
Nilam dan Ibunya Tomi masih berdiri di ruang makan melihat jendela yang seperti dibanting dengan kasar, saat Tomi muncul selesai mandi.
"Ada apa?"
Tanya Tomi yang ikut menatap jendela.
"Sepertinya hantu itu tahu kita akan..."
Prang!!
Kini terdengar suara barang pecah di ruang depan.
Mereka sejenak berpandangan, lalu kemudian cepat menuju ke ruangan dimana asal suara barang pecah itu.
Ruang tamu depan kamar Nilam dan Tomi, di sana ada hiasan bunga yang terbuat dari daun-daun kering, lalu dibingkai dengan bingkai kaca dan digantung di dinding.
Hiasan itu kini ada di lantai, kacanya pecah berserakan.
Nilam menutup mulutnya yang menganga, manakala di dinding bekas hiasan itu di gantung terlihat seperti bekas telapak tangan.
Bekas telapak tangan itu berwarna merah darah yang kini telah mengering.
Ibunya Tomi yang juga ikut melihatnya lantas memeluk Nilam karena menantunya tiba-tiba menjerit saat dilihatnya sekelebat bayangan perempuan lewat di depan jendela depan.
"Aaaaaaa... Aaaaaaaaa..."
Nilam kesetanan, dia mencengkram rambut kepalanya dengan kedua tangannya.
"Nilam, sadarlah..."
Tomi meraih Nilam dari pelukan Ibunya, Nilam kelojotan mengamuk.
Ia begitu histeris.
"Aduh kenapa ini Tom, aduh Ibu harus bagaimana..."
Ibunya Tomi bingung tak karuan.
"Telfon Bik Surti agar cepat Bu."
Ujar Tomi sambil membopong Nilam ke kamar.
"Aaaaaa... Pergiiii... Pergiiii... Jangan ganggu akuuuu!!"
Nilam yang di matanya kini terlihat Lestari melayang di belakang Tomi terus menjerit-jerit.
Lestari yang bersimbah darah dengan wajahnya yang pucat pasi matanya menatap penuh kebencian pada Nilam.
"Kau merebut Bang Damar... Kau yang seharusnya pergi... Kau yang harusnya pergiiiiiii!"
Suara Lestari melengking tinggi, begitu memekakkan telinga Nilam.
Nilam menangis sambil terus menjerit-jerit. Tomi memeluknya dengan erat.
"Sayang... Sayang sadarlah."
Tomi berusaha membuat Nilam menghadap ke arahnya, menatap wajah Tomi saja, berhenti menatap kosong ke belakang Tomi yang jelas Tomi tak bisa melihat apapun di sana.
"Aku di sini, aku di sini."
Tomi menatap Nilam yang kini menatapnya lalu memeluknya erat.
Ia menangis ketakutan.
"Dia bilang aku merebut Damar... Aku tidak tahu Damar siapa Bang, aku tidak tahu."
Nilam menangis tersedu-sedu.
Tomi mengerutkan kening.
Damar?
Siapa Damar?
__ADS_1
Batin Tomi.
Sementara itu, Ibunya Tomi dengan tangan gemetaran mencoba menghubungi nomor hp Bik Surti, ia berjalan keluar dari kamar sambil menelfon Bik Surti.
"Bik... Bik... Halo."
"Ya Bu, saya baru sampai di rumah Ki Marta."
Bik Surti akhirnya menjawab panggilan Ibunya Tomi.
"Lekaslah pulang Bik, ini Nilam kesurupan."
Kata Ibunya Tomi.
"Ah iya Bu, sebentar saya langsung bicara dengan Ki Marta."
"Ya, jangan lama-lama, takutnya akan terjadi sesuatu pada Nilam."
Kata Ibunya Tomi.
"Ya Bu."
Dan saat Ibunya Tomi baru akan mengakhiri panggilannya dengan Bik Surti, ada panggilan masuk lain dari Iwan anak laki-lakinya yang bungsu.
Ibunya Tomi segera mengangkat panggilan Iwan.
"Bu, Iwan berangkat hari ini, sebentar lagi masuk Cikopo."
Ujar Iwan.
"Ah ya baguslah kau datang, Ibu pusing sekali ini, rumah kakakmu berhantu."
Kata Ibunya Tomi sembari berjalan ke arah kamar Nilam dan Tomi.
Nilam sudah mulai tidak menjerit lagi dan bisa ditenangkan Tomi.
"Hantu? Ibu percaya hantu?"
Iwan malah lebih kaget Ibunya sekarang percaya ada hantu, bukan kaget mendengar rumah Tomi berhantu.
"Ya sudah, Iwan lagi nyetir Bu, paling empat jam lagi Iwan sampai."
