Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
14. Percayalah Ibu


__ADS_3

"Jadi dulu rumah itu tadinya rumah salah satu pengurus pabrik Gula?"


Tanya Nilam.


Bu Harti mengangguk.


"Benar Neng, dulu itu sebetulnya di sini ada sekitar lima atau bahkan sampai tujuh rumah peninggalan Belanda, namun setelah kemerdekaan, rumah-rumah itu karena tidak terawat akhirnya dirobohkan dengan tanah."


"Lalu Tuan Ageng, apa dia antek Belanda pada masa itu?"


Bu Harti menggeleng.


"Saya juga tidak bisa memastikan dia antek Belanda atau bahkan antek Jepang. Cerita yang ada di tengah masyarakat itu banyak versinya, jadi tidak tahu mana yang benar."


Ujar Bu Harti.


"Tapi yang jelas, memang rumah yang kemudian Neng Nilam tempati bersama suami itu dimiliki Tuan Ageng, yang kemudian beralih pada keluarga jauh orangtua Bik Surti."


Nilam terdiam.


"Keluarga jauh Bik Surti berarti masih ada hubungan kekerabatan dengan Tuan Ageng Bu?"


Bu Harti mengangguk.


"Sepertinya begitu, atau bisa juga keluarga dari abdinya. Ah entahlah, kita tahu kan Neng, semua masa lalu di kita itu seringkali simpang siur, jangankan untuk orang-orang biasa, orang-orang penting saja sejarahnya tidak jelas."


Nilam mengangguk pelan.


Ya memang begitu adanya, sejarah selalu terlupakan dengan mudah di Negara ini.


Nilam menatap bangunan rumah yang ia tinggali dengan Tomi. Rumah sederhana yang berdiri di tanah bekas rumah Belanda.


"Rumah itu berhantu."


Gumam Nilam, lalu meneguk air minumnya.


Bu Harti terdiam.


Enggan dan tak berani bicara soal itu.


Tak lama, sebuah becak terlihat bergerak ke arah rumah Nilam.


Bik Surti dan Ibu mertuanya duduk di dalam becak tersebut, memangku banyak tas kresek berisi belanjaan mereka dari pasar.


"Ah itu Bik Surti."


Kata Nilam lega.


"Itu Ibu suami Neng Nilam?"


Tanya Bu Harti sambil berdiri menyusul Nilam yang lebih dulu berdiri untuk menyambut kedatangan mertuanya dan asisten rumah tangganya.


"Iya Bu, beliau mertua saya."


Jawab Nilam.


Bu Harti mantuk-mantuk.

__ADS_1


Nilam kemudian mengucap terimakasih pada Bu Harti sekaligus pamit untuk pulang.


Bu Harti mengantar hingga ke tepi jalan. Nilam setengah berlari menghampiri mertuanya yang turun dari becak.


Nilam membantu membawakan tas kresek yang dibawa mertuanya.


"Kamu darimana Nilam?"


Tanya Ibunya Tomi heran karena Nilam bukannya di dalam rumah malah kelayapan.


"Dari warung Bu, itu ngobrol dengan Bu Harti."


Ibunya Tomi menoleh ke arah warung depan rumah Bu Harti yang letaknya tak jauh di seberang jalan dekat rumah Nilam dan Tomi.


Bu Harti yang masih berdiri di depan warungnya terlihat tersenyum, Ibunya Tomi membalas tersenyum juga, meski kemudian bergegas mengajak Nilam menuju rumah.


"Kamu itu kalau tidak ada suami jangan keluar rumah, jangan jadi kebiasaan duduk di warung ngobrol berjam-jam, lebih baik di rumah, kerjakan apa saja."


Kata Ibunya Tomi memberi wejangan.


Nilam terlihat terdiam.


"Sekarang masih baru ngobrol dengan sesama Ibu-Ibu, nanti lama-lama sama Bapak-bapak, ini yang bahaya, seolah biasa bergaul dengan tetangga, padahal tidak begitu aturannya."


Ibunya Tomi terus mengomel, dan semakin mengomel begitu melihat pintu rumah ternyata ditutup sekedarnya oleh Nilam karena tadi ia begitu tergesa-gesa.


Pintu itu sedikit melongo, yang jika ada orang berniat jahat, pasti akan sangat mudah untuk menerobos masuk.


