Kisah Hantu LESTARI

Kisah Hantu LESTARI
59. Pertemuan


__ADS_3

Hari akhirnya berganti malam, Ki Martha keluar dari kamar Bik surti dengan satu gelas air putih yang telah ia selesai mantrai.


Asisten Ki Martha telah menyiapkan satu bak air yang dicampur kembang tujuh rupa di kamar mandi, sementara Tomi diminta hanya memakai kain sebagaimana pengantin akan melakukan proses siraman.


Tomi berjalan ke kamar mandi, perasaannya sejatinya tak karuan, tapi bagaimanapun ia sudah menyanggupi apa yang diperintah Ki Martha, maka ia jelas tak bisa mengelak saat ini.


Ki Martha memberikan gelas air yang telah ia mantrai pada sang asisten.


Asisten Ki Martha mengambilnya untuk kemudian di campurkan pada air di dalam bak yang telah diberi bunga tujuh rupa.


Iwan sendiri seharian diminta mencari bunga sedap malam untuk diletakkan di dalam kamar Tomi.


Bunga sedap malam, yang aromanya begitu disukai Lestari karena menyimpan banyak kenangan dengan Damar sang kekasih hati.


Tomi melangkah masuk kamar mandi dan duduk di kursi kayu yang diambil dari ruang makan.


Ki Martha menyusul Tomi masuk ke dalam kamar mandi, lalu mengambil gayung untuk memulai ritual memandikan Tomi dengan air kembang tujuh rupa.


Sambil memandikan Tomi, Ki Martha terlihat komat-kamit membaca mantera.


Tomi memilih memejamkan mata, memasrahkan diri melewati semua proses yang mungkin memang harus ia jalani demi terputusnya seluruh ikatannya dengan hantu Lestari.


Satu siraman telah mulai membasahi tubuh Tomi dari atas kepala. Aroma bunga tujuh rupa dan juga asap kemenyan yang dibakar di setiap sudut rumah membuat suasana terasa begitu mistis.


Hampir tujuh siraman yang disiramkan Ki Martha pada tubuh Tomi, hingga akhirnya Ki Martha memanggil asistennya untuk membawa Tomi menuju kamarnya agar salin lebih dulu.


Salin pakaian yang disiapkan asisten Ki Martha.


Tomi mengikuti langkah asisten Ki Martha menuju kamarnya, Iwan tampak berada di sana baru selesai menata bunga sedap malam.


"Sabar Bang, semua akan segera berlalu, dan akan kembali normal, anggap saja ini sudah takdir untuk membantu kakek Damar menebus kesalahannya."


Kata Iwan.


Tomi mengangguk.


"Ya, aku akan berusaha kuat demi Nilam."


Kata Tomi.


Iwan menepuk dua bahu Abangnya, lalu ia keluar dari kamar.


Asisten Ki Martha menunjuk setelan putih yang telah disiapkan olehnya agar nanti dipakai Tomi, tampak Tomi mengangguk.


Setelah asisten itu memastikan memberitahu Tomi semua cara yang harus Tomi lakukan, akhirnya asisten Ki Martha itupun pamit keluar juga dari kamar.


Tomi menghela nafas.


Tubuhnya yang basah terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.


Ia merasa begitu asing di kamarnya.


Tomi kemudian memulai semua tata cara yang diberikan asisten ki Martha padanya.


Hingga akhirnya ia selesai memakai setelan baju putih pemberian Ki Martha, dan membaca semua yang diberikan Asisten Ki Martha, Tomi kemudian mengetuk pintunya menandakan ia telah siap.


Ki Martha pun yang menunggu di luar kamar kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Matikan lampunya."


Kata Ki Martha.

__ADS_1


Tomi tercekat.


Kenapa harus dimatikan? Ini terlalu menakutkan. Batin Tomi.


Tapi, asisten Ki Martha tentu saja tak membutuhkan persetujuan Tomi, ia langsung saja mematikan lampu di kamar Tomi, dan membuat kamar itu seketika gelap gulita.


Asisten Ki Martha kemudian menyalakan dua lilin dan diletakkan di atas tikar yang telah digelar di lantai.


Ki Martha duduk bersila di sana.


Tomi diminta ikut duduk berhadapan dengan Ki Martha.


Aroma bunga sedap malam tercium semerbak bercampur dengan aroma kemenyan.


"Tuan Tomi ikuti semua petunjuk saya, lakukan dengan sungguh-sungguh ingin membantu Kakek anda menyelesaikan apa yang belum selesai dengan mendiang kekasihnya."


Kata Ki Martha.


