
Bik Surti di dapur tengah menyiapkan air minum untuk Nilam. Ia melihat Pak Dadang yang pucat pasi, minum sampai tiga gelas air putih dari kulkas.
"Ada apa sebetulnya Pak Dadang?"
Tanya Bik Surti.
Pak Dadang meletakkan gelas air minumnya yang telah kosong di tempat cucian piring di dapur.
"Saya lihat penampakan Bik, sampai nyaris celaka."
Kata Pak Dadang.
Laki-laki paruh baya itu tampak menghela nafas, lalu berjalan gontai menuju ruang makan untuk duduk di salah satu kursinya.
"Penampakan lagi?"
Tanya Bik Surti dengan membawa segelas air putih yang akan ia antarkan ke kamar Nilam.
Pak Dadang mengangguk.
"Antar saja dulu minumannya Bu Nilam, Bik. Kasihan dia pasti syok."
Ujar Pak Dadang.
Bik Surti mengangguk.
Raut wajah Bik Surti terlihat seperti orang bingung.
Tok tok tok...
Bik Surti mengetuk pintu kamar majikannya, tepat saat Iwan masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
"Ada apa Bik?"
Tanya Iwan dengan pandangan menyelidik.
Bik Surti membungkuk.
"Maaf, ini saya diminta mengantar air untuk Nyonya Nilam."
Kata Bik Surti.
Iwan mendekati Bik Surti, lalu mengambil alih gelas berisi air putih yang katanya untuk isteri Abangnya.
"Biar saya saja yang kasih."
Kata Iwan.
Bik Surti mengangguk.
Iwan mengulang mengetuk pintu kamar Nilam dan Tomi.
Bik Surti undur diri dan akan kembali ke ruang belakang, manakala matanya tanpa sengaja melihat ke arah kaca jendela ruang depan yang hanya ditutup tirai putih tipis transparan.
Tampak di sana, di depan teras sesosok perempuan mengenakan gaun berenda berdiri mematung.
Menatap kosong ke dalam rumah.
Bik Surti cepat pura-pura tak melihat. Ia sungguh mulai kehabisan akal untuk mengendalikan hantu None Belanda itu.
Bik Surti tergopoh menuju ruang dalam, dan mendapati Pak Dadang di ruang makan terlihat duduk bengong.
"Pak Dadang tidak pulang?"
Tanya Bik Surti.
Pak Dadang menggelengkan kepalanya.
"Rasanya tidak sanggup saya bawa mobil pulang ke kontrakan."
Kata Pak Dadang.
Bik Surti mengangguk mengerti.
"Ya kalau begitu tidur saja di kamar setrika, ada kasur lipat, Pak Dadang bisa tidur di sana."
Ujar Bik Surti.
Pak Dadang mengangguk.
Tok tok tok...
Iwan kembali mengetuk pintu kamar Abangnya, saat akhirnya terdengar suara langkah mendekat dan pintu itu pelahan terbuka.
"Nilam baru tertidur."
__ADS_1
Ujar Tomi dengan suara pelan.
Iwan melongok dan melihat kakak iparnya benar sudah tidur.
"Letakkan saja minumnya di meja dekat tempat tidur Bang, jadi kalau Kak Nilam bangun bisa langsung minum."
Kata Iwan.
Tomi akhirnya membawa gelas air minum itu ke dekat tempat tidur dan meletakkannya di atas meja.
Iwan sendiri menuju kamar ruang kerja Tomi di rumah itu. Badannya lelah karena ia baru saja sampai tapi akhirnya malah belum istirahat.
Tapi...
"Wan."
Tomi tiba-tiba memanggil.
Tampak abangnya itu menutup pintu kamarnya pelahan, lalu mengikuti Iwan masuk ke ruang kerjanya yang memang letaknya persis bersebelahan dengan kamar tidurnya.
"Wan... Kamu harus bantu Bang Tomi."
Ujar Tomi.
Iwan mengangguk.
"Ya Bang, katakan saja, Bang Tomi butuh dibantu apa?"
Kata Iwan seraya duduk di kursi depan meja kerja Tomi.
Tomi tampak mengurut keningnya. Ia ketara sekali pusing tujuh keliling.
"Duduk dulu Bang, jadi ngobrolnya enakan."
Kata Iwan pada Tomi yang seperti bingung.
Tomi akhirnya mengangguk, lalu menarik kursi kerjanya agar ia bisa duduk berhadapan dengan Iwan.
"Hantu di rumah ini, kenapa dia hanya ganggu aku? Kenapa manager sebelumnya tidak?"
Tomi mulai membuka suara.
Iwan mengangguk.
"Dan hantu None Belanda itu, katanya ia ada hubungan denganku di masa lalu, hubungan seperti apa? Aku tak merasa pernah mengenal siapapun di masa laluku."
