
Tomi tiba-tiba seolah ada yang menarik dari belakang.
Ia dilemparkan hingga Tomi terhempas sangat jauh, dan...
Bukgh!!
Tomi tersungkur di atas tanah berumput, ia sempat terguling, namun akhirnya bisa berhenti saat tubuhnya tersangkut semak belukar.
Di bawah sana, terlihat sungai alam yang airnya mengalir cukup deras.
Tomi meringis, badannya kini terasa sakit semua.
Di rumah Tomi, Iwan terus berusaha menghubungi Abangnya begitu staf kantor Tomi datang dan mencari Tomi karena nomornya tak bisa dihubungi.
Nilam yang begitu mendengar Tomi belum sampai di kantor dan tak bisa dihubungi, sedangkan Pak Dadang justru ditemukan tak sadarkan diri di sekitar pasar tentu saja langsung pingsan.
Karena tak sadar-sadar, Nilam pun segera dilarikan ke klinik terdekat oleh Ibu yang meminta tolong pada Bu Harti dan juga beberapa warga yang ada di sekitar sana.
Iwan terus menghubungi Tomi, hingga akhirnya setelah sekian lama nomor Tomi pun aktif.
"Angkat Bang... Cepat angkat, kau di mana..."
Iwan begitu gelisah, sementara staf kantor yang datang juga mulai sibuk menghubungi pihak kantor untuk memberitahu perkembangan kabar Tomi.
Tomi yang merasakan seluruh tubuhnya sakit dan hampir saja jatuh ke sungai andai tak ada semak belukar mendengar suara hp nya berdering.
Ia berusaha mencari hp miliknya, hingga kemudian ia melihat hp nya ada di semak-semak juga, tersangkut di sana.
Tomi merangkak mencoba meraih hp nya itu, dan begitu bisa ia raih, cepat ia mengangkatnya.
"Bang... Kau di mana? Bang kau di mana?"
Terdengar suara Iwan yang benar-benar panik.
Tomi celingak-celinguk, sampai kemudian ada seorang laki-laki paruh baya yang membawa karung, sepertinya ia pemulung yang biasa mencari botol plastik bekas dan semacamnya.
"Pak... Pak..."
Panggil Tomi.
Laki-laki paruh baya yang membawa karung itupun langsung mencari sumber suara dan kemudian menemukan Tomi yang masih dalam keadaan duduk lemas dekat semak belukar tak jauh dari sungai.
Laki-laki paruh baya itupun segera mendekati Tomi.
"Wan, ada orang yang bisa aku mintai tolong, tunggu sebentar."
Kata Tomi kemudian, sebelum berikutnya ia memutus panggilan sang adik.
Laki-laki paruh baya yang merupakan pemulung itu membantu Tomi berdiri dan memapah Tomi yang mengalami banyak luka lecet di sekujur tubuhnya.
Tomi meringis manakala kakinya yang sepertinya juga terkilir dipaksanya berjalan.
"Apa yang terjadi Tuan?"
Tanya Laki-laki paruh baya yang seorang pemulung itu.
Tomi menggelengkan kepalanya.
Sungguh ia sendiri juga tak begitu mengerti dengan semua yang baru saja ia lalui.
"Anda dirampok atau apa?"
Tanya pemulung itu lagi.
"Bukan Pak, saya bukan dijahati manusia, tapi hantu."
Kata Tomi.
Mendengar Tomi bicara begitu, sang pemulung hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Gubuk saya ada di dekat sini, nanti Tuan bisa menelfon keluarga Tuan dan menunggu keluarga Tuan untuk menjemput."
Kata si pemulung.
Tomi pun mengangguk.
Sungguh ia merasa pemulung itu adalah berkat yang diberikan Tuhan sebagai penolongnya.
**-------------**
Di Kendal, Bibi Sundari menatap lembaran-lembaran foto lama milik Bapaknya yang selama ini sebetulnya tak pernah ia anggap aneh.
Foto lama Bapaknya saat ia masih kecil dan Bapaknya itu masih muda.
Bibi Sundari menatap foto-foto lama itu, membolak-balik foto Bapaknya dan juga foto Ibunya.
Sudah lama sekali berlalu, bahkan keduanya kini telah tiada.
Lalu...
Pada sebuah foto di mana Bapak foto sendirian di dekat mobil, dan di depan bangunan rumah Belanda, terlihat di pojokan bawah foto ada tulisan kecil, tulisan menggunakan huruf palawa.
(Damar) Santoso Raharjo.
Deg!
Dada Bibi Sundari tiba-tiba terasa jantungnya berhenti, manakala melihat tulisan yang di dalam kurung itu berbunyi Damar.
Tangan Bibi Sundari pun bergetar, mengingat nama Damar berulangkali ditanyakan Tomi dan Iwan serta kakak iparnya.
