
Mang Dayat akhirnya pamit untuk kembali ke Kuningan saat hari menjelang senja.
Tawaran untuk bermalam di padepokan ditolak dengan halus karena Mang Dayat harus segera mengurus perkebunan esok hari.
Damar mengantar Mang Dayat dan para abdi Ayahandanya hingga depan padepokan.
"Kenapa Ayah tak beli mobil saja Mang? Kan nantinya bisa digunakan untuk pergi ke Batavia bahkan ke Bandung."
Mang Dayat mantuk-mantuk.
"Sebetulnya beliau sudah berencana ingin membeli mobil, tapi masih ditunda terus, mungkin menunggu waktu yang tepat, bisa juga menunggu Tuan muda kembali ke rumah setelah menyelesaikan masa belajar di tempat Ki Gedhe Tirtayasa ini."
Ujar Mang Dayat.
Damar menghela nafas.
"Saya sebetulnya ingin sekolah ke luar negeri Mang, tapi sepertinya situasi saat ini tidak mungkin lagi. Perang Dunia II sudah semakin memanas."
Mang Dayat mengangguk membenarkan.
"Saya dengar, pihak Belanda juga sudah menyerah dua hari lalu kepada Jepang di Kalijati."
Kata Mang Dayat.
"Semoga saja ini membawa angin perubahan untuk Negeri kita, karena jika dilihat tadi sepanjang jalan saja bendera merah putih sudah boleh dikibarkan di mana-mana."
Damar terdiam.
Meski memang Kenyataannya saat ini terlihat begitu, namun entah kenapa firasatnya tak merasakan demikian.
Ia sedikit curiga dengan niat Jepang datang ke Indonesia yang bisa dibilang tiba-tiba.
Tapi...
Entahlah, Damar juga tak berani bicara apa-apa lebih dulu. Baginya yang paling penting saat ini hanyalah ia bisa hidup baik-baik saja.
Memang kelebihan hidup di kaki gunung seperti ini, selain lebih dekat dengan alam, juga tak begitu mendengar keributan di luar sana.
Informasi tentang perjuangan para tokoh semacam Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta juga Damar dapatkan dari hasil membaca surat kabar yang ia baru bisa dapatkan satu minggu sekali saat ia pergi ke kota untuk ke pasar menjual ikan-ikan dan beberapa sayuran dari kebun.
"Kami pamit Tuan Muda, kami titipkan Nona Lestari putri sahabat Ayahmu, ikutlah menjaganya, karena di situasi dan kondisi seperti ini, orang-orang keturunan Indonesia-Belanda juga sama tak amannya."
Kata Mang Dayat seolah berpesan.
Damar mengangguk menyanggupi.
Ah tentu saja, tanpa diminta pun Damar jelas akan dengan senang hati menjaga Lestari.
__ADS_1
Gadis cantik yang telah mencuri hatinya dalam waktu yang begitu singkat.
Mang Dayat dan para abdi Tuan Ageng Parta Prawira menaiki kereta kuda mereka, dan kemudian perlahan melaju meninggalkan halaman padepokan Ki Gedhe Tirtayasa.
"Mar, aku mau mandi, gerah."
Kata Samsul pada Damar.
Abdi Ki Gedhe Tirtayasa itu merupakan teman sepermainan Damar sejak kecil, itu sebabnya Damar melarang Samsul memanggilnya Tuan Muda bilamana sedang berdua saja.
"Baiklah, aku akan membelah kayu sebentar. Kau mandilah, nanti gantian denganku."
Ujar Damar.
Samsul mengangguk.
Damar kemudian berjalan ke arah samping padepokan, di mana dari sana ia bisa akan langsung ke arah dekat dapur.
Ia bermaksud mengambil kapak yang biasa ia letakkan di sela bilik bambu.
Damar berjalan sambil mengikat sarungnya di pinggang, saat tanpa sengaja ia melihat Lestari tengah keluar dari dapur.
Damar yang terkejut melihat Lestari sampai kesandung undakan batu yang menuju ke arah bilik bambu di mana ia akan mengambil kapak.
Brak!!
Damar yang kesandung itu sukses jatuh ke pinggir dan menabrak beberapa kendi.
