
Tahun 2021,
Iwan yang baru saja menyelesaikan makan dengan Ibunya dan kakak iparnya kini terlihat sibuk bebenah di ruang kerja Tomi, yang juga akan sekaligus menjadi tempat ia menginap untuk beberapa hari ke depan.
Ibunya tadi telah membicarakan tentang niatnya untuk tinggal sedikit lebih lama agar bisa menemani Nilam dan Tomi hingga nanti masalah Lestari benar-benar sudah selesai.
Iwan sendiri merasakan energi di dalam rumah yang ditinggali kakaknya ini memang cukup mengganggu.
Bahkan sejak pertama ia memasuki halaman rumah, ia sudah bisa merasakannya dengan jelas.
Apalagi setelah Ibunya dan kakak iparnya menceritakan semuanya, Iwan semakin bisa memastikan jika rumah ini memang tidak beres.
Ada sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu di sana, jelas sekali Iwan bisa merasakannya.
Aroma darah, rintihan, dan sekelebat gambaran pembantaian orang-orang Belanda seolah terbayang jelas di mata Iwan.
Iwan membongkar tas ranselnya dan mengeluarkan beberapa pakaian yang ia bawa, di letakkannya di salah satu box plastik kosong milik sang kakak.
Iwan duduk di sofa bed di dalam ruang kerja Tomi, lalu memeriksa hp nya.
Ada beberapa pesan masuk, salah satunya adalah dari Tomi yang menanyakan apakah Iwan sudah sampai atau belum dan bagaimana keadaan di rumah.
[Aku sudah sampai Bang, rumah baik-baik saja]
Tulis Iwan.
Ah Iwan jadi ingat cerita Ibunya lagi, bagaimana hantu itu mengganggu sejak Tomi dan Nilam sampai, lalu terus menerus melakukan teror.
Menurut keterangan Ki Marta, hantu none Belanda bernama Lestari itu telah dipindahkan ke tempat jauh dari rumah dan bisa jadi tak akan bisa kembali dalam waktu dekat.
Namun, itu bukan berarti semua sudah benar-benar aman, karena kemungkinan ia kembali juga masih ada.
Dan yang ditakutkan, hantu itu setelah kembali akan melakukan teror yang lebih mengganggu Nilam dan Tomi.
[Wan, malam nanti Abang ingin bicara]
__ADS_1
Tulis Tomi.
[Ya Bang, siap]
Balas Iwan cepat.
Setelah membalas pesan Tomi, tampak Iwan beralih membalas pesan masuk lainnya, termasuk dari pacarnya.
Sementara itu, di luar ruang kerja Tomi di mana Iwan kini sedang sibuk berbalas chat dengan pacarnya, Nilam dan Ibunya Tomi baru saja dari ruang dalam dan akan menuju ruang depan untuk duduk di sana.
Mereka sedang membicarakan soal rencana menebang pohon besar di depan rumah yang Nilam dan Tomi tempati.
"Sepertinya idemu benar Nilam, akan lebih baik jika pohon itu ditebang saja. Coba kamu tanya pada Bu Har pemilik warung depan, siapa tahu punya kenalan yang bisa dimintai tolong menebang pohon."
Tampak Nilam mengangguk mengerti.
"Tapi kita sebaiknya tak perlu bicara dengan Bik Surti maupun Bang Tomi, Bu, karena pasti tidak akan setuju."
Ujar Nilam.
"Ya Nilam, biar saja nanti mereka tinggal terima beres."
Kata Ibunya Tomi yang dijawab anggukan Nilam.
Keduanya menatap pohon beringin yang begitu besar di halaman rumah tersebut.
Pohon yang Nilam yakini menjadi tempat tinggal hantu Lestari dan bisa jadi hantu lainnya.
Ah Nilam sungguh membenci pohon besar itu, dan Nilam ingin segera menyingkirkannya agar semua peristiwa menakutkan yang membuatnya menjadi merasa hidup tak tenang bisa cepat berakhir.
**---------------**
"Lestari? Saya malah baru tahu ada hantu di rumah itu Pak Tomi."
Kata Pak Irfan dari sambungan telfon saat Tomi akhirnya bisa menghubunginya setelah berulang kali mencoba namun dialihkan.
__ADS_1
Tomi menghela nafas.
Ya, tentu saja Pak Irfan tak sampai mengenal hantu bernama Lestari karena ia tak tinggal di rumah yang disediakan oleh pihak kantor untuk Manager.
"Ya baiklah Pak Irfan, nanti saja saya hubungi kembali."
Tomi mengakhiri panggilannya.
Laki-laki muda itu tampak sekali tengah diselimuti kegelisahan sepanjang hari ini.
Rasanya apa yang terjadi dan apa yang dikatakan Ki Marta terus saja terngiang di telinganya.
Kini Tomi seperti harus memecahkan sebuah teka-teki yang sungguh rumit.
Teka-teki terkait dengan Lestari dan masa lalunya, yang entah apa itu.
Tomi berdiri di balik kaca jendela ruangan nya, menatap kembali ke tempat di mana hari kemarin ia melihat sosok hantu itu berdiri di sana.
Ah ya benar...
Lestari, kemarin pagi ia berdiri di sana, hari di mana ia mendapatkan Bunga Sedap malam, dan juga Nilam di kamar juga melihat banyak bunga sedap malam.
Kenapa bunga sedap malam?
Kenapa aku?
Tomi pandangannya menerawang jauh.
Hingga tiba-tiba, sebuah angkutan berhenti di seberang sana, seolah menurunkan seseorang.
Dan ketika angkutan itu bergerak menjauh, sosok yang baru turun itupun terlihat berdiri.
Sosok dengan gaun putih, memegangi bunga sedap malam, lalu melambaikan tangannya ke arah Tomi dari tempatnya berada sambil menyeringai.
**--------------**
__ADS_1