
Damar keluar dari kediaman orangtuanya dengan wajah merah penuh amarah.
Samsul yang menunggunya di depan terlihat bingung harus bagaimana, manakala dilihatnya Damar keluar dalam keadaaan yang begitu kacau.
Apalagi Mang Dayat yang mengikuti Damar sambil terus membujuk Damar kembali membuat suasana semakin menjelaskan jika antara Damar dan Ayahnya kini terjadi ketegangan.
Mang Dayat masih berusaha menghalangi Tuan Mudanya pergi, saat kemudian seorang abdi dari dalam tergesa-gesa keluar dan memanggil Mang Dayat.
"Dipanggil Tuan Besar, Mang."
Kata sang abdi yang usianya masih cukup muda.
Mang Dayat menatap Damar yang kemudian menyingkirkan Mang Dayat yang berdiri menghalangi jalan.
"Kita pergi saja Sul."
Kata Damar.
Mang Dayat memandangi anak majikannya yang kini menjauh.
Sungguh malang nasib Damar, ditinggal Ibundanya saat ia tak berada di rumah, kini ia juga harus bersitegang dengan sang Ayah karena cinta pertamanya justeru jatuh pada gadis yang telah lebih dulu ingin dinikahi Ayahnya.
Damar pergi bersama Samsul tanpa menoleh lagi, amarah, benci dan kecewa bercampur menjadi satu pada Ayahnya di hati Damar.
"Mang, dipanggil Tuan Besar."
Abdi Tuan Ageng Parta Prawira kembali mengulangi apa yang tadi ia sampaikan pada Mang Dayat.
Mang Dayat terlihat menghela nafas, ia dengan gontai akhirnya berjalan masuk dan langsung menuju ruangan yang terpisah milik Tuan Ageng Parta Prawira.
"Tuan, ini saya."
Ujar Mang Dayat begitu ia sampai di depan pintu ruangan pribadi Tuan Ageng Parta Prawira.
Tampak laki-laki yang meski telah cukup berumur namun masih gagah itu mengalihkan pandangannya dari lantai ruangannya ke arah pintu.
Tuan Ageng Parta Prawira duduk di kursi, dengan posisi tertunduk. Wajahnya juga sama sebagaimana Damar.
Memerah karena menahan marah.
"Ke mana anak kurangajar itu?"
Tanya Tuan Ageng pada Mang Dayat.
"Tuan Muda pergi Tuan."
Jawab Mang Dayat.
Tuan Ageng Parta Prawira nafasnya begitu memburu. Emosi tampaknya masih memenuhi dadanya.
"Kau, pergilah ke padepokan, jemput Lestari dari sana, dan sembunyikan dia agar tak ada siapapun yang tahu, terutama Damar."
Kata Tuan Ageng Parta Prawira.
"Tapi Tuan, bagaimana jika Lestari menolak?"
Tanya Mang Dayat.
Brakk!!
__ADS_1
Tuan Ageng Parta Prawira menggebrak meja di depannya.
"Apapun perintahku, lakukan saja!! Tak usah banyak tanya, tugasmu di sini hanya menuruti apa yang aku perintahkan!!"
Bentak Tuan Ageng.
Mang Dayat terdiam.
Ini yang kadang Mang Dayat tak suka dari sosok Tuan Ageng Parta Prawira, ia sangat kaku, jika memiliki keinginan haruslah segera terwujud, jika memerintah haruslah dikerjakan.
Tak peduli seberapapun risiko yang harus diemban abdinya, ia sepertinya tak mau tahu, asalkan ia mau, semua harus terjadi.
"Cepat kau pergi ke padepokan Ki Gedhe Tirtayasa, katakan padanya, jika Lestari tak jadi aku titipkan padanya, dan bawa pergi saja gadis itu."
"Apa perlu kita ajak Nyi Soemitri?"
Tanya Mang Dayat.
Namun tak disangka Tuan Ageng Parta Prawira malah mendelik.
"Buat apa!!"
Bentaknya.
Mang Dayat langsung menciut.
"Cepat pergi!! jangan sampai Damar lebih dulu membawanya, jika sampai dia berani membawa Lestari pergi, lebih baik aku dengar Lestari mati."
Mang Dayat terperangah tak percaya.
Tuan Ageng Parta Prawira kini terlihat seperti benar-benar kesetanan. Ketakutannya kalah dari sang putera atas cinta Lestari membuatnya seperti orang tidak sadar mengucapkan kata-kata.
Mang Dayat permisi.
