
Tiba-tiba kabut tebal seolah memenuhi di sekitar mereka.
Damar dan Lestari saling bergenggaman tangan dengan erat, keduanya berdiri.
Dari kabut tebal itu ada sebuah cahaya yang tiba-tiba menembus, cahaya itu kemudian membentuk lorong yang sangat panjang.
Lestari menutupi matanya dengan tangan kirinya karena tangan kanannya digenggam Damar.
"Kita pergi sekarang Lestari."
Kata Damar.
Lestari mengangguk, ia tak bisa melihat Damar dengan jelas, tapi genggaman tangan Damar dan suaranya sudah cukup menjelaskan Damar tetap ada di sisinya.
Damar menarik lembut tangan Lestari menuju lorong cahaya itu.
Sayup mereka kemudian mendengar suara Ki Martha membaca mantera, dan satu suara lagi yang juga mereka tak asing.
"Sudah saatnya kalian tenang, pergilah dan istirahatlah."
Suara itu adalah suara Mang Dayat, yang mengiringi kepergian mereka dengan lega.
Kini ia juga telah lega, merasa bahwa keinginannya menjaga mereka sudah tuntas.
Tak ada lagi yang harus ia khawatirkan, dan ia pun sudah saatnya pergi.
Kabut tebal itu pelahan-pelahan mulai menipis, Ki Martha tampak membuka matanya.
Terlihat Tomi masih duduk sila dengan mata terpejam, ia masih kosong dan belum sadar.
Ki Martha menepuk bahu Tomi sambil komat-kamit, tak lama setelah itu Tomi pun tersadar.
Tomi sejenak mengerjapkan matanya, menatap ki Martha yang duduk di depannya itu samar-samar tersenyum.
Cahaya matahari pagi terlihat telah masuk ke dalam ruangan kamar, menembus kaca jendela kamar yang tertutup tirai.
"Mereka sudah saling bertemu dan kini telah pergi dengan tenang bersama."
Kata Ki Martha.
"Be... benarkah? Apa kakek datang semalam?"
Tanya Tomi.
Ki Martha mengangguk.
"Ya Tuan Tomi, beliau datang dan telah menyampaikan semuanya pada Lestari, kini mereka berdua telah bersama kembali, saya yakin tak akan ada lagi gangguan setelah ini. Tapi..."
Ki Marta membenahi posisi duduknya.
"Tapi saya sarankan rumah ini ratakan saja dengan tanah, lalu jadikan saja tanah lapang yang tak perlu ada bangunan lagi. Anda dan keluarga, carilah tempat lain, jika kemarin Lestari yang akan terus mengikuti anda ke manapun anda pergi, sekarang sudah tidak ada lagi."
Kata Ki Martha kemudian.
Tomi pun mengangguk.
"Baiklah Ki Martha, saya akan mencari tempat baru secepatnya, terimakasih atas semua bantuan Ki Martha."
Ujar Tomi.
Ki Martha mengangguk pelan.
Aroma bunga sedap malam yang bercampur kemenyan kini telah mulai pudar perlahan, api pada dua lilin yang dinyalakan semalam juga telah hampir padam.
Ki Martha pun bangkit dari duduknya, dipanggilnya sang asisten yang berjaga di luar kamar, menandakan ritual telah selesai.
Asisten yang berjaga semalaman itupun begitu mendengar panggilan Ki Martha segera masuk ke dalam kamar Tomi.
"Bereskan semuanya."
Kata Ki Martha pada sang asisten.
__ADS_1
Iwan juga menyusul masuk, penasaran sekaligus juga khawatir atas kondisi Abangnya.
"Bang."
Iwan yang langkahnya tertahan di pintu menatap Tomi yang kini menyusul ki Martha berdiri.
"Kamu baik-baik saja?"
Tanya Iwan.
Tomi mengangguk lalu tersenyum.
Iwan langsung menghela nafas lega.
Keduanya saling bertukar senyum.
**-------------**
Tiga hari kemudian,
Iwan membawa mobilnya memasuki halaman rumah kontrakan baru Abangnya.