Kata Iwan.
"Ya sudah hati-hati di jalan."
Kata Ibunya Tomi.
"Ya Bu."
Dan panggilan pun berakhir.
Ibunya Tomi memasukkan hp nya ke dalam kantong daster, lalu berjalan memasuki kamar Tomi dan Nilam yang pintunya tetap terbuka.
Nilam terbaring lemah, Tomi duduk di sampingnya sambil mengusap wajah sang isteri.
Tomi sejenak menoleh ke arah kedatangan sang Ibunda yang terlihat berdiri di sampingnya.
"Tomi sepertinya tidak perlu bekerja hari ini, tidak tega meninggalkan Nilam."
Kata Tomi.
Ibunya Tomi menggeleng.
"Jangan, pergilah, Ibu yang akan jaga Nilam, sebentar lagi Bik Surti pulang bersama kenalannya yang orang pinter itu, dan Iwan juga sedang dalam perjalanan ke mari."
Kata Ibunya Tomi.
"Ah Iwan datang? Dia mempercepat kedatangannya, baguslah."
Tomi terlihat lega.
"Kamu senang Ibu akan pulang."
__ADS_1
Ibunya Tomi malah baper.
Tomi tentu saja langsung menggeleng.
"Bukan Bu, Tomi lega Iwan datang, Tomi akan minta dia tinggal beberapa hari sampai semua tenang. Dia sedang libur semester kan? Biar dia tinggal nemenin Nilam dulu, boleh kan Bu?"
Ibunya Tomi menghela nafas.
"Tentu saja, nanti Ibu akan bicara padanya."
"Seperti kita tahu, Iwan kan memiliki indra ke enam Bu, sering sekali dia bisa menebak dan melihat penampakan kan Bu."
Ibunya Tomi menghela nafas lagi.
"Ibu sebetulnya kesal pada Iwan karena selalu bicara soal hantu."
Kata Ibunya Tomi.
Tomi kembali melihat ke arah Nilam yang kini memejamkan matanya. Ia seperti tertidur, nafasnya turun naik dengan teratur.
"Dia tadi bilang kalau hantu itu menuduhnya merebut laki-laki bernama Damar, padahal Nilam tak tahu siapa itu Damar."
Ujar Tomi.
Mendengar penuturan Tomi, Ibu Tomi malah jadi curiga dengan menantunya.
Damar?
Jangan-jangan Nilam selama ini juga main curang di belakang Tomi.
Timbul bisikan jahat di dalam hati Ibunya Tomi, dan siapa lagi yang menimbulkan pikiran sekeji itu jika bukan Lestari yang membisikkan di dekat telinga Ibunya Tomi.
"Kau yakin Nilam tak ada hubungan dengan laki-laki bernama Damar? Mungkin saja kau tidak tahu."
Ibunya Tomi tiba-tiba meraih tangan Tomi dan menarik tangan anaknya itu keluar dari kamar.
"Bu... Kenapa Ibu bicara begitu?"
Tomi terlihat gusar.
"Sejak pertama hantu itu muncul, kenapa Nilam yang selalu ditakuti? Pasti karena memang dia salah Tom."
Ujar Ibunya Tomi.
Tomi menggeleng.
"Tidak Bu, semalam Tomi juga diganggu."
Lirih Tomi.
Ibunya Tomi mengurut keningnya.
"Entahlah Bu, ini mungkin ada kaitannya dengan hantu Lestari di masa lalunya, nanti kita akan tahu setelah orang pinter kenalan Bik Surti datang."
Ujar Tomi kemudian.
Ibunya Tomi menghela nafas.
Ia kemudian berjalan ke arah kursi, menatap kaca dari bingkai hiasan dinding yang masih berserakan di lantai.
"Kau bersiaplah berangkat kerja, biar nanti urusan rumah Ibu yang tangani."
Kata Ibu.
"Tapi apa tidak berbahaya Ibu menjaga Nilam sendirian?"
Tomi ragu-ragu, ia terlalu khawatir.
Ibunya Tomi menggelengkan kepalanya.
"Tidak Tom, sejauh ini dia hanya berani menampakkan diri di hadapan Nilam, Ibu rasa ia menyasar Nilam yang paling lemah, dan juga entah untuk tujuan apa. Dekat sini banyak rumah tetangga, jika nanti ada yang membahayakan, Ibu akan lari minta tolong pada mereka, jadi jangan khawatir."
Ibunya Tomi yang merupakan sosok wanita kuat, yang wajar saja karena merupakan isteri seorang pensiunan Anggota Kopasus jaman dulu, kini meyakinkan Putranya semua akan bisa ia handle.
__ADS_1
**---------------**