Mang Dayat pun akhirnya bergegas berkemas, ia tak mengajak siapapun untuk pergi ke Cirebon untuk menjemput Lestari di padepokan Ki Gedhe Tirtayasa.
Sementara Damar sendiri, yang tahu jika Lestari telah dipindahkan ke Losari, langsung bergerak ke sana atas bantuan Samsul yang memang tahu kediaman anak bungsu Ki Gedhe Tirtayasa.
Sesampainya di Losari, Damar tak membuang waktu langsung menuju ke tempat anak Ki Gedhe Tirtayasa.
Beruntung Lestari ada di sana.
Lestari tengah duduk belajar di kelas membuat anyaman, manakala Damar meminta waktu kepada pengajar agar diperbolehkan bicara dengan Lestari.
Lestari yang terkejut sekaligus senang melihat Damar datang tentu saja langsung menghambur ke arah pintu.
Matanya yang bening berkaca-kaca, gadis itu nyatanya telah tercuri hatinya oleh Damar, sang pemuda tampan yang memiliki sorot mata teduh dan penuh kasih sayang.
"Ikutlah denganku Lestari."
Kata Damar.
Lestari begitu mendengar Damar mengajaknya pergi tentu saja kebingungan.
"A... Ada apa lagi? Kenapa harus pindah lagi?"
Damar menarik Lestari ke dalam pelukannya.
"Pergilah denganku, tinggalah denganku, ku mohon."
__ADS_1
Kata Damar.
Lestari yang masih belum mengerti kenapa Damar tiba-tiba datang lalu mengajaknya pergi tiba-tiba melihat anak bungsu Ki Gedhe Tirtayasa datang terburu-buru.
"Ada apa ini? Bang Damar, sedang apa kau di sini?"
Suara anak bungsu Ki Gedhe Tirtayasa yang terdengar dari arah belakangnya membuat Damar terkesiap, ia seketika melepaskan pelukannya pada diri Lestari.
Damar menoleh pada arah datangnya suara anak Ki Gedhe Tirtayasa.
Tampak perempuan yang dua tingkat lebih tua di atas Damar itu berdiri dengan mata sedikit kesal melihat kelakuan Damar yang tiba-tiba saja datang dan membuat kekacauan kelas belajar di tempatnya.
"Nyi, lepaskan Lestari untukku."
Pinta Damar.
Anak bungsu Ki Gedhe Tirtayasa menatap Damar bingung.
"Ku mohon, biarkan dia ikut aku saja, aku akan berikan apapun untukmu, dulu kau ingin memiliki cincin mata jamrud milikku bukan? Aku akan berikan."
Damar tampak membuka tasnya yang seperti pegawai pos jaman dulu.
Diraihnya tangan anak Ki Gedhe Tirtayasa, dan kemudian Damar meletakkan cincin dengan permata jamrud yang sangat indah di atas telapak tangan anak Ki Gedhe Tirtayasa tersebut.
Terlihat anak Ki Gedhe Tirtayasa gamang, ia sejak dulu memang menginginkan permata itu, dan kini Damar memberikannya dengan imbalan Lestari yang bahkan untuknya tidaklah berarti.
Tapi...
Bagaimana jika nanti Ayahnya marah?
Bukankah Lestari dititipkan sementara waktu di tempatnya sampai suasana lebih aman untuk para keturunan Belanda.
"Cepatlah, aku tak bisa menunggu lebih lama. Jika kau melepaskannya untukku, suatu hari, aku akan kembali memberikanmu batu Sapphire milikku yang ada di rumah."
Ujar Damar pula.
Mendengarnya, anak Ki Gedhe Tirtayasa tentu saja langsung tersenyum.
Sungguh sebuah kesepakatan yang bahkan sama sekali tak merugikannya.
Anak Ki Gedhe Tirtayasa pun dengan senang hati akhirnya mengangguk.
"Ya, pergilah, bawalah dia ke manapun kau suka."
Kata anak Ki Gedhe Tirtayasa.
Tak apa urusan Ayah bisa dipikirkan nanti, yang terpenting sekarang jamrud sudah di tangan dan sebentar lagi tinggal batu sapphire.
Damar menatap Lestari.
"Bawalah pakaian secukupnya saja, ikut aku, akan kupastikan kau aman."
Ujar Damar.
Lestari mengangguk.
Ya... Bagi Lestari apa yang lebih membuatnya bahagia sekarang ini selain bisa bersama Damar lagi.
Apalagi sekarang Damar jelas mengajaknya pergi berdua dan tinggal berdua.
__ADS_1
Ah Lestari dengan polosnya langsung berlari ke kamarnya untuk berkemas.
💦💦💦💦💦💦