Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
44. Apa Yang Tersembunyi


__ADS_3

Darr!!


Darr!!


Darr!!


Terdengar seperti suara gebrakan di pintu belakang rumah yang ditempati Tomi dan Nilam.


Bik Surti yang sedang menyetrika baju akhirnya menghentikkan kesibukannya.


Dicabutnya kabel setrikanya dan kemudian berjalan keluar dari ruang setrika yang bersebelahan dengan kamar yang ia tempati.


Pintu belakang letaknya dekat dengan kamar mandi, yang juga di sebelahnya ada sumur yang sebetulnya sudah tak dipakai, maka ditutup dengan kayu.


Darr!!


Darr!!


Pintu itu jelas seperti digebrak dari luar.


Bik Surti menghela nafas.


"Aku tak mau melibatkanmu."


Kata Bik Surti pada pintu yang ia yakin di sana ada mahluk yang akan bisa mendengar kata-kata Bik Surti.


Diam.


Hening.


Pintu itu tak berisik lagi.


Melihat keadaan kembali tenang, maka Bik Surti akhirnya melangkah kembali ke ruangan setrika, namun, belum lagi ia sepenuhnya masuk ke dalam ruang setrika, tiba-tiba...


Braaak!!


Pintu belakang terbuka dengan sendirinya.


Angin berhembus cukup kencang menerjang ke dalam rumah.


Bik Surti yang tak siap, terhuyung dan terjerembab ke lantai.


"Hentikan... Hentikaaaan... Hentikaaan Surtiiii... Jangan ganggu... Jangan gangguuuu."


Suata itu menggema.


Bik Surti celingak-celinguk mencari sosok yang sengaja tak menampakkan wujudnya itu.


"Sudah kubilang, aku tak melibatkanmu, usah kau ikut campur!!"


Kata Bik Surti.


Brak!!


Pintu belakang dibanting dengan keras, angin kembali menerjang ke dalam rumah hingga beberapa perkakas berhamburan dan Bik Surti yang semula akan berdiri jadi terjatuh lagi ke lantai.


"Hentikan atau kau akan menanggung akibatnya Sur!"


Suara itu terdengar seperti menggeram.


Bik Surti terdiam, darah menetes dari lubang hidungnya.


**--------------**


"Rumah makan ini konon milik anak Ki Gedhe Tirtayasa."


Kata Tomi setelah mereka menyelesaikan acara makan malam yang nikmat.


Tak dipungkiri, masakan di rumah makan itu sungguh lezat.


Ikan bakarnya, sambalnya, mendoannya, cah kangkungnya, semua luar biasa enak.


Iwan bahkan sampai makan dua setengah piring, macam belum makan dari pagi.


"Ki Gedhe Tirtayasa?"


Ibunya Tomi menatap Tomi, ia seperti pernah mendengar nama itu.


Tomi mengangguk.

__ADS_1


"Pak Irfan cerita, Ki Gedhe Tirtayasa memiliki hubungan dengan kisah Lestari, Bu."


Nilam dan Ibunya Tomi saling berpandangan, mereka sama-sama terkejut mendengar penuturan Tomi.


"Mak... Maksudmu, hantu itu?"


Ibunya Tomi sedikit berbisik sambil matanya mengawasi sekitarnya.


"Ya Bu, hantu yang mengganggu Nilam dan Tomi."


Kata Tomi.


Iwan menyeruput es tehnya sampai habis, hinga menimbulkan suara yang menggangu dan membuat Ibunya jadi menaboknya.


"Hehe..."


Iwan tampak nyengir, lalu...


"Tapi kenapa aku kok curiganya malah sama Bik Surti ya."


Ujar Iwan tiba-tiba.


Yang jelas saja membuat Tomi, Ibu dan Nilam memandang ke arah Iwan.


"Kamu ini maksudnya apa? Kok malah curiga sama Bik Surti."


Ujar Ibu.


Iwan kemudian menggeser posisi duduknya.


"Aku perhatikan, Bik Surti ada yang sedang disembunyikannya, apa yang dia ceritakan rasanya ada yang janggal, ada part yang sepertinya sengaja ia coba buat samar-samar."


Kata Iwan.


"Soal apa?"


Tomi mengerutkan kening.


"Ada, jika Abang perhatikan dengan baik, Bik Surti selalu tak begitu jelas saat menceritakan keluarganya dahulu. Orangtuanya, kakeknya, atau apalah."


Kata Iwan.


"Ya kan dia mungkin tidak ingat secara detail. Kamu disuruh cerita soal Nenek juga pasti tidak jelas. Sama saja kan."


