Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
27. Kenyataan Pahit


__ADS_3

Siang ini matahari terlihat begitu redup, mendung menggelayut di wajah-wajah langit seolah tengah bersedih.


Damar dan Samsul telah selesai dengan tugasnya mengumpulkan buah nangka sesuai perintah Ki Gedhe Tirtayasa.


"Kita pulang sekarang saja Sul, sepertinya akan hujan deras, takutnya akan banjir besar lagi, bisa-bisa kita terjebak di sini tidak bisa pulang."


Kata Damar.


Samsul mengangguk mengiyakan.


Mereka pun segera mengikat memasukkan nangka-nangka hasil panenan mereka ke dalam keranjang yang kemudian di pukul Samsul.


Damar sendiri menggendong keranjang yang berisi beberapa sukun, pepaya, dan juga kacang panjang yang kebetulan juga terlihat sudah bisa dipanen.


Mereka berjalan menyusuri jalan menuju sungai.


Tampak aliran sungai sudah mulai keruh, terlihat di atas bukit dan gunung sepertinya hujan juga sudah mulai mengguyur.


Damar membiarkan Samsul menyebrang lebih dulu, sementara Damar berjalan di belakangnya.


Hingga kemudian begitu sampai ke tepi, mereka cepat naik ke dataran yang lebih tinggi dan memilih akan lewat jalan pintas saja.


"Mar, kau jadi akan bicara dengan Ki Gedhe Tirtayasa?"


Tanya Samsul.


Damar yang berada di belakang Samsul Langsung mengiyakannya tanpa ragu.


Gerimis mulai turun dibawa sapuan angin. Samsul dan Damar mempercepat langkahnya.


Hingga akhirnya mereka sampai di belakang padepokan, Damar langsung membukakan pintu untuk Samsul.


Tampak Samsul masuk sambil memikul dua keranjang penuh buah Nangka.


Samsul menurunkan pikulannya, yang kemudian disambut dua emban yang membantu di padepokan.


"Wah harum sekali Nangkanya."


Ujar salah satu Emban begitu menghampiri Samsul yang keranjangnya penuh buah nangka, dan salah satunya memang sudah ia belah lebih dulu di kebun."


"Manis sekali rasanya, bawa saja ke dalam."


Ujar Samsul.


Mereka tentu saja senang bukan main.


Dengan bersemangat mereka juga membantu membawa nangka-nangka dari keranjang.


Damar sendiri langsung membawa keranjangnya ke dapur dan meletakkannya di sana.


Ia tampak celingak-celinguk mencari sosok Lestari di dapur yang mana di sana tampak ada Nyi Esih sedang menggoreng ikan.


"Nyi."


Damar yang tak menemukan sosok Lestari, akhirnya memberanikan diri menghampiri Nyi Esih.


"Ah Bang Damar, sudah pulang?"


Sapa Nyi Esih.


Damar mengangguk.


Terlihat wajahnya lelah dan sepertinya juga lapar.


"Sebentar lagi siap makanannya. Tadi saya siapkan untuk keluarga Ki Gedhe Tirtayasa lebih dulu."


Kata Nyi Esih.


Damar mengangguk mengerti.


"Ngg... Nyi."

__ADS_1


Damar sebetulnya ragu dan juga malu hendak menanyakan soal Lestari pada Nyi Esih. Tapi, Damar penasaran karena Lestari tak terlihat.


Apa mungkin dia sakit? Atau dia sedang belajar? Atau sedang makan bersama keluarga Ki Gedhe Tirtayasa di dalam?


Nyi Esih yang sejatinya tahu betul jika Damar ingin menanyakan perihal Lestari tampak menghela nafas.


Lalu...


Nyi Esih mengangkat ikan dari penggorengan dan memasukkan dua ikan lagi ke dalam penggorengan, tampak kemudian menoleh pada Damar.


"Bang Damar cari Lestari?"


Dan pertanyaan itu membuat Damar seketika terkesiap, wajahnya sedikit memerah, namun berusaha sekuat tenaga menekannya.


"Pagi tadi Lestari dipindahkan ke Losari, ke tempat anak bungsu Ki Gedhe Tirtayasa."


Tutur Nyi Esih.


Mendengar penuturan Nyi Esih, tentu saja Damar terkejut.


Apa?


Pindah?


Kenapa tiba-tiba?


Kenapa begitu mendadak?


"Apa ada orang Jepang datang mencari Lestari?"


Tanya Damar.


Nyi Esih menggeleng.


"Entahlah Bang Damar, saya tidak tahu pasti, Lestari juga tidak bicara apa-apa, sepertinya dia juga sangat terkejut, bahkan ia menangis sejak berkemas dan hingga tadi dijemput utusan dari Losari."


Damar mengepalkan tangannya.


Apalagi saat kemudian Nyi Esih bicara lagi.


