sama kamu" Jelas Lina.
"Yah ibu, Trus kata ibu Lolly punya kembaran yang namanya Alana kan?" Tanya Lolly, Yang membuat Lina menghela nafas panjangnya.
"Iya, Tapi dia udah meninggal" Jawab Lina, Dengan berlalu pergi meninggalkan Lolly, Agar Lolly tidak mengorek tentang masalalu lagi.
Melihat Lina yang pergi begitu saja, Lolly langsung berdecak kesal. Lalu Lolly pun pergi keluar rumah untuk berjalan-jalan.
"Bosen banget gua di rumah, Beli ciloknya mang Adul ah" Gumam Lolly, Dengan berlalu pergi menuju tukang cilok.
"Hay mang Udel, Beli ciloknya dong" Ucap Lolly dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"Nama saya Adul bukan Udel!"
"Ah sama aja"
"Waduh gadis sableng ini lagi, Semoga aja hari ini dia gak bikin gua stress" Batin Mang Adul, Dengan tersenyum tertekan pada Lolly.
"Mau beli berapa?" Tanya Mang Adul.
"Berapa aja dah, Nanti saya bayar kok" Jawab Lolly, Dengan duduk di kursi tempat pelanggan.
"Nih, Semuanya 10 ribu"
"Oke," Jawab Lolly, Dengan memberikan uangnya pada mang Adul.
"Mang Adul, Boleh tanya gak?" Tanya Lolly, Sembari mengunyah cilok.
"Apa" Jawab Mang Adul dengan malas.
"Pohon pisang, Kalo di kagetin pisangnya langsung copot gak yah?" Tanya Lolly yang langsung membuat mang Adul terkejut.
Lalu mang Adul mengurut tengkuk Lolly.
"Cepet muntahin, Semua kebodohan yang ada di otak kamu" Ucap Mang Adul, Yang malah membuat Lolly geli.
"Mang Adul Jahat, Masa gitu aja Lolly di bilang bodoh sih!" Gerutu Lolly, Dengan melepas tangan mang Adul dari tengkukknya
"Lah emang iya kan" Jawab Mang Adul, Dengan wajah tak berdosanya.
"Gak yah!" Bantah Lolly.
"Mang Adul ginjalnya sehat?"
"Ya sehat lah, Emang kenapa?"
"Gak papa, Mau saya jual aja ginjal Mang Adul buat modal usaha rental tuyul" Jawab Lolly, Yang langsung membuat mang Adul kaget.
"Nih anak, Tiap hari makan cilok malah nambah goblok yah" Batin Mang Adul.
"Kenapa gak di jawab?" Tanya Lolly.
"Nanti biar tuhan yang jawab, Karena saya udah kehabisan kata-kata kalau sama bocah sableng kayak kamu!" Seru mang Adul, Yang sudah kehabisan stok kesabarannya.
__ADS_1