Bibi Sundari Mecoba menghubungi Kakak iparnya namun tak dijawab, karena hp Ibunya Tomi tertinggal di rumah, sementara Ibunya Tomi mengantar Nilam sang menantu ke klinik.
Bibi Sundari juga mencoba menghubungi Tomi, tapi Tomi pun sama saja tak ada jawaban.
Akhirnya, Bibi Sundari menghubungi Iwan.
Untungnya Iwan langsung menjawab panggilan Bibi Sundari.
"Kau di mana Wan? Ibumu kok di telfon tak diangkat?"
Tanya Bibi.
"Ibu mengantar Kak Nilam ke klinik Bi, Kak Nilam pingsan."
Ujar Iwan.
"Lho kenapa?"
Bibi Sundari jelas jadi ikut khawatir.
"Ceritanya panjang Bi, nanti saja Iwan ceritakan kalau semuanya sudah selesai. Apa ada pesan penting yang harus Iwan sampaikan ke Ibu, Bi?"
Tanya Iwan.
Bibi Sundari menghela nafas.
"Foto kakek, foto saat Kakek masih muda yang diminta Tomi untuk dikirimkan apa kalian sudah melihatnya?"
Tanya Bibi Sundari.
"Ah ya Bi, kami sudah melihatnya, ya Kakek saat muda sangat mirip dengan Bang Tomi, nyaris tak bisa dibedakan."
Kata Iwan.
Bibi Sundari kembali menghela nafas.
"Bukan hanya itu Wan, kamu lihat foto kakek yang berdiri di dekat mobil yang di depan rumah bangunan Belanda."
Kata Bibi Sundari.
__ADS_1
"Sebentar, tadi fotonya di hp Ibu, sepertinya Ibu tak bawa hp tadi."
Ujar Iwan sembari masuk ke dalam rumah karena ia memang masih di teras bersama staf kantor Tomi.
Iwan mencari hp Ibu di kamar Ibu dan juga kamar Nilam.
"Damar, nama itu benar tertulis di foto itu Wan. Tulisan menggunakan huruf palawa yang di ditulis dengan tulisan kecil di pojokan bawah foto."
Kata Bibi Sundari.
Iwan yang penasaran segera melihat foto yang dimaksud.
Foto yang dikirimkan via aplikasi chat itu dizoom oleh Iwan, dan memang benar terlihat di pojokan foto itu ada seperti tulisan, tapi Iwan jelas tak bisa membaca rangkaian tulisan dengan huruf seperti itu.
"Jadi tulisan itu ada yang berbunyi Damar, Bi?"
Tanya Iwan.
"Ya Wan, yang di dalam kurung itu bunyinya Damar, sementara yang di luar kurung adalah Santoso Raharjo."
Bibi Sundari menjelaskan.
Ah pantas saja. Iwan mantuk-mantuk.
"Jadi kakek rupanya."
Kata Iwan tiba-tiba.
Lalu...
"Sebentar Wan, ini ada lagi."
Kata Bibi Sundari.
"Apa Bi?"
Tanya Iwan.
"Di belakang foto entah kenapa selalu ada gambar bunga sedap malam dan tulisan Lestari."
Ujar Bibi Sundari sembari mulai membalik semua foto-foto lama keluarganya.
Ya foto-foto yang memang sudah sangat lama berlalu dan hampir saja terlupakan andai Tomi tak menyebutnya dan membahasnya.
Bunga sedap malam dan Lestari, ya tentu saja, dia cinta pertama Kakek. Batin Iwan.
Iwan menghela nafas, lalu...
"Baik Bi, semoga setelah ini semua akan bisa Iwan selesaikan, terimakasih."
Kata Iwan.
Setelah itu ia segera meminta maaf pada Bibinya untuk mengakhiri panggilan mereka.
Bibi Sundari tentu saja mengiyakan, meski sesungguhnya ia sangat penasaran dan ingin tahu lebih banyak.
Iwan bergegas menuju keluar rumah lagi, menemui staf kantor Tomi.
"Mau ikut ke klinik tidak Bang? Saya mau nyusulin Ibu dan Kakak Ipar saya, mungkin sebentar lagi Bang Tomi akan segera ada kabar lagi, biar nanti kita bisa langsung jemput."
Ujar Iwan.
Staf kantor Tomi itupun mengangguk.
Iwan mengajak staf kantor kakaknya itu naik mobilnya saja, sebelum masuk mobil, Iwan menatap pohon besar di halaman rumah milik koperasi yang ditinggali kakaknya tersebut.
"Sebentar lagi, kupastikan semua selesai, semoga kau nanti bisa tenang, dan keluarga kakakku juga."
Lirih Iwan.
__ADS_1
💦💦💦💦💦💦