
Pagi harinya, saat Tomi bangun, Nilam sudah tak terlihat di sampingnya.
Tomi pun duduk sebentar di atas tempat tidurnya, baru setelah itu turun dan beranjak dari sana.
"Sayang..."
Tomi mencari Nilam yang tak biasanya bangun tapi tidak membangunkannya.
Tomi mencari ke ruang belakang dan tampak Nilam ternyata sudah sibuk di dapur.
Jam masih bergerak di angka lima pagi.
"Sayang."
Tomi kembali menyapa.
Nilam menoleh ke arah Tomi yang terlihat memasuki dapur dari arah pintu, menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
"Biar Bik Surti saja yang mengerjakan, nanti kamu kelelahan lagi."
Kata Tomi.
"Tidak apa, biar aku saja yang memasak."
Ujar Nilam.
"Sejak kapan istriku yang paling cantik pinter masak?"
Seloroh Tomi, sambil tetap memeluk Nilam dan melihat tangan Nilam dengan jarinya yang lentik menggerakkan pisaunya mengiris beberapa bahan masakan.
"Abang saja yang tidak tahu aku pinter masak, kan sudah diajari Nyi Esih."
Ujar Nilam.
"Nyi Esih?"
Tomi mengerutkan kening.
"Ya Nyi Esih."
Sahut Nilam.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuat dari pintu seng dibuka, suaranya yang khas terdengar dari dapur karena memang letaknya yang bersebelahan.
Tomi yang kaget dan mengira itu Ibunya segera melepaskan pelukannya, meski sudah menikah, bermesraan di depan orang lain itu tetap tidak boleh, tidak sopan, dan akan membuat orang lain tidak nyaman.
Srek srek srek...
Menyusul kemudian langkah kaki yang makin mendekati pintu dapur, dan betapa kagetnya Tomi manakala dilihatnya di depan pintu dapur kini berdiri Nilam yang rambutnya digulung handuk.
"Abang lagi apa?"
Tomi terkesiap, ia menoleh ke belakangnya, di mana tadi jelas-jelas ada Nilam di sana sedang memotong bahan masakan.
Tapi...
Kosong.
Tak ada siapa-siapa.
Tak ada bahan masakan yang dipotong.
Dapur masih bersih.
Tomi mengurut keningnya.
Apa yang terjadi?
"Bang..."
Nilam mendekati Tomi yang malah sibuk terbengong-bengong, gugup Tomi menoleh lagi pada Nilam dan menatapnya.
Diraihnya wajah Nilam dan.mengusap wajah itu dengan tangannya, seolah meyakinkan dirinya jika itu adalah Nilam yang sesungguhnya.
Nilam yang melihat wajah Tomi pucat pasi jadi memegang tangan Tomi, lalu menariknya menuju kamar mereka.
"Ada apa?"
Tanya Nilam.
__ADS_1
Tomi yang kemudian duduk di tepi tempat tidur menghela nafas, ia memeluk Nilam yang berdiri di depannya.
"Maafin aku sayang."
Kata Tomi.
"Maaf soal apa?"
Tanya Nilam lagi.
"Maaf aku baru percaya kamu berkata jujur."
Kata Tomi.
Nilam mengusap kepala Tomi.
"Kamu lihat hantu?"
Tanya Nilam.
Tomi mengangguk.
"Ya, aku bangun dan kamu udah nggak ada, aku cari ternyata sedang masak. Aku tanya, kamu sejak kapan pinter masak? Trus kamu jawab katanya diajari Nyi Esih, tapi tiba-tiba kamu muncul habis mandi."
Tutur Tomi.
"Hihihihi... Hihihihi..."
Nilam cekikikan.
Tomi menengadahkan wajahnya, dan betapa kagetnya dia begitu melihat yang ada di depannya bukan Nilam, tapi seorang perempuan dengan rambut blonde tergerai.
"Bang, aku merindukanmu Bang... Aku merindukanmu Bang."
Perempuan itu mendorong Tomi ke belakang hingga terbaring.
"Tidak, kau siapa? Aku tidak kenal... Pergiii... Pergiiii..."
Tomi berteriak.
"Bang... Bangun... Bang... Bangun."
Nilam mengguncang tubuh Tomi yang mengigau semakin keras.
Tomi kemudian menoleh ke arah kirinya, di mana sekarang Nilam duduk menatapnya.
Tampak Tomi seperti ketakutan melihat Nilam.
"Ada apa? Kamu mimpi buruk?"
