
Mendengar ada yang bicara dari arah belakangnya, Iwan segera menoleh.
Dan terlihat sosok perempuan None Belanda yang sangat cantik itu berdiri mengambang.
"Tidak! Tidak!!! Aku tidak memanggilmu, aku tidak pernah melibatkanmu!!"
Bik Surti menjawab kalimat Lestari yang membuat Ibu dan Pak Dadang serta Tomi dan Nilam yang akhirnya keluar dari kamar jadi memandang Bik Surti curiga.
"Hahahahaa..."
Lestari tertawa terbahak-bahak seraya melayang ke atas.
Matanya kemudian beralih pada Nilam di samping Tomi.
Tatapannya sengit menatap Nilam.
"Perempuan jahat itu mengambil Damar dan juga akan merobohkan rumahku!! Aku akan membuatnya gila!!"
Kesal Lestari.
Iwan yang mendengar jelas saja langsung bergerak seolah menghalangi Tomi dan Nilam dari Lestari.
Lestari menatap Iwan.
"Minggir kau!!"
Kata Lestari.
"Kau yang harusnya pergi, kenapa kau terus mengganggu kami!!"
Bentak Iwan.
Lestari tertawa.
"Mengganggu? Kalianlah yang mengganggu!! Dan perempuan itu! Aku membencinya!!"
Kata Lestari sengit menatap Nilam.
"Apa yang terjadi Wan... Apa yang terjadi?"
Ibu tampak kebingungan melihat Iwan bicara sendirian.
"Hantu itu pasti ada di sini Bu."
Tomi sambil celingak-celinguk karena tak bisa melihat sosok Lestari dengan mata kepalanya sendiri saat ini.
Di saat semua sedang melihat Iwan yang bersikap seperti ribut dengan seseorang, Bik Surti diam-diam menjauhi mereka semua.
Ia bergerak pergi menuju ruang dalam untuk melarikan diri.
Lestari yang melihat Bik Surti pergi langsung beralih mengejar.
"Hey!!'
Iwan tak mau kalah, ia melompat mengejar Lestari, rasa takutnya kini benar-benar hilang karena diganti rasa penasaran yang sangat tinggi.
Sudah tak bisa dibiarkan, jika tidak semua akan kacau, semua akan berantakan.
Batin Iwan.
Iwan berlari ke ruang dalam juga mengejar Lestari.
Namun alih-alih Lestari yang terkejar, Iwan justeru mendapati Bik Surti yang sedang akan keluar dari pintu belakang.
"Bik Surti!!"
Iwan memanggil Bik Surti, tapi Bik Surti mana mau berhenti.
Perempuan paruh baya itupun keluar dari rumah dari pintu belakang dan lari ke arah jalanan kampung.
Iwan terus mengejar, namun tiba-tiba sesuatu seperti menarik Iwan dari belakang, membuat tubuh Iwan terpelanting ke belakang.
Iwan berusaha bangun tapi kembali terjatuh.
__ADS_1
Bik Surti berlari semakin jauh, dan kemudian menghilang dari pandangan.
Iwan meninju tanah di dekatnya, kesal dan gemas bercampur menjadi satu.
Sudah jelas dia yang membuat semuanya. Batin Iwan.
Dan...
"Hihihihi... Hihihi..."
Terdengar suara cekikikan perempuan di atas pohon Beringin besar di halaman itu, bersamaan dengan Iwan menengadahkan wajahnya ke atas hujan tiba-tiba mengguyur.
"Waaan... Iwaaaan..."
Iwan mendengar suara Ibunya memanggil, Iwan menoleh ke arah Ibunya dan terlihat sang Ibu yang keluar dari pintu depan.
Sedangkan Pak Dadang yang tadi menyusul Iwan keluar terlihat muncul dari arah samping rumah karena keluar dari pintu belakang.
Tomi sendiri dan Nilam berdiri di belakang Ibu, melihat Iwan yang kini berdiri lalu dibantu Pak Dadang menuju rumah.
Tubuh Iwan terlihat basah kuyup, bagian celananya bahkan kotor terkena tanah.
"Sudah Iwan bilang, Bik Surti dalang dari semua ini."
Kata Iwan.
Ibu menghela nafas.
"Ya sudah kamu masuklah dulu."
Kata Ibu.
Nilam yang masih tak bisa percaya Bik Surti tega sengaja menerornya selama ini terlihat menatap nanar jalanan kampung di depan sana.
"Benarkah? Benarkah Bik Surti sejahat itu?"
Gumam Nilam.
Tomi juga rasanya masih sulit percaya, ia menatap Pak Dadang yang menggeleng menandakan ia tak tahu apa-apa.
Semua masuk ke dalam rumah, Tomi sejenak menatap pohon besar di depan rumah.
Benarkah Bik Surti yang sengaja membuat pohon dan rumah ini angker? Kenapa? Lalu Ki Marta?