Lestari bergegas menghampiri dan tersenyum melihat Damar yang begitu gugup untuk bangun dari posisinya, tapi karena terlalu buru-buru malah jadi terpeleset dan jatuh lagi.
Lestari jadi tambah tertawa melihat Damar bolak-balik jatuh.
Ditertawakan Lestari demikian tentu saja membuat Damar jadi malu setengah mati.
Bagaimana tidak...
Jatuh di hadapan sang pujaan hati, tentu itu adalah hal yang paling memalukan di dunia ini.
Lestari akhirnya mengulurkan tangannya yang putih ke arah Damar.
"Saya bantu Bang."
Kata Lestari.
Damar menatap Lestari dengan malu, namun tentu saja menolak rejeki itu tidak boleh, jadi Damar menyambut saja uluran tangan Lestari itu.
Damar kemudian berdiri, sambil berpegangan pada tangan Lestari yang begitu putih, bersih dan halus lembut bagai sutra.
__ADS_1
Sekian detik Damar dan Lestari kemudian saling bertatapan, dengan tangan mereka yang seolah tak mau terlepas satu sama lain.
Keduanya tenggelam dalam pusaran rasa yang tiada tara membahagiakan, degup jantung yang begitu cepat bersama desiran indah yang memenuhi sudut-sudut hati mereka.
Hingga...
"Nona Lestari... Nona Lestari..."
Tiba-tiba terdengar suara Nyi Esih memanggil nama Lestari.
Lestari dan Damar seketika tersadar, tangan merekapun terlepas, dan Lestari buru-buru berlari ke arah dapur lagi, tepat saat Nyi Esih muncul di sana.
"Nona, katanya mau siap-siap mandi, saya sudah siapkan akar-akaran untuk dicampurkan ke dalam air hangat yang nanti untuk mandi, itu untuk mengurangi rasa lelah."
Kata Nyi Esih, yang tak menyadari apa yang baru saja terjadi antara Lestari dan Damar di halaman samping padepokan.
Lestari tampak mengangguk, lalu meminta diantar Nyi Esih ke kolam yang untuk mandi.
Damar berjalan sambil senyum-senyum tak jelas menuju bilik bambu di mana ia menyimpan kapak.
Setelah mengambil kapak nya, ia kemudian membawa beberapa kayu untuk di belah.
Di tempat Ki Gedhe Tirtayasa, memang sudah secara turun temurun di jadikan tempat untuk menitipkan anak keturunan di keluarga Tuan Ageng Parta Prawira.
Tujuannya adalah agar anak-anak mereka bukan hanya tumbuh dengan tingkat ilmu mumpuni, namun juga bisa terampil, mandiri, dan terbiasa hidup keras.
Lahir di tengah keluarga yang cukup berada di era kependudukan Belanda tentu sesuatu yang sangat istimewa.
Di mana rakyat lain banyak yang untuk makan saja kesulitan, keluarga Tuan Ageng Parta Prawira tak pernah mengalami kesulitan semacam itu.
Namun, karena itu pulalah, sejak jaman Kakek Tuan Ageng Parta Prawira membiasakan anak keturunannya dititipkan di padepokan milik Keluarga Ki Gedhe Tirtayasa untuk dididik, ditempa, dan dipersiapkan sebaik mungkin untuk menjadi penerus keluarga besar.
Damar kini tampak meletakkan kayu yang akan ia belah di depan nya, dan saat ia mengangkat kapaknya untuk membelah kayu tersebut, lagi-lagi ia mengingat wajah cantik Lestari.
Ah...
Tampaknya aku sungguh-sungguh tergila-gila padanya.
Bagaimana ini?
Apa yang harus aku lakukan?
Damar merasakan debaran jantungnya begitu luar biasa, apalagi saat ia juga seperti masih bisa merasakan kulit tangan Lestari yang begitu lembut.
Damar menggelengkan kepalanya.
Sudah cukup Damar, sudah. Kata Damar pada dirinya sendiri mengingatkan agar tak terus melamunkan Lestari.
__ADS_1
Yah cinta, seringkali datang tanpa diduga-duga, dan datangnya pun tiba-tiba.
💦💦💦💦💦💦