
"Tidak Tom, sejauh ini dia hanya berani menampakkan diri di hadapan Nilam, Ibu rasa ia menyasar Nilam yang paling lemah, dan juga entah untuk tujuan apa. Dekat sini banyak rumah tetangga, jika nanti ada yang membahayakan, Ibu akan lari minta tolong pada mereka, jadi jangan khawatir."
Begitulah Ibunya Tomi meyakinkan putranya agar tak usah ragu untuk tetap berangkat kerja.
Tak lama berselang, Pak Dadang terlihat sampai di depan rumah dengan mobilnya.
Tak biasanya ia parkir di depan rumah persis.
Tomi yang bisa melihat kedatangan Pak Dadang dari posisinya berdiri melalui kaca jendela ruang depan terlihat segera menuju pintu depan untuk membukakan pintu.
Pak Dadang tampak turun dari mobil, ia membawa satu kantong kresek hitam ukuran sedang.
Laki-laki dengan seragam driver yang bertuliskan nama Koperasi tempat ia bekerja berjalan ke arah rumah.
"Pagi Pak."
Pak Dadang membungkuk memberi salam pada atasannya.
Tomi terlihat mengangguk dan tersenyum.
"Pak Dadang tunggu sebentar ya, saya masih belum rapi."
Ujar Tomi.
Pak Dadang kemudian menyerahkan kantong kresek yang ia bawa kepada Tomi.
"Tadi saya ketemu Bu Nilam di jalan depan, dia nitip itu buat Pak Tomi."
Mendengarnya jelas saja Tomi menatap Pak Dadang dengan tatapan aneh.
"Jangan bercanda Pak, bagaimana bisa Pak Dadang bertemu isteri saya, sudah jelas-jelas dia sedang tidur di kamar."
Pak Dadang akhirnya jadi gantian yang terkejut.
"Tapi Pak, sungguh Pak, demi Tuhan."
Pak Dadang bersikeras jika benar ia memang bertemu Nilam tadi.
Tomi yang kesal dan merasa Pak Dadang sedang main-main akhirnya menyeret Pak Dadang masuk ke dalam rumah dan kemudian menuju kamar.
Ibunya Tomi yang melihat Tomi menyeret supir kantornya jadi terpaksa menengahi.
"Ada apa sih Tom?"
Tomi menyerahkan kantong kresek yang barusan diberikan Pak Dadang kepada Tomi, mengatakan jika itu titipan dari Nilam untuk Tomi.
Tomi menyingkap tirai pintu kamarnya, dan segera Tomi menunjukkan pada Pak Dadang jika Nilam masih tidur dengan lelap.
Pak Dadang terkesiap, kaget luar biasa dirinya melihat kenyataan bahwa Nilam isteri atasannya ada di kamar.
Pak Dadang memandang Tomi dengan wajah bingung.
"Tapi saya sungguh bertemu dengan Bu Nilam, dia berdiri di dekat tikungan jalan yang menuju ke sini. Dia menghadang mobil saya, katanya dia ada urusan, jadi dia suruh bawa makanan untuk sarapan di rumah."
__ADS_1
Kata Pak Dadang.
Ibunya Tomi yang membuka plastik kresek yang diberikan oleh Pak Dadang terlihat mengeluarkan satu bungkus nasi jagung dengan ikan asin dan sambal, lalu ada dua potong ubi ungu kukus yang masih hangat.
Ibu menatap Tomi, keduanya saling berpandangan dalam kebingungan.
"Pak Dadang."
Tomi akhirnya kembali pada Pak Dadang.
"Ya Pak."
"Apa ada hal aneh saat bertemu perempuan mirip Nilam itu?"
Tanya Tomi.
Pak Dadang terdiam sejenak, seolah mencoba mengingat. Lalu...
"Dia tidak menyebut nama Pak Tomi dengan nama Pak Tomi."
Tomi mengerutkan kening.
"Dia menyebut anda dengan nama Pak Damar."
Damar?
Kenapa Damar?
Tomi benar-benar heran.
Siapa sebetulnya Damar.
"Saya malah tanya, Damar siapa Bu? Damar suami saya. Lalu saya katakan, maksudnya Pak Tomi? Saya tanya begitu, tapi perempuan mirip Bu Nilam itu hanya tersenyum lalu pergi."
"Pergi ke mana?"