Iwan menatap Tomi.
Wajah laki-laki yang mirip dengan Tomi seolah membayang lagi di pelupuk mata.
"Bukan kamu Bang, tapi seseorang dari masa lalu yang persis sepertimu."
Kata Iwan.
"Maksudmu?"
Iwan mengangguk.
"Ya Bang, ada laki-laki yang persis dirimu, aku mendapatkan bayangannya, dia ada di tanah ini di masa lalu."
Ujar Iwan.
Tomi tercekat.
"Apa dia..."
Tomi kemudian mengingat kisah yang diceritakan tukang parkir Kantornya.
Damar, ya Damar...
"Siapa namanya?"
Tanya Tomi pada Iwan.
Iwan menggeleng.
Ia memang belum sampai diberi gambaran nama laki-laki mirip kakaknya itu.
"Damar. Ya kan? Namanya Damar kan?"
Tanya Tomi.
"Aku belum tahu Kak, hanya saja aku melihat bayangannya sejak tadi pertama ke sini. Dia yang seperti terengah-engah seolah habis diikuti atau dikejar orang, lalu saat tadi kita di rumah makan juga aku melihatnya."
"Maksudmu penampakan?"
__ADS_1
Iwan terdiam sejenak, lalu...
"Bukan, lebih tepatnya seperti bayangan dalam pikiran kita."
Ujar Iwan.
Tomi mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya dengan kasar.
"Aku stres memikirkan semuanya Wan. Hantu itu juga menyerupai Nilam, aku khawatir lama-lama ia akan mencelakai Nilam."
Ujar Tomi.
Iwan mantuk-mantuk.
"Iya Bang, aku juga berpikir begitu."
Lalu...
"Tapi tadi aku sempat melihat juga ada bayangan hitam yang melintas di jendela ruangan ini, aku melihatnya saat bicara dengan Ibu."
"Bayangan hitam apa?"
Tomi mengerutkan kening.
Setahunya, hantu yang mengganggunya dengan Nilam adalah hantu Lestari, sosok hantu None Belanda, bukan hantu dengan bentuk bayangan hitam.
"Entahlah, aku mengikutinya tadi, tapi dia menghilangkan di dekat belakang pohon besar yang tumbuh di halaman rumah ini."
"Jadi maksudmu, ada banyak hantu di sini?"
Tanya Tomi.
Iwan mengangguk.
"Mereka banyak Bang, tapi tidak menggangu, yang menganggu sepertinya justeru karena ada yang memicunya."
"Maksudmu apa Wan?"
Tomi terlihat semakin pusing.
"Bang, ada yang sengaja membuat beberapa hantu muncul untuk mengganggu, entah apa motifnya tapi aku yakin ini ada hubungannya denganmu, tapi, bisa jadi hantu-hantu itu juga ditunggangi oleh hantu lain. Paham tidak Bang?"
Iwan menatap Tomi yang terlihat menggeleng.
Tomi memang sama sekali tak paham soal hantu, melihat pun sebetulnya selama ini ia tak pernah.
"Hantu itu seperti parasit, dia akan saling menempel dan yang kuat biasanya akan menguasai. Aku rasa ada yang bermain dengan hantu, tapi akhirnya ada sesuatu yang tak terkendali."
"Lalu apa hubungannya masalaluku dengan hantu itu?"
Tanya Tomi mulai kesal karena ia merasa Iwan malah jadi melebarkan masalah ke mana-mana.
Iwan menghela nafas.
"Itu akan aku cari tahu. Sosok hitam yang aku lihat tadi, entah kenapa aku merasa dia sebetulnya tidak jahat, pokoknya serahkan saja padaku Bang."
Ujar Iwan.
Tomi mencengkram rambutnya dengan kedua tangan, lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi.
Kepalanya menengadah ke atas, ditatapnya langit-langit ruangan kerjanya yang diam membisu.
"Apa lebih baik memang aku pindah saja."
Gumam Tomi.
"Ya, kalau Bang Tomi merasa lebih baik pindah, mending pindah saja."
"Tapi keuanganku sedang buruk, aku malas minta tolong pada Ibu, pasti nanti masalahnya jadi ke mana-mana."
Ujar Tomi.
Iwan mengangguk mengerti.
Sayangnya ia juga belum bekerja, jadi tentu saja ia tak bisa menawarkan bantuan jika masalahnya adalah keuangan.
"Menikah kemarin tabunganku terkuras, aku tak bicara pada Ibu karena ya kau tahulah sifatnya."
Kata Tomi lagi.
Iwan mengangguk.
Tentu saja ia bukan hanya mengerti, tapi juga hafal.
Maka...
__ADS_1
💦💦💦💦💦