Iwan tiap kali bicara dengan Ibunya, belum apa-apa kepalanya selalu sudah pusing duluan.


Tomi menghela nafas.


"Tidak Wan, kejauhan kalau kamu curiga pada Bik Surti, lagian sudah jelas hantu itu memang ada mengganggu kita."


Kata Tomi.


"Aku malah lebih kepikiran omongan Ki Marta, yang mengatakan bahwa ada yang menghubungkan aku dengan Lestari di masa lalu. Ada yang belum selesai, dan itu yang membuatnya akan terus mengejarku."


"Apa itu Bang?"


Nilam menyentuh lengan Suaminya.


Tomi menggelengkan kepalanya pelan.


"Itulah yang aku ingin cari tahu sayang."


Kata Tomi.


"Tapi aku khawatir kalau nanti kamu malah akan semakin diganggu Bang."


Ujar Nilam.


Tomi menggeleng.


"Justeru jika tidak segera dicari tahu dan kita buat hubungan itu terputus, takutnya ia akan terus mengganggu sampai kita nanti punya anak."


Ujar Tomi.


Begitu mendengar soal anak, jelas saja Ibunya Tomi tampak langsung bersemangat.


"Ya sudah, kita lanjutkan pembicaraan ini di rumah saja, tidak enak membicarakan masalah keluarga di tempat umum."


Ujar Ibu.

__ADS_1


Nilam mengangguk setuju dengan mertuanya.


Tomi memanggil pelayan untuk meminta bon dan membayar tagihannya.


Iwan kemudian beranjak dari gazebo tempat mereka makan lebih dulu untuk mencari Pak Dadang, namun...


Tiba-tiba Iwan seolah mendapat bayangan laki-laki mirip Abangnya lagi.


Sejenak Iwan yang semula sedang berjalan sampai harus menghentikkan langkahnya, ia mengurut keningnya sambil memejamkan mata.


Ya...


Jelas sekali laki-laki itu.


Laki-laki yang sama yang bayangannya sempat melintas juga manakala tadi Iwan berada di rumah yang ditempati Tomi.


"Ada apa Wan?"


Tiba-tiba terdengar suara Ibunya dari arah belakang sambil menyentuh punggung sang putra.


Iwan menghela nafasnya.


Ia lalu segera menggeleng.


"Tidak apa Bu, tidak apa."


Kata Iwan cepat.


Iwan melanjutkan langkahnya mencari Pak Dadang yang ternyata sudah selesai makan dan sedang menikmati rokok di area depan rumah makan tersebut.


Ngobrol dengan tukang parkir rumah makan di atas motor pengunjung lain.


"Pak."


Iwan memanggil Pak Dadang yang langsung turun dari atas motor.


Pak Dadang buru-buru menuju mobilnya yang diparkir agak ke pinggir.


Iwan dan Ibunya menunggu di depan rumah makan hingga mobil dibawa Pak Dadang mendekat.


Tomi dan Nilam menyusul keluar dari rumah makan sambil bergandengan tangan.


Pak Dadang menghentikan mobilnya sejenak lurus dengan pintu keluar rumah makan tersebut.


Iwan menggandeng Ibunya, membukakan pintu mobil agar Ibunya naik lebih dulu, baru kemudian Nilam lalu Tomi.


Iwan sendiri duduk di depan bersama Pak Dadang.


Malam sudah menjelang, Kilau lampu jalanan terlihat berpendar.


Pak Dadang melajukan mobilnya kembali, meninggalkan pelataran parkir rumah makan milik keturunan Ki Gedhe Tirtayasa.


Tukang parkir rumah makan mengantar mobil yang dikemudikan Pak Dadang hingga menyebrang di jalan depan.


Priiit...


Masih sempat terdengar bunyi peluit si tukang parkir manakala mobil yang dikemudikan Pak Dadang akhirnya menjauh.


"Kapan-kapan harus mampir ke sini lagi."


Kata Iwan sambil duduk bersandar karena kekenyangan.


Meskipun...


Ada yang mengganggu pikirannya.


Bayangan laki-laki berwajah persis Tomi.


Entah kenapa bayangan itu muncul di sana bersama seorang gadis berambut pirang.


Mungkinkah gadis itu yang bernama Lestari?


Batin Iwan.


Iwan menghela nafas.


Pak Dadang menambah kecepatannya.


Nilam menatap keluar jendela mobil yang kini mulai gelap, hanya lampu jalanan yang membantu matanya bisa menangkap bayangan bangunan di luar sana.

__ADS_1


Semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.


💦💦💦💦💦


__ADS_2