Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
56. Pesaing Busuk


__ADS_3

"Bang, bangun... Bang!! Bangun!! Sadarlah..."


Terdengar suara Iwan dan terasa tepukan tangannya di pipi Tomi.


Tampak Tomi terbangun, membuka matanya dan kebingungan manakala dilihatnya Iwan berjongkok di dekatnya, dan banyak orang mengerumuni dirinya.


Tomi kemudian duduk dan terlihat celingak-celinguk melihat sekelilingnya adalah tanah lapang.


Tampak kemudian Tomi menatap Iwan dalam keadaan bingung.


"Di mana? Aku ada di mana?"


Tanya Tomi.


"Ini kaplingan tanah kosong dekat pemakaman Belanda tak jauh dari rumah Koperasi."


Jawab Iwan.


Tomi yang mendengarnya kembali celingak-celinguk, kepalanya pusing dan berat.


"Bawa ke klinik dulu saja Bang, itu kakaknya banyak luka-luka."


Seorang pemuda bicara pada Iwan.


Iwan mengangguk, lalu membantu Tomi berdiri dan memapahnya.


Beberapa orang membubarkan diri dan pemuda yang menyarankan Tomi di bawa ke klinik mengiringi Iwan dan staf kantor koperasi yang membawa Tomi menuju mobil.


Sampai di mobil dan Tomi sudah masuk ke mobil, Iwan akhirnya mengucapkan banyak terimakasih pada si pemuda.


"Di kaplingan itu memang ada yang nunggu, katanya sih pasangan Jin putih, banyak yang ditolong, terutama anak-anak yang kadang suka mau tenggelam di sungai."


Kata si pemuda.


Iwan mantuk-mantuk.


Iwan lalu permisi untuk segera membawa Tomi ke klinik yang sama dengan Kak Nilam kini berada.


Pemuda itu mengangguk.


Iwan masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.


"Lestari itu, jika memang ada keterkaitan dengan keluarga kalian, lebih baik minta maaf dan biarkan dia pergi dengan tenang."


Kata pemuda itu sebelum Iwan akhirnya benar-benar pergi setelah mengiyakan sarannya dan kembali berterimakasih.


Sepeninggal Iwan, pemuda itu tiba-tiba berubah menjadi sosok laki-laki pemulung yang ditemui Tomi.


Ia tersenyum memandang kepergian mobil Iwan, lalu iapun menghilang.


**---------------**


Di tempat lain, seorang laki-laki terlihat sedang sibuk menandatangani beberapa akad para anggota, ketika tiba-tiba pintu ruangannya terbuka pelahan.


Laki-laki yang semula sedang sibuk itupun akhirnya menoleh ke arah pintu, dan begitu laki-laki itu menoleh, terlihat pintu itu menutup lagi.

__ADS_1


Aroma anyir kemudian tercium memenuhi ruangan manakala pintu itu tertutup.


Laki-laki tersebut meletakkan pulpennya. Matanya terus menatap pintu ruangan.


Jelas ada yang tidak beres.


Jantungnya kini berdetak jauh lebih cepat dari biasanya, bulu kuduknya juga entah kenapa tiba-tiba saja terasa merinding.


Lalu...


Pintu itu terbuka pelahan lagi.


Lama, pintu itu seolah di pegangi tangan yang tak terlihat.


"Siapa?"


Tanya si laki-laki masih dari posisinya duduk di depan meja kerja ruangannya.


Sepi.


Hening.


Tak ada jawaban.


Laki-laki itupun pelahan akan berdiri dari duduknya, namun tiba-tiba saja sebuah tangan menarik kakinya di bawah kolong meja.


Kaget luar biasa, laki-laki itu menoleh ke bawah meja, dan di sana...


"Hah... tidak!! Siapa kau? Tidak..."


"Pak Irfan... Pak Irfan."


Laki-laki yang tak lain adalah Pak Irfan itu ketakutan setengah mati melihat perempuan yang kepalanya hancur itu keluar dari kolong meja kerjanya.


Pak Irfan berusaha bangun lagi dan akan lari ke arah pintu, namun pintu itu tiba-tiba menutup dengan keras.


Brak!!


Pak Irfan semakin ketakutan, sambil melihat hantu perempuan yang keluar dari kolong meja kerjanya kini merangkak mendekatinya, Pak Irfan juga merangkak cepat menuju pintu.


Sayangnya pintu itu seolah terkunci saat Pak Irfan telah menjangkau handuknya dan hendak keluar.