Tanya Ibunya Tomi.
"Ke gang kecil dekat pertigaan ada jembatan."
Kata Pak Dadang.
Sudah kepalang tanggung emosi naik, Tomi akhirnya mengajak Pak Dadang menuju gang kecil dekat jembatan sekitar pertigaan yang di maksud.
Meski hari sudah mulai siang dan Tomi pasti akan dianggap menjadi atasan yang tidak disiplin, tapi toh Tomi tak lagi peduli.
Yang ia pikirkan saat ini hanyalah ingin segera memecahkan semua misteri tentang hantu yang mengaitkannya dengan Damar dan mengganggu isterinya.
Saat Tomi baru sampai jalan dengan Pak Dadang, terlihat tiga ojek yang membawa Bik Surti pulang bersama Ki Marta dan juga satu laki-laki lagi yang lebih muda dari Ki Marta.
"Saya mau pergi sebentar Bik, nanti saya balik lagi."
Kata Tomi pada Bik Surti yang karena melihat Tomi akan pergi jadi memutuskan turun agar bisa bicara dengan Tomi.
__ADS_1
"Apa anda tidak bisa tinggal saja Tuan? Ki Marta akan langsung mengurus Lestari."
Lalu...
"Saya hanya sebentar Bik, hanya ingin memastikan gang kecil dekat jembatan yang ada di pertigaan itu gang menuju ke mana."
"Gang kecil dekat pertigaan? Tuan mau ke sana? Untuk apa? Di sana hanya ada pemakaman orang Belanda yang sudah mulai tak terawat."
Demi mendengar penuturan Bik Surti, terlihat Tomi dan Pak Dadang langsung merinding, terutama Pak Dadang, yang jelas-jelas tadi baru saja bicara dengan isterinya Tomi, tiba-tiba saja ia mendapati kenyataan Nilam ada di kamarnya, dan perempuan yang menyerupai Nilam yang ternyata pergi ke arah gang kecil itu merupakan gang menuju kuburan orang Belanda.
"Ah itu Ki Marta memanggil Tuan, lebih baik Tuan langsung menurut."
Kata Bik Surti yang melihat Ki Marta yang sudah masuk ke dalam rumah tampak keluar lagi dari dalam rumah dan melambaikan tangannya ke arah Bik Surti untuk meminta Tomi masuk.
Tak ingin Ki Marta nanti merasa diabaikan, maka Tomi bergegas menuju rumah.
"Sebetulnya ada apa sih Bik?"
Tanya Pak Dadang pada Bik Surti saat keduanya mengikuti Tomi menuju ke rumah.
"Ada penunggu lama yang sepertinya masih betah tinggal di sini. Sebetulnya dia sudah lama sekali tidak muncul, entah kenapa sejak Tuan Tomi dan Nyonya Nilam datang, dia sangat mengganggu."
Kata Bik Surti.
"Dia?"
Pak Dadang sedikit merinding.
Bik Surti menoleh pada Pak Dadang.
"Ya dia, yang Pak Dadang kemarin temui membawa bunga sedap malam, hantu itu menyerupai Nyonya Nilam dan menteror Nyonya Nilam sepanjang hari kemarin."
Pak Dadang rasanya lemas luar biasa.
Bagaimana tidak? Baru saja ia juga bertemu dan bicara dengannya.
Dan jika diingat-ingat, sebetulnya memang ada yang berbeda dari sosok Nilam yang ia temui tadi dan juga yang kemarin membawa bunga sedap malam.
Selain penampilannya yang membiarkan rambutnya tergerai, sosok itu juga senyum dan tatapannya seperti sedikit aneh.
Demi mengingatnya Pak Dadang merasa bulu kuduknya lantas langsung berdiri.
"Bik, apa dia sangat jahat? Saya kok jadi takut."
Kata Pak Dadang.
Bik Surti menghela nafas.
"Biasanya dia tak jahat, tapi jika ia berubah jadi jahat, mungkin karena dia punya alasan. Itulah yang akan dicari tahu Ki Marta."
Kata Bik Surti.
Sementara itu Tomi yang sudah sampai di depan pintu rumahnya langsung dirangkul Ki Marta.
__ADS_1
Laki-laki dengan celana komprang putih dan atasan yang juga putih serta ikat kepala bermotif tulisan huruf yang Tomi tak tahu huruf apa.
**-------------**