Tanya Nilam.
Nilam kemudian melihat botol air mineral di atas meja kecil dekat tempat tidur.
Sepertinya Bik Surti menyediakannya untuk Nilam.
Nilam meraih botol air mineral itu, lalu memberikannya pada Tomi.
"Minumlah."
Tomi dengan tangan gemetaran meraih botol air mineral dari tangan Nilam.
"Kau sungguhan Nilam kan?"
Tanya Tomi.
Nilam menghela nafas.
"Tentu saja Bang."
Sahut Nilam.
Tomi meneguk air mineral dari botol hingga hampir setengahnya, setelah itu diberikannya lagi pada Nilam.
Tampak laki-laki muda itu mencoba mengatur nafasnya agar bisa lebih tenang.
"Aku mimpi hantu Lestari."
Kata Tomi.
__ADS_1
"Lestari?"
Nilam menggumamkan nama yang baru ia dengar itu.
"Dia dua kali menyerupai kamu sayang, menakutkan sekali."
Kata Tomi.
Nilam tampak tersenyum.
"Baru mimpi sudah takut, apalagi jika Abang mengalami hal seperti aku? Tapi apa yang Abang lakukan? Abang malah menuduhku berhalusinasi dan membesarkan masalah."
Lirih Nilam.
Tomi mantuk-mantuk, ia tak mau menyanggah bahwa ia memang salah.
"Kita pindah saja, sudah jelas rumah ini berhantu, aku tak mau tinggal di sini."
Kata Nilam.
"Bik Surti akan membawa orang pinter hari ini, kita tunggu dulu saja hasilnya, jika memang tak bisa diusir ya sudah, aku akan cari tempat untuk mengontrak."
Kata Tomi.
Dari luar kamar, satu sosok yang berdiri menatap jendela kamar terlihat tertunduk.
Bik Surti akan memanggil orang pinter untuk mengusirku? Bagaimana bisa ia tega padaku? Bagaimana bisa aku yang lebih dulu tinggal di rumah itu malah diusir?
Tidak... Aku tak mau pergi!
Ini rumahku dan Bang Damar.
Hanya aku yang boleh tinggal di rumah ini bersama Bang Damar.
Tak ada siapapun yang boleh mengganggu.
Lestari terlihat kesal. Dadanya terasa panas karena dipenuhi amarah.
Hantu itu melayang ke atas atap rumah, berdiri di sana.
"Ini rumahku, hihihihi... hihihihi... hihihihi..."
Lestari cekikikan seperti kuntilanak.
**----------------**
Paginya, Bik Surti pamit untuk pergi ke kampung sebelah guna menemui orang pinter yang dimaksud Bik Surti untuk membantu memindahkan Lestari di tempat lain. Nilam menyambut hal itu dengan senang.
Karena Bik Surti pergi, walhasil yang masak sarapan adalah Ibunya Tomi.
Nilam yang ingat kejadian ia membentak mertuanya akhirnya meminta maaf dan membantu Ibu mertuanya di dapur, sementara Tomi mandi karena harus tetap ke kantor.
"Ibu juga minta maaf karena tak bisa langsung percaya padamu Nilam, kamu tahu kan Ibu sulit percaya pada hal semacam itu "
Ujar Ibunya Tomi.
Nilam di sebelahnya hanya mengangguk.
"Sejak awal lihat rumah ini, Nilam sudah tidak nyaman, bukan karena Nilam manja Bu, tapi memang Nilam seperti mendapat firasat buruk.
Ibunya Tomi mantuk-mantuk.
"Ya sudah, semoga nanti kenalan Bik Surti benar-benar bisa menolong kamu dan Tomi agar tetap bisa tinggal di rumah ini."
Ujar Ibunya Tomi.
"Iya Bu, semoga saja."
Dan tepat saat Nilam berkata semoga saja, tiba-tiba daun jendela di ruang makan yang dibuka lebar agar ada pergantian udara seolah dibanting.
Brakkk!!!
Hal itu tentu saja membuat Nilam dan Ibunya Tomi terkejut luar biasa.
Ibunya Tomi mematikan kompornya sebentar, lalu keluar dari dapur dan melihat di ruang makan dua daun jendela di ruangan itu kini bergerak-gerak.
Nilam yang menyusul Ibu mertuanya sama-sama melihat ke arah jendela.
"Ada yang marah."
__ADS_1
Kata Ibunya Tomi dengan nada suara semacam gumaman saja.
**-------------**