Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
39. Masih Samar Untuk Tomi


__ADS_3

Tomi tampak terkesiap, namun saat matanya berkedip, begitu dilihatnya kembali me seberang sana tak ada siapapun.


Hanya ada beberapa orang berjalan seperti biasa hilir mudik.


Tomi mengurut keningnya.


Tidak...


Ini tidak boleh dibiarkan. Ia mulai berhalusinasi akan hantu itu. Mempercayai mereka memiliki hubungan di masa lalu sebagaimana yang dikatakan Ki Marta adalah salah.


Tomi menghela nafas.


Ia kembali duduk di depan meja kerjanya, berusaha fokus memeriksa berkas anggota yang mengajukan pinjaman.


Tak ada yang seperti itu di dunia ini, tak ada hubungan yang seperti itu.


Masa lalu ya masa lalu, aku hanya kebetulan saja terjebak di tengah mereka.


Tomi baru membuka map berkas pertama, saat ada panggilan masuk dari Pak Irfan di hp nya.


Tomi segera meraih hp miliknya itu, lalu mengangkat panggilan pak Irfan.


"Ya Pak."


Tomi membuka pembicaraan.


"Pak Tomi, saya ingat sekarang."


Tiba-tiba Pak Irfan bicara seolah ada hal penting yang ia ingat.


"Ada apa Pak?"


Tanya Tomi.


Ia pikir kali ini Pak Irfan akan membahas soal pekerjaan di kantor cabang Koperasi tempat Tomi menggantikannya memimpin.


"Lestari."


Pak Irfan menyebut nama Lestari.


Tomi terkesiap.


"Nama itu juga ada kaitannya dengan kisah pemilik rumah makan di mana kita makan kemarin, pak Tomi masih ingat bukan? Saat kita baru saja keliling ke beberapa tempat Notaris yang rekanan dengan kantor kita."


Ujar Pak Irfan.


"Oh ya Pak, saya ingat."


Kata Tomi.


Tentu saja Tomi masih ingat karena tempat makan itu adalah tempat makan pertama yang ia singgahi di kota ini, belum lagi juga baru saja terjadi kemarin.

__ADS_1


Selain tentu karena tempat dan makanannya yang enak, di mana Tomi bahkan ingin mengajak Nilam makan di sana.


"Lestari, konon adalah penyebab terbunuhnya keluarga pemilik rumah makan itu, namanya Ki Gedhe Tirtayasa."


Ujar Pak Irfan.


"Ya sebuah kisah tragis yang terjadi saat akhir kependudukan Belanda di Indonesia."


Lanjut Pak Irfan lagi.


"Pak Irfan tahu dari mana?"


Tanya Tomi jadi penasaran.


"Saya tahu dari Afif, satpam kita, tanyakan saja padanya Pak, dulu saya tahu tempat itu adalah dari Afif, kakeknya dulu tinggal di dekat padepokan Ki Gedhe Tirtayasa."


Tutur Pak Irfan.


Tomi yang seolah mendapat satu titik terang langsung mengucapkan terimakasih pada pak Irfan, dan segera keluar dari ruang kerjanya untuk turun ke lantai satu mencari Afif.


Afif yang jelas saja sedang berjaga di depan pintu kantor tampak bingung saat Tomi memanggilnya.


Afif khawatir jika ia telah melakukan kesalahan, tiba-tiba dipanggil atasan.


"Ini penting, saya mau bicara."


Ujar Tomi sambil mengajak Afif duduk di depan kantor dekat parkiran.


"Ada apa Pak?"


Kata Tomi.


Afif mengerutkan kening.


Ada apa ini?


Kenapa atasannya tiba-tiba menanyakan soal kisah kelam tetangga Kakeknya jaman dulu?


"Ceritakan sekarang Fif, aku bisa membantumu naik posisi di kantor."


Kata Tomi membuat Afif langsung sumringah.


Afif kemudian mengangguk.


"Baik Pak."


Kata Afif.


Lalu...


"Boleh saya sambil merokok Pak? Soalnya kalau cerita ini saya sedikit emosi."

__ADS_1


Kata Afif.


Tomi mengangguk.


Ya jangankan merokok, sambil jungkir walik juga tidak apa, asal jangan sambil mainin suara knalpot. Batin Tomi.


Setelah akhirnya Afif menyalakan rokoknya dan mulai menghisap rokok milikinya itu, ia pun memulai kisahnya.


"Dulu, ada seorang Tuan Tanah yang sangat kaya, konon ia masih saudara jauh dengan Ki Gedhe Tirtayasa pemilik padepokan tetangga kakek saya. Tuan tanah sekaligus juga saudagar kaya itu bernama Tuan Ageng Parta Prawira. Dia orang yang sangat dekat dengan Belanda, makanya di saat banyak orang susah di jaman itu, dia justeru hidup dalam kemewahan."


Afif bertutur.


"Singkat cerita, ia kemudian jatuh cinta pada anak sahabat Belandanya, bernama Lestari, karena masih kecil belum bisa dinikahi, Lestari dititipkan di pdepokan Ki Gedhe Tirtayasa, namun di sana Lestari bertemu dengan Damar, putra Tuan Ageng Parta Prawira sendiri, keduanya saling jatuh cinta."


Afif menghisap rokoknya lagi.


Sementara Tomi yang mendengar nama Damar entah kenapa jadi gemetaran.


"Da... Damar katamu?"


Tanya Tomi.


Afif mengangguk.


"Ya, Damar. Dia akhirnya melarikan Lestari, dan itu menjadi penyebab semua keluarga Ki Gedhe Tirtayasa dan juga abdi serta embannya dibantai. Untungnya putri bungsunya itu saat tempatnya di Losari diserang, ia sedang berada di pasar, dia berhasil dilarikan ke Tegal, lalu bersembunyi di sana hingga tahun 1950an baru kembali ke kota ini."


"Lalu bagaimana dengan Damar dan Lestari?"


Tanya Tomi.


"Ceritanya simpang siur Pak, karena mereka melarikan diri kan, ada yang cerita Lestari dibawa tentara Jepang, ada yang cerita ia dibunuh algojo Tuan Ageng Parta Prawira, ada juga yang bilang bunuh diri."


"Lalu Damar?"


"Apalagi itu, saya tidak tahu Pak, kakek saya hanya cerita soal yang dia tahu saja. Pak Tomi tahu kan, kalau orang jaman dulu itu tidak suka bicara tentang hal yang mereka tidak tahu persis, beda dengan orang sekarang, berita hoax saja bisa langsung menyebar dan akhirnya membuat masalah besar."


Ujar Afif.


Tomi mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ya benar memang kata Afif.


Ah...


Lestari, sebetulnya apa penyebab kematiannya hingga masih penasaran sampai sekarang?


Dan ke mana Damar sebetulnya?


Ternyata satu titik terang itu justeru tetap membuat pertanyaan tak langsung terjawab.


Semuanya tetap samar, sebagaimana yang diceritakan Bik Surti.

__ADS_1


**----------**


__ADS_2