"Pak Irfan, katamu risiko ini kau yang akan menanggung, kenapa justeru aku yang dicelakai dan kau pura-pura tak kenal aku?"


Hantu perempuan itu bertanya dengan suaranya yang terdengar begitu mengerikan.


"Bukankah kau yang sebetulnya mendalangi semuanya? Kenapa kau tak menolongku? Kenapa kau kini seolah berlepas tangan dan pura-pura tak tahu apa-apa?"


Perempuan yang kepalanya hancur itu terus mendekat dan terus mendekati Pak Irfan.


"Jenazahku bahkan dikebumikan tanpa ada yang menjenguk sama sekali. Sungguh kau ternyata orang yang sangat jahat Pak Irfan."


Kata si hantu.


"Diam... Aku... Aku tak tahu apapun, aku tak tahu apapun."

__ADS_1


Pak Irfan teriak-teriak.


Hantu perempuan itu menyeringai.


"Katamu rumah itu bisa aku tempati jika Tuan Tomi menyerah dan hengkang dari kota ini, katamu kau ingin dia tak sampai mendapatkan posisi yang akan bisa lebih baik, katamu aku hanya perlu membuatnya tak betah dan menggangunya, tapi..."


Pak Irfan terus berusaha membuka pintu ruangannya agar bisa keluar dari sana, tapi tetap saja pintu itu seolah tak mau dibuka.


"Kau harusnya sama-sama mati denganku. Gara-gara kau, Lestari yang sudah lama tenang jadi muncul kembali, kau harus ikut mati denganku Pak... Kau harus ikut mati karena kau yang harusnya paling bertanggungjawab dengan apa yang terjadi pada Tuan Tomi."


Hantu perempuan Bik Surti itu kembali merangkak menuju Pak Irfan yang ketakutan setengah mati sambil berpegangan handle pintu.


"Ampun Biiik, ampuuun... Aku mana tahu akan begini akhirnya, aku tidak tahu jika Lestari sungguhan ada dan ternyata bisa begitu jahat. Maafkan aku Bik... Tolong lepaskan saya, nanti saya akan bantu rumah itu menjadi milikmu."


Kata pak Irfan sambil gemetaran.


"Terlambat! Aku tak membutuhkan rumah itu lagi!!"


Suara hantu Bik Surti menggema. Pak Irfan tangannya rasanya semakin lemas memegangi handle pintu.


"Jangan bunuh aku Bik... aku mohon jangan bunuh aku, kasihan anak-anakku."


Pak Irfan merintih.


Hantu Bik Surti itu bergerak semakin dekat, hingga begitu batas mereka tinggal satu meter saja, tiba-tiba...


Hantu Bik Surti menghilang, membuat Pak Irfan celingak-celinguk.


Pak Irfan menghela nafas, sepertinya hantu Bik Surti hanya menggertak saja.


Pak Irfan baru akan membuka pintu ruangannya untuk keluar dari kantor sebentar serta menanyakan kabar Tomi ke kantor lama.


Ah ya, Tomi memang sejak dulu adalah saingannya, tapi ia jelas lebih junior daripada Pak Irfan.


Herannya karir Tomi sangat cepat naiknya, bahkan setelah SK nya sebagai manager cabang di tempat yang sebetulnya Pak Irfan sudah betah itu, tiba-tiba ada selentingan kabar jika ia bisa naik lagi setelah menyelesaikan tugasnya sebagai manager cabang dengan baik.


Ah tidak bisa, tentu saja Pak Irfan harus menjegalnya agar Tomi tak bisa sukses di tempat ia saat ini memimpin.


Pak Irfan memutar handle pintu untuk membuka pintu tersebut, cepat ia berdiri dan berjalan keluar menuju tangga untuk turun ke lantai satu.


Namun begitu langkahnya baru akan menapaki anak tangga pertama, sesuatu menimpa kepalanya.


Ya, sebuah kursi kayu melayang menghantam kepala pak Irfan, membuat tubuh Pak Irfan limbung dan berguling di atas tangga kantor.


Semua orang menjerit histeris saat kemudian melihat Pak Irfan terkapar di lantai, sekarat sambil mendelik takut melihat hantu Bik Surti berdiri mengambang di tangga.


Hantu Bik Surti menyeringai.


"Kau juga harus merasakan yang sama denganku."


Kata hantu Bik Surti.


Orang-orang membantu menyelamatkan Pak Irfan, namun sebelum ambulance datang ia sudah tak bernafas lagi.


💦💦💦💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2