Tomi terus bertanya-tanya dalam hati. Bingung ia rasanya memikirkan semuanya.
**---------------**
Hujan mengguyur deras. Bik Surti masih berlari menyusuri jalanan menuju jalan besar.
Ia harus segera menemui seseorang, dan minta pertolongannya.
Bik Surti sambil berlari mencari tempat berteduh untuk nantinya ia akan menelfon orang yang akan ia temui, berharapnya orang itu mau menjemputnya.
Namun belum lagi Bik Surti menemukan tempat untuk berteduh, tiba-tiba ia melihat sosok perempuan dengan gaun berenda berdiri di tengah jalan.
Perempuan itu seolah menghadang Bik Surti.
"Hah... Lestari, pergiii... Pergi kauuuu..."
Bik Surti lari berbalik arah, bingung mencari jalan lain karena jika ia teruskan pasti akan kembali ke rumah Tomi dan bisa jadi Iwan masih menunggu di sana.
Iwan, adik majikannya itu jelas sekali sangat mencurigai Bik Surti. Rasanya Bik Surti bahkan tak mampu mengelak manakala Iwan terus mencecarnya dengan semua tuduhannya.
Meski tak sepenuhnya Iwan benar, tapi nyatanya Bik Surti memang melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan.
Bik Surti berlari seraya melihat ke belakang, berharap Lestari tak mengejarnya.
"Sudah kubilang aku tak melibatkanmu, aku tak pernah berniat melibatkanmu maupun Mang Dayat."
Bik Surti bergumam-gumam.
Langit terus mencurahkankan hujan, petir di langit menyambar-nyambar bagaikan cemeti api.
__ADS_1
"Hihihi... Hihiii... Surtiii... Berani-beraninya kau membuangku!"
Tiba-tiba saja suara itu terdengar seiring dengan sesuatu menyambar tubuh Bik Surti hingga limbung ke sisi jalan.
Bik Surti berguling ke dekat parit, belum lagi Bik Surti bangun dari posisinya, Lestari tiba-tiba muncul, ia melayang mendekati Bik Surti.
"Aku yang sejak lama berada di sana, aku yang berkuasa di rumah itu, kau mencoba mengusikku dengan mendatangkan hantu lain, hahahaha..."
Lestari tertawa.
Perempuan dengan gaun berenda warna putih itu terus mendekati Bik Surti, tangannya terulur ke arah Bik Surti.
"Ampuun... Ampuun... Baik Ampun, ampuni saya..."
Bik Surti menghiba, tapi mana mau tahu Lestari dengan Bik Surti.
"Kau juga berencana mencelakakan Damarku, ya kan? Berani-beraninya kau Surti!!"
"Dia bukan Damar, dia Tomi, dia bukan Damar, sadarlah!!"
Bik Surti menatap Lestari yang mendelik dengan kedua matanya yang terbalik.
"Dia titisan Damar, aku sudah lama menunggunya, aku sudah lama menunggunya."
Kata Lestari.
Bik Surti menggelengkan kepalanya.
"Kau masih saja menunggu laki-laki yang membunuhmu."
Kata Bik Surti.
"Diam kau Surti!!"
"Tanyakan saja pada Mang Dayat, bukankah dia juga ada di sekitar sana, kau harusnya tahu jika kau mati dibunuh kekasihmu sendiri!!"
"Lancang!!"
Lestari marah luar biasa.
Ia mengangkat batu besar tanpa menyentuhnya.
Batu besar yang ada di dekat parit itu melayang, dan ditimpakannya ke arah kepala Bik Surti.
Kepala Bik Surti seketika pecah, darah bersimbah dimana-mana.
Lestari tertawa.
"Hahahaha... Hahahaa..."
"Kau mencoba memanggil hantu baru, tapi kau membuatku jadi kesal. Perempuan jahat sepertimu memang harus dienyahkan."
Kata Lestari.
Perempuan dengan gaun berenda itu melayang lagi, menembus hujan deras yang tentu saja tak jadi soal untuknya.
Tak jauh dari pohon besar yang tumbuh di halaman rumah, terlihat sosok laki-laki mengenakan baju hitam-hitam dengan ikat kepala.
Baju model jaman dulu.
Laki-laki itu melipat tangannya di dada, menatap jalanan kampung yang sunyi dan basah diguyur hujan deras.
"Sudah kuingatkan, tapi dia tetap nekat, hanya demi janji manusia, yang padahal mereka tak selalu sepenuhnya mau menepati."
Laki-laki itu seolah bicara dengan titik-titik hujan yang turun dari langit.
(ni hantu konslet ngomong sendirian)
💦💦💦💦💦
Di sela akoh kerja menyempatkan diri ngetik buat kalian, sungguh mengharukan bukan? Huahahahahaa
__ADS_1