Tomi mengangguk pelan.


Bulu kuduknya kini mulai meremang, dadanya berdebar membayangkan banyak hal buruk yang bisa saja terjadi.


Tapi...


Tidak!


Tomi sudah membulatkan tekad untuk menyelesaikan semuanya.


Ia sudah sampai ke titik ini, tak mungkin ia menyerah sekarang.


Ki Martha meminta asistennya untuk keluar dan meninggalkan mereka berdua.


Sang asisten kemudian keluar dari kamar dan menutup pintu kamar Tomi hingga kamar kini benar-benar hanya ada cahaya dari dua lilin saja.


Tomi diminta memejamkan mata dan mulai mengosongkan pikiran.


Hingga, makin lama kepala Tomi pun terasa semakin berat dan pusing, tubuhnya panas dan juga dingin dalam waktu bersamaan.


Tomi pelahan mulai kehilangan kesadaran, saat kemudian ia sayup mendengar suara perempuan memanggil nama Damar.


"Bang Damar... Bang Damar, kau kah ini Bang..."


Suara itu terdengar lembut di telinga.


Suara seorang gadis yang seolah menahan rindu sekian lama.


Seiring dengan itu terasa seperti ada angin berhembus menerpa ke arah Tomi, menerbangkan aroma Bunga Sedap Malam yang begitu harum menyengat.


Dan...


Sekian detik berikutnya Tomi mulai merasa ada batu besar yang menindih kepalanya, makin lama batu itu semakin menindihnya secara sempurna dan akhirnya Tomi kehilangan kesadaran sepenuhnya.


Namun...


Mata Tomi terbuka tiba-tiba, tatapannya tertuju ke depan Tomi di mana saat ini duduk seorang gadis cantik dengan rambut pirang panjang tergerai indah.


Mata Tomi seketika berkaca-kaca.


"Lestari... Kau kah ini?"


Tomi bertanya dengan suara bergetar.

__ADS_1


Suara yang seolah memendam begitu banyak rasa yang bercampur aduk hingga sang pemilik rasa pun tak mampu menjabarkannya dengan kata-kata.


Lestari menangis, tangisnya bukan lagi hanya air mata namun juga bercampur dengan darah.


Tomi meraih Lestari dan memeluknya dengan erat.


"Maaf... Maafkan aku..."


Suara itu terdengar lagi keluar dari Tomi.


Bukan...


Itu bukan suara Tomi, tapi suara Damar, kakek Tomi yang telah lama tiada.


"Kenapa kau minta maaf Bang, aku tak apa lelah menunggu, aku tahu kau pasti akan datang, aku tahu kau pasti akan datang."


Lestari menangis dalam air mata darah yang kini membasahi seluruh wajahnya.


Damar di dalam tubuh Tomi mengeratkan pelukannya.


"Kau sungguh mencintaiku sedemikian besar rupanya Lestari, hingga apa yang kulakukan padamu juga kau melupakannya. Maafkan aku, sungguh aku minta maaf."


Damar jadi ikut menangis.


Dadanya begitu sakit, sungguh ia rasanya jika bisa mengulang masa lalu maka ia lebih memilih mati bersama Lestari juga.


"Kau laki-laki pertama dalam hidupku Bang, laki-laki pertama yang membawa hatiku, kau pasti tahu bagaimana aku mempercayai mu hingga aku menunggumu selama ini."


Kata Lestari.


Damar mengelus rambut kepala Lestari dengan penuh kasih sayang.


"Jika kau ku ajak pergi, apakah kau juga tak akan menolak Lestari?"


Tanya Damar.


"Pergi ke manapun aku akan selalu ikut Bang, aku menunggumu karena aku ingin pergi denganmu."


Kata Lestari.


"Tapi..."


Damar melepaskan pelukannya sejenak, ditatapnya wajah cantik Lestari yang kini dibasahi air mata darah.


Dengan lembut, Damar mengusap air mata darah itu dari wajah sang kekasih.


"Jika aku mengatakan yang sebenarnya, apa kau masih akan tetap mau ikut denganku?"


Tanya Damar akhirnya.


Lestari tampak terdiam, menatap Damar dengan bingung.


Lalu...


💦💦💦💦


KISAH HANTU LESTARI sebentar lagi TAMAT ya Gaes...


Tapi tenang, Cilamici sudah menyiapkan penggantinya...


Kisah misteri yang lumayan absurd juga hihihi... Dan ada nama kalian yang akan muncul di setiap bab nya...

__ADS_1


hayuk hayuk... nama siapa saja yaaaaa... wkwkwk



__ADS_2