"Lihat, apa yang kamu lakukan Nilam? Pergi tanpa memastikan pintu rumah tertutup dan terkunci dengan baik. Kamu kan tahu laptop Tomi ada di rumah, dan ada banyak barang lain yang harusnya dijaga."


"Maaf Ibu, Nilam tidak sengaja, tadi Nilam buru-buru karena..."


"Karena apa? Karena ingin ngobrol di warung?"


Tanya Ibunya Tomi.


Sebetulnya suara Ibunya Tomi biasa saja, nadanya juga tidak tinggi. Tapi entah kenapa itu membuat Nilam perasaan.


"Saya takut Bu."


Kata Nilam akhirnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


Ibunya Tomi menghela nafas.


Ia berjalan mendekati kamar tidur Tomi dan Nilam.


Nilam yang mengikuti di belakangnya kemudian berkata lagi,


"Ada hantu yang isengin Nilam Bu, sumpah Bu."


Kata Nilam.


Ibunya Tomi menoleh ke arah Nilam.


"Hantu apa? Mana ada hantu Nilam."


Ibunya Tomi tidak percaya.

__ADS_1


Persis seperti yang Nilam duga.


Nilam kemudian memberanikan diri menuju kamarnya.


"Dia menaburkan bunga sedap malam di atas tempat tidur Nilam dan Tomi Bu, di sini tidak ada bunga sedap malam, tapi tiba-tiba saja bunga itu memenuhi kamar Nilam."


Nilam bicara sambil menyingkap gorden kamarnya dan mendorong lebar pintu kamar tidurnya agar pintu itu terbuka dengan lebar.


Tapi...


Ibunya Tomi tampak geleng-geleng kepala.


"Apanya bunga sedap malam? Di mana Nilam? Tidak ada apa-apa di sini?"


Ibunya Tomi menatap Nilam.


Nilam yang jelas-jelas tadi melihatnya tentu saja kebingungan.


Ke mana bunga-bunga itu?


Nilam yakin betul jika bunga sedap malam itu memenuhi tempat tidurnya tadi, bahkan aromanya bisa tercium dengan jelas oleh hidungnya.


"Sudah Ibu bilang kamu itu kelelahan, kamu itu harus istirahat dan jangan terlalu stres. Lagipula apa yang membuatmu sampai stres Nilam? Kamu tidak kekurangan uang, bahkan Tomi begitu menikah langsung diangkat jabatannya, kalau perempuan lain sudah pasti ia malah akan sangat bahagia sekarang ini. Tapi kamu..."


"Ibu... Kenapa Ibu malah bicara tentang perempuan lain? Itu terlalu menyakitkan Bu, lagipula Nilam sungguh tidak bohong, Nilam tidak mengada-ada."


"Tapi nyatanya apa yang kamu katakan tidak ada, bunga sedap malam, hantu, kamu berhalusinasi."


Kata Ibunya Tomi jadi emosi.


"Ah sudahlah, Ibu mau masak."


Ibunya Tomi mengambil tas kresek belanjaannya dari tangan Nilam dan bergegas menuju ruang dalam, meninggalkan Nilam yang menangis menatap tempat tidurnya yang kosong dan tak ada satupun bunga sedap malam yang seperti ia lihat sebelumnya.


Bik Surti terlihat masuk ke dalam rumah dengan lebih banyak belanjaan.


Nilam buru-buru menyeka air matanya, dan menghalangi langkah Bi Surti.


"Bik... Tolong Nilam Bik."


Kata Nilam.


"Tolong apa Nyonya? Ada apa? Kenapa menangis?"


Bik Surti bingung.


"Tadi di kamar ada banyak bunga sedap malam Bik, sumpah Bik, saya melihat bunga itu di taburkan di atas tempat tidur, tapi sekarang bunga itu lenyap entah kemana, bahkan aromanya pun tidak ada. Ibu tidak percaya dengan apa yang saya katakan, sungguh Bik, Bik Surti yang tahu jika rumah ini berhantu, katakan pada Ibu kalau saya tidak berhalusinasi. Ini nyata Bik... Tolong."


Nilam berlinang air mata, tangannya yang memegangi lengan Bik Surti gemetaran.


Bik Surti menatap iba Nilam.


"Ya Nyonya, nanti saya sampaikan pada Ibunya Tuan Tomi."


Ujar Bik Surti.


"Saya ingin pindah... Saya tidak mau tinggal di sini lagi."

__ADS_1


Rintih Nilam.


💦💦💦💦💦


__ADS_2