Rumah milik salah satu anggota Koperasi yang kebetulan kosong itu akhirnya disewa Tomi selama tugasnya di kota itu.
Beruntung memang Tomi langsung mendapat informasi dari AO yang dimiliki Koperasinya, dan sudah barang tentu menjadi rejeki Tomi karena rumah itu langsung diberikan oleh anggota dengan harga sewa yang cukup murah.
Ya, hanya delapan juta pertahun, itu sangat melegakan untuk Tomi.
Hari ini mereka resmi pindah setelah hari kemarin Iwan membereskan semua barang milik Tomi dan Nilam lalu membawanya ke rumah baru.
Rumah yang letaknya di tengah banyak rumah lain itu cukup besar, dan bangunannya mendapat penerangan cahaya matahari dengan baik.
Mobil yang dikendarai Iwan akhirnya berhenti di halaman, setelah berhenti Ibu turun lebih dulu karena duduk di depan.
Sementara Tomi yang duduk bersama Nilam membantu sang isteri untuk turun dari mobil dengan hati-hati.
"Nanti Ibu carikan asisten rumah tangga saja, biar Nilam tidak sampai capek, pokoknya dia harus banyak istirahat."
Tomi mengangguk.
"Iya Bu."
Kata Tomi.
"Kamu juga jangan sampai pulang malam dari kantor, sore usahakan langsung pulang supaya istrimu tidak sampai stres dan sakit."
Kata Ibu lagi.
Iwan turun dari mobil.
"Duh duh, calon Nenek, jagain Ibu cucunya sampe lupa ngomel di depan rumah."
Kata Iwan sambil menghampiri Ibunya.
Tomi dan Nilam jadi senyum-senyum.
Iwan memang berbeda dengan Tomi.
Mungkin karena Iwan anak bungsu dan sangat dekat dengan Ibu maka justru ngomongnya lebih bisa blak-blakan dan apa adanya.
Iwan menggandeng sang Ibu.
"Masuk dulu, ngomelnya bersambung di dalam saja, nanti ketahuan Ibu mertua yang cerewet kayak di sinetron."
Kata Iwan yang tentu saja langsung dapat tabokan bertubi-tubi dari Ibunya.
Tomi dan Nilam di belakang mereka jadi tertawa melihat keduanya.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah, harapannya tentu saja semua hal baik yang kini akan terjadi.
"Kamu mau makan apa hari ini? Kita delivery order saja ya."
__ADS_1
Kata Tomi pada Nilam.
Nilam mengangguk.
"Aku ingin makan ikan bakar yang dari tempat makan milik keluarga anaknya Ki Ageng Tirtayasa Bang."
kata Nilam.
Tomi mengangguk.
"Baiklah, apapun yang kamu mau sayang."
Ujar Tomi.
Nilam menyandarkan kepalanya ke lengan Tomi sambil berjalan masuk menuju kamar mereka.
"Oh iya Wan, yang nasi untuk dibagikan ke tetangga sudah pesan kan?"
Tanya Tomi pada Iwan.
"Sudah Bang, 80 kotak nasi lauk ayam bakar di warung padang."
Kata Iwan.
"Oke, nanti kamu yang atur."
"Siap lah pokoknya."
Iwan mengacungkan ibu jarinya.
Sementara itu,
Di luar rumah beberapa tetangga yang baru pulang dari warung saat lewat rumah yang baru ditempati Tomi terlihat kasak-kusuk.
"Ada yang berani nempatin lagi rumah ini ternyata."
"Iya, katanya manager Koperasi Simpan Pinjam dekat pasar yang kantornya gede itu."
"Ooh gitu... pasti orang jauh lagi ya."
"Iya orang Jakarta."
"Ooh makanya tidak tahu kisah pembunuhan yang ngontrak dua tahun lalu."
"Iya."
Dan...
T A M A T
💦💦💦💦💦💦
Ini buat kalian pecinta HOROR, othor masih punya banyak stok kisah perhantuan... Hihihi
Ini beberapanya...
Dan masih banyak lagi... wkwkwkk...
__ADS_1
See u di semua kisah lainnya ya