Damar matanya meremang, membayangkan kekasih hatinya menunggunya membuat hati Damar begitu terluka.


Damar kemudian tanpa bicara apapun lagi pada Nyi Esih tampak bergegas keluar dari dapur.


Langkah Damar begitu cepat, ia bahkan tak menghiraukan Samsul yang berpapasan dengannya saat akan masuk ke dalam bangunan utama padepokan Ki Gedhe Tirtayasa di mana saat ini Ki Gedhe Tirtayasa pasti baru saja selesai menikmati santap siangnya.


Sementara itu, di luar sana hujan mulai turun deras.


"Mau ke mana Bang Damar?"


Tiba-tiba suara isteri Ki Gedhe Tirtayasa terdengar dari arah belakang Damar.


Wanita paruh baya itu terlihat menghampiri Damar.


"Saya ada penting dengan Ki Gedhe Tirtayasa."


Sahut Damar.


Isteri Ki Gedhe Tirtayasa tersenyum,


"Oh yah tentu saja, beliau ada di tempat belajar."


Kata isteri Ki Gedhe Tirtayasa.


Damar mengangguk, lalu bergegas menuju ruangan di mana Ki Gedhe berada.


Sejenak Damar mengetuk pintu kayu ruangan Ki Gedhe Tirtayasa, setelah mendengar sahutan dari dalam, barulah Damar membuka pintu ruangan tersebut.


Tampak Ki Gedhe Tirtayasa duduk sila di depan meja pendek yang di atasnya terdapat sebuah buku tebal berbahasa Belanda.


Damar memberi salam, setelah itu pemuda tampan tersebut duduk di hadapan Ki Gedhe Tirtayasa.

__ADS_1


"Ada apa nak Damar?"


Tanya Ki Gedhe Tirtayasa pura-pura tak tahu apa tujuan Damar menemuinya siang ini.


"Maaf Ki, saya merasa harus langsung menanyakan ini kepada Ki Gedhe."


"Soal apa nak Damar?"


Ki Gedhe Tirtayasa menutup buku yang tengah ia baca, dan memilih fokus bicara dengan Damar.


"Lestari, kenapa tiba-tiba Ki Gedhe memindahkannya ke Losari?"


Tanya Damar akhirnya tanpa basa-basi lebih banyak.


Ki Gedhe Tirtayasa yang tentu saja sudah tahu Damar menemuinya hanya untuk masalah Lestari tampak tersenyum.


"Saya minta maaf Nak Damar, karena saya harus melakukannya."


Ujar Ki Gedhe Tirtayasa tak berusaha menutupi soal apa yang telah menjadi keputusannya.


Damar mengerutkan kening.


"Saya tahu anda jatuh cinta kepada gadis itu, dan saya sangat maklum jika anda sampai jatuh cinta kepada Lestari mengingat kecantikannya yang memang akan diakui siapapun yang melihatnya."


Ujar Ki Gedhe Tirtayasa.


Damar tampak tergetar, dadanya kini terasa berdegup lebih kencang.


Ia sungguh tak menyangka jika Ki Gedhe Tirtayasa sangat cepat menyadari hal itu.


Tapi, apa alasannya membuat keputusan memindahkan Lestari ke Losari hingga membuat jarak antara Damar dengan Lestari jadi terbentang jauh.


"Saya ingin menikahinya Ki."


Kata Damar.


Ki Gedhe Tirtayasa mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Saya sungguh-sungguh ingin menikahinya, saya akan bicara dengan Ayah."


Ujar Damar pula.


Ki Gedhe Tirtayasa menatap Damar dengan tatapan yang sulit diartikan Damar.


Namun...


"Anda lebih baik tidak perlu memikirkan Lestari lagi, kembalilah fokus dengan tugas anda di sini belajar banyak hal dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk meneruskan Tuan Ageng Parta Prawira."


Kata Ki Gedhe Tirtayasa.


Damar tercekat.


"Tapi Ki..."


Damar baru akan bicara, namun tampak Ki Gedhe Tirtayasa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Percuma anda berusaha seperti apapun, Lestari sudah ada yang memiliki Nak Damar."


Bagai disambar petir, Damar matanya terbelalak menatap Ki Gedhe Tirtayasa.


"Si... Siapa Ki? Siapa yang bisa memiliki gadis seperti Lestari? Pangeran mana? Atau pemuda dari mana?"


Tanya Damar dengan dada yang terasa terbakar karena cemburu yang teramat sangat.


Ki Gedhe Tirtayasa menghela nafas.


"Lestari..."


Ki Gedhe Tirtayasa seperti begitu berat mengatakannya, namun ia harus memberi tahu Damar agar pemuda itu bisa berusaha berhenti mengharapkan Lestari lagi.


Dan...

__ADS_1


"Lestari akan dinikahi Tuan Ageng Parta Prawira setelah usianya tujuh belas tahun nanti."


**--